Ketika Pasukan Rasulullah Gugur Dalam Perang
Oleh: Ustadz Budi Eko Prasetiya, SS
Gugurnya pasukan Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam dalam berbagai pertempuran merupakan ujian berat, namun juga momen yang menunjukkan keteguhan iman, keberanian, dan takdir Allah. Beberapa perang yang tercatat menghasilkan gugurnya para sahabat (syuhada) adalah:
1. Perang Uhud (3 Hijriah)
Sekitar 70 sahabat gugur syahid dalam perang ini, termasuk paman Nabi, Hamzah bin Abdul Muthalib, serta Hanzhalah bin Abi Amir, Abdullah bin Jahsy, dan Abdullah bin Amr bin Haram.
Kekalahan terjadi karena ketidakdisiplinan pasukan pemanah yang meninggalkan posisi di atas bukit demi mengambil harta rampