Artikel

Amalan-Amalan Penghapus Dosa ini Bukti Luasnya Rahmat Allah

Oleh: Ustadz Budi Eko Prasetiya, SS

Setiap Manusia, siapapun orangnya pasti tidak akan luput dari perbuatan dosa. Dosa-dosa yang dilakukan para hamba itu sangat banyak serta beragam. Ada dosa besar seperti dosa syirik, terkait dosa ini, Allâh Azza wa Jalla memberikan peringatan keras :

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

“Sesungguhnya Allâh tidak akan mengampuni (dosa) karena melakukan perbuatan syirik. Dan Dia mengampuni dosa selain syirik bagi siapa saja yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa menyekutukan Allâh, maka sungguh dia telah melakukan dosa besar,” [QS An-Nisa’ :48].

Semoga Allâh Azza wa Jalla senantiasa menjaga kita semua agar tidak terjatuh dalam perbuatan syirik karena dosa ini tidak akan diampuni oleh Allâh Azza wa Jalla kecuali dengan taubat nasuha begitu juga dosa-dosa besar lainnya. Adapun dosa-dosa kecil, maka dosa-dosa itu bisa terhapus denga amal shalih.

Berikut ini adalah beberapa amalan yang bisa mendatangkan ampunan Allah atau menghapuskan dosa-dosa:

1. Tauhid

Meskiipun dosa manusia sangat banyak, namun kasih sayang Allâh sangat luas terhadap hamba-Nya. Oleh sebab itu Allâh Azza wa Jalla memerintahkan hambanya untuk melakukan ketaatan sehingga dosa-dosanya dapat diampuni. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia bersabda:

مَنْ لَقِيَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطِيئَةً لَا يُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَقِيتُهُ بِمِثْلِهَا مَغْفِرَةً

“Barangsiapa menjumpai-Ku dengan membawa dosa sepenuh bumi sedangkan dia tidak menyekutukan-Ku sedikitpun, maka Aku akan menjumpainya dengan ampunan sepenuh bumi,” [HR. Muslim].

2. Taqwa

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ تَتَّقُوا اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّكُمْ فُرْقَانًا وَّيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّاٰتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ ۝٢٩

“Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian bertaqwa kepada Allah, Allah akan jadikan untuk kalian pembeda (antara alhaq dengan kebatilan), dan Allah akan menghapus keburukan kalian serta mengampuni kalian. Dan Allah adalah Yang memiliki Keutamaan yang Agung,” (Q.S al-Anfaal:29).

3. Menjalankan Sunnah Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah (Wahai Muhammad): Jika kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (Q.S Ali Imran:31).

4. Bersabar ketika ditimpa musibah

مَا يُصِيبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلَا وَصَبٍ وَلَا هَمٍّ وَلَا حُزْنٍ وَلَا أَذًى وَلَا غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلَّا كَفَّرَ اللَّهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah menimpa seorang muslim: rasa capek, sakit, cemas, sedih, ataupun suatu gangguan, maupun gundah gulana, sekalipun duri, kecuali Allah akan hapuskan dosa-dosanya dengan sebab itu,” (H.R Bukhari).

5. Berwudhu’

إِذَا تَوَضَّأَ الْعَبْدُ الْمُسْلِمُ أَوْ الْمُؤْمِنُ فَغَسَلَ وَجْهَهُ خَرَجَ مِنْ وَجْهِهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ نَظَرَ إِلَيْهَا بِعَيْنَيْهِ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ فَإِذَا غَسَلَ يَدَيْهِ خَرَجَ مِنْ يَدَيْهِ كُلُّ خَطِيئَةٍ كَانَ بَطَشَتْهَا يَدَاهُ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ فَإِذَا غَسَلَ رِجْلَيْهِ خَرَجَتْ كُلُّ خَطِيئَةٍ مَشَتْهَا رِجْلَاهُ مَعَ الْمَاءِ أَوْ مَعَ آخِرِ قَطْرِ الْمَاءِ حَتَّى يَخْرُجَ نَقِيًّا مِنْ الذُّنُوبِ

“Jika seorang muslim atau mukmin berwudhu’ kemudian mencuci wajahnya, keluarlah dari wajahnya seluruh dosa penglihatan dengan kedua matanya bersamaan dengan air atau akhir tetesan air. Jika ia mencuci kedua tangannya, keluarlah dari kedua tangannya seluruh dosa yang dilakukan tangannya bersamaa dengan air atau akhir tetesan air. Jika mencuci kedua kakinya, keluarlah seluruh dosa akibat langkah kakinya bersamaan dengan air atau tetesan akhir air. Sehingga ia keluar dalam keadaan bersih dari dosa (kecil) (H.R Muslim).

6. Menegakkan Sholat Wajib

مَا مِنْ امْرِئٍ مُسْلِمٍ تَحْضُرُهُ صَلَاةٌ مَكْتُوبَةٌ فَيُحْسِنُ وُضُوءَهَا وَخُشُوعَهَا وَرُكُوعَهَا إِلَّا كَانَتْ كَفَّارَةً لِمَا قَبْلَهَا مِنْ الذُّنُوبِ مَا لَمْ يُؤْتِ كَبِيرَةً وَذَلِكَ الدَّهْرَ كُلَّهُ

“Tidaklah seorang muslim ketika datang sholat wajib, ia sempurnakan wudhu’, khusyu’, dan ruku’nya, kecuali hal itu akan menjadi penghapus dosa sebelumnya, selama ia tidak melakukan dosa besar. Demikian itu berlangsung sepanjang masa,” (H.R Muslim).

7. Berjalan ke Masjid untuk Sholat berjamaah

إِذَا تَوَضَّأَ أَحَدُكُمْ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ لَمْ يَرْفَعْ قَدَمَهُ الْيُمْنَى إِلَّا كَتَبَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَهُ حَسَنَةً وَلَمْ يَضَعْ قَدَمَهُ الْيُسْرَى إِلَّا حَطَّ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهُ سَيِّئَةً فَلْيُقَرِّبْ أَحَدُكُمْ أَوْ لِيُبَعِّدْ فَإِنْ أَتَى الْمَسْجِدَ فَصَلَّى فِي جَمَاعَةٍ غُفِرَ لَهُ فَإِنْ أَتَى الْمَسْجِدَ وَقَدْ صَلَّوْا بَعْضًا وَبَقِيَ بَعْضٌ صَلَّى مَا أَدْرَكَ وَأَتَمَّ مَا بَقِيَ كَانَ كَذَلِكَ فَإِنْ أَتَى الْمَسْجِدَ وَقَدْ صَلَّوْا فَأَتَمَّ الصَّلَاةَ كَانَ كَذَلِكَ

“Jika seseorang berwudhu’, menyempurnakan wudhu’nya, kemudian keluar menuju sholat (di masjid), tidaklah mengangkat kaki kanannya kecuali Allah akan catat baginya satu kebaikan dan tidaklah meletakkan kakinya yang kiri kecuali Allah akan hapus baginya satu kesalahan. Maka silakan menempuh jarak yang dekat atau jauh. Jika ia mendatangi masjid kemudian sholat berjamaah, akan diampuni dosanya. Jika ia mendatangi masjid sedangkan jamaah telah sholat sebagian dan tersisa sebagian, ia sholat apa yang didapati dan menyempurnakan sebagian, ia akan mendapat demikian juga (diampuni dosanya). Jika ia mendatangi masjid dan para jamaah telah selesai sholat (semua), kemudian ia sempurnakan sholat, maka ia akan mendapat yang demikian juga (diampuni dosanya),” (H.R Abu Dawud dan Abu Ya’la, al Bushiri menyatakan bahwa para perawi dalam sanadnya tsiqoh semua).

8. Zakat dan shodaqoh

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا…

“Ambillah zakat itu dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka,” (Q.S atTaubah:103).

9. Sholat Jumat

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا

“Barangsiapa yang berwudhu’ menyempurnakan wudhu’nya, kemudian mendatangi sholat Jumat, menyimak dengan baik dan diam, akan diampuni dosa di antara Jumat lalu dengan Jumat yang sedang dikerjakan dengan tambahan 3 hari. Barangsiapa yang menyentuh (memain-mainkan) kerikil maka sungguh ia telah sia-sia,” (H.R Muslim).

10. Bacaan “Amiin” dalam sholat berjamaah

إِذَا أَمَّنَ الْإِمَامُ فَأَمِّنُوا فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Jika Imam sampai pada bacaan yang memerlukan amiin (akhir al Fatihah), maka ucapkanlah amiin. Barangsiapa yang bacaan aminnya bertepatan dengan bacaan amin Malaikat, diampuni dosanya yang telah lalu,” (H.R Bukhari dan Muslim).

11. Bacaan I’tidal “Allahumma Robbanaa wa lakal hamdu” dalam sholat berjamaah

إِذَا قَالَ الْإِمَامُ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَقُولُوا اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ قَوْلُهُ قَوْلَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Jika Imam mengucapkan: Sami’allaahu liman hamidah, maka ucapkanlah: Allahumma Robbanaa walakal hamdu. Barangsiapa yang ucapan tersebut bertepatan dengan ucapannya Malaikat, akan diampuni dosanya yang telah lalu,” (H.R Bukhari).

12. Amalan di bulan Ramadhan (puasa dan qiyaamul lail)

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadhan dengan iman dan mengharapkan pahala dari Allah akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu,” (H.R Bukhari).

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang qiyaamul lail pada bulan Ramadhan dengan iman dan mengharapkan pahala dari Allah akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu,” (H.R Bukhari).

13. Puasa Arafah (9 Dzulhijjah) dan Asyura’ (10 Muharram)

Puasa ‘Asyura menghapus dosa tahun lalu, sedangkan puasa Arafah menghapus dosa 2 tahun (tahun lalu dan tahun yang akan datang).

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ وَصِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ

“Puasa Arafah aku mengharapkan kepada Allah bisa menghapuskan dosa setahun sebelumnya dan setahun setelahnya. Puasa ‘Asyura’ aku mengharapkan kepada Allah bisa menghapuskan dosa setahun sebelumnya,” (H.R Muslim).

14. Memandikan mayit muslim dan menyembunyikan aibnya

مَنْ غَسَّلَ مُسْلِمًا فَكَتَمَ عَلَيْهِ غَفَرَ لَهُ اللهُ أَرْبَعِيْنَ مَرَّةً

“Barangsiapa yang memandikan (mayit) seorang muslim kemudian menyembunyikan aibnya, Allah akan ampuni sebanyak 40 kali,” (H.R alHakim dan Ibnu Hajar menyatakan sanadnya kuat).

dalam riwayat atThobarony dinyatakan: diampuni dosanya sebanyak 40 dosa besar.

15. Membaca doa setelah makan

مَنْ أَكَلَ طَعَامًا فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنِي هَذَا وَرَزَقَنِيهِ مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلَا قُوَّةٍ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa yang memakan makanan kemudian ia mengucapkan Alhamdulillaah alladzi ath-amanii haadza wa rozaqoniihi min ghoiri haulin minnii walaa quwwah (yang artinya): segala puji bagi Allah yang telah memberikan aku makanan ini dan memberikan rezeki dengan ini tanpa daya dan kekuatan dariku’, akan diampuni dosanya yang telah lalu,” (H.R Abu Dawud, atTirmidzi, dan Ibnu Majah).

16. Membaca doa ketika memakai baju

وَمَنْ لَبِسَ ثَوْبًا ، فَقَالَ : الْحَمْدُ ِللهِ الذِّي كَسَانِي هَذَا الثَّوْبَ ، وَرَزَقَنِيهِ ، مِنْ غَيْرِ حَوْلٍ مِنِّي وَلاَ قُوَّةٍ ، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Dan barangsiapa yang memakai baju, kemudian mengucapkan Alhamdulillah alladzi kasaani haadzats tsauba wa rozaqoniihi min ghoiri haulin minnii walaa quwwah (yang artinya): ‘segala puji bagi Allah yang telah memakaikan aku baju ini dan memberikan aku rezeki dengannya, tanpa daya dan kekuatan dariku’, akan diampuni dosanya yang telah lalu,” (H.R Abu Dawud).

17. Membaca doa setelah selesai adzan

مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ

“Barangsiapa yang setelah mendengar adzan mengucapkan Asyhadu an laa ilaaha illallaah wahdahu laa syariika lah wa anna muhammadan abduhu wa rosuuluhu rodhiitu billaahi robban wa bi muhammadin rosuulaa wa bil islaami diina (yang artinya): ‘Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah semata tidak ada sekutu bagiNya dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Aku ridla Allah Tuhanku Muhammad sebagai Rasul, dan Islam sebagai agama’ niscaya akan diampuni dosanya,” (H.R Muslim).

18. Umrah dan Haji

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا

“Umrah yang satu dengan umrah berikutnya adalah sebagai penghapus dosa di antara keduanya,” (H.R alBukhari).

مَنْ حَجَّ لِلَّهِ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

“Barangsiapa yang berhaji untuk Allah, kemudian tidak rofats (ucapan kotor) dan tidak berbuat kefasikan (dosa atau permusuhan), ia akan kembali seperti hari dilahirkan ibunya (bersih dari dosa) (H.R Bukhari dan Muslim).

19. Sujud dalam sholat atau sujud karena sebab syukur atau tilawah (membaca ayat sajdah)

عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ فَإِنَّكَ لَا تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلَّا رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

“Hendaknya engkau memperbanyak sujud untuk Allah, karena tidaklah engkau bersujud sekali karena Allah, niscaya Allah akan angkat satu derajat dan dihapus satu kesalahan (H.R Muslim).

20. Membaca, meyakini dan mengamalkan surat al Mulk

إِنَّ سُورَةً مِنْ الْقُرْآنِ ثَلَاثُونَ آيَةً شَفَعَتْ لِرَجُلٍ حَتَّى غُفِرَ لَهُ وَهِيَ سُورَةُ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ

“Sesungguhnya terdapat suatu surat dalam alQur’an, berjumlah 30 ayat. Ia akan memberikan syafaat kepada seseorang hingga diampuni. Surat itu adalah Tabaarokalladzii bi yadihil mulk (H.R Abu Dawud, atTirmidzi, Ibnu Majah).

Sahabat Nabi Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata :

مَنْ قَرَأَ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ كُلَّ لَيْلَةٍ مَنَعَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ بِهَا مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

“Barangsiapa yang membaca (surat) Tabarokalladzii bi yadihil mulku (Al Mulk) setiap malam, Allah akan menghalanginya dari adzab kubur (riwayat an Nasaai, dihasankan oleh Syaikh Albany).

21. Membaca : Subhaanallah wa bihamdihi sebanyak 100 kali

مَنْ قَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ فِي يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ حُطَّتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

“Barangsiapa yang mengucapkan : Subhaanallaah wa bihamdihi sebanyak seratus kali, akan diampuni dosanya meski sebanyak buih di lautan,” (H.R Bukhari).

Bacaan tersebut hendaknya dibaca seratus kali di waktu pagi, dan seratus kali di waktu sore

مَنْ قَالَ إِذَا أَصْبَحَ مِائَةَ مَرَّةٍ وَإِذَا أَمْسَى مِائَةَ مَرَّةٍ سُبْحَانَ اللهِ وَبِحَمْدِهِ غُفِرَتْ ذُنُوْبُهُ وَإِنْ كَانَتْ أَكْثَرَ مِنْ زَبَدِ الْبَحْرِ

“Barangsiapa yang membaca 100 kali ketika pagi dan 100 kali ketika sore: Subhaanallah wa bihamdihi, akan diampuni dosanya meski lebih banyak dari buih di lautan,” (H.R Ibnu Hibban dan alHakim).

22. Membaca Subhaanallah walhamdulillah walaa ilaaha illallaahu Allaahu Akbar

إِنَّ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ تَنْفُضُ الْخَطَايَا كَمَا تَنْفُضُ الشَّجَرَةُ وَرَقَهَا

“Sesungguhnya Subhaanallah walhamdulillah walaa ilaaha illallaah wallaahu akbar bisa merontokkan dosa-dosa sebagaimana pohon merontokkan daunnya,” (H.R Ahmad, dihasankan Syaikh alAlbany).

23. Membaca: Laa Ilaaha Illallah wallaahu akbar walaa haula walaa quwwata illaa billaah

مَا عَلَى الْأَرْضِ أَحَدٌ يَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ إِلَّا كُفِّرَتْ عَنْهُ خَطَايَاهُ وَلَوْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

“Tidaklah ada seseorang di muka bumi yang mengucapkan: Laa Ilaaha Illallaah Wallaahu Akbar wa laa haula walaa quwwata illaa billaah kecuali akan dihapuskan dosa-dosanya meski sebanyak buih di lautan (H.R atTirmidzi).

24. Membaca zikir : Laa Ilaaha Illallah wahdahu laa syariika lah lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syai-in qodiir. Laa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil adzhiim. Subhaanallah walhamdulillah walaa ilaaha illallaahu Allaahu akbar sebelum tidur

مَنْ قالَ حين يأوي إلى فراشِه:”لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ، وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ، وَلاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ، سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ الله، وَاللهُ أَكْبَرُ”.غُفِرت له ذنوبُه- أو قالَ: خطاياهُ، شكّ مِسعَر- وإن كانَت مثلَ زَبَدِ البحرِ

“Barangsiapa yang mengucapkan ketika akan tidur: Laa Ilaaha Illallah wahdahu laa syariika lah lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syai-in qodiir. Laa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘aliyyil adzhiim. Subhaanallah walhamdulillah walaa ilaaha illallaahu Allaahu akbar, akan diampuni dosa-dosanya meski sebanyak buih di lautan,” (H.R Ibnu Hibban dalam Shahihnya, juga dishahihkan oleh Syaikh Albany).

25. Bertawassul dengan Nama dan Sifat Allah untuk memohon ampunan setelah tasyahhud sebelum salam dalam sholat

دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا هُوَ بِرَجُلٍ قَدْ قَضَى صَلَاتَهُ وَهُوَ يَتَشَهَّدُ وَهُوَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ يَا أَللَّهُ الْأَحَدُ الصَّمَدُ الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ أَنْ تَغْفِرَ لِي ذُنُوبِي إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ قَالَ فَقَالَ قَدْ غُفِرَ لَهُ قَدْ غُفِرَ لَهُ ثَلَاثًا

“Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam pernah masuk masjid kemudian mendengar seseorang yang akan menyelesaikan sholat berdoa setelah tasyahhudnya (sebelum salam) (yang artinya): Ya Allah sesungguhnya aku meminta kepadaMu Wahai Allah Yang Tunggal, as-Shomad, yang tidak beranak tidak pula diperanakkan, dan tidak ada sesuatupun yang setara dengannya, agar Engkau mengampuni dosaku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Rasul berkata: telah diampuni dosanya ( 3 kali),” (H.R Abu Dawud, Ahmad, alHakim).

26. Mengucapkan: Astaghfirullahal Adzhiim alladzii Laa Ilaaha Illaa huwal Hayyul Qoyyum wa Atuubu Ilaih

مَنْ قَالَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيمَ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيَّ الْقَيُّومَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ غُفِرَ لَهُ وَإِنْ كَانَ فَرَّ مِنَ الزَّحْفِ

“Barangsiapa yang berkata (artinya): “Aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Agung Yang Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Dia, Yang Maha Hidup lagi Qoyyum (segala makhluk bergantung kepadaNya) dan aku bertaubat kepadaNya”, akan diampuni dosanya meski lari dari medan pertempuran,” (H.R atTirmidzi).

Jika seseorang melakukan dosa besar, dia harus bertaubat dengan taubat nashuha agar dosanya diampuni: menyesal atas perbuatan dosa itu, meninggalkan perbuatan kemaksiatan tersebut, dan bertekad kuat untuk tidak mengulangi lagi selama-lamanya.

27. Bersholawat kepada Rasulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam.

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ مِنْ تِلْقَاءِ نَفْسِهِ ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرَ صَلَوَاتٍ ، وَحَطَّ عَنْهُ عَشْرَ سَيِّئَاتٍ ، وَرَفَعَ لَهُ عَشْرَ دَرَجَاتٍ

“Barangsiapa yang bersholawat kepadaku dengan jujur dan ikhlas dari hatinya, maka Allah akan bersholawat 10 sholawat untuknya, menghapus 10 keburukan, dan mengangkat sepuluh derajat,” (H.R alBazzar, dan alHaitsamy menyatakan bahwa perawi-perawi dalam hadits ini seluruhnya terpercaya).

Lihat lebih banyak

Artikel terkait

Back to top button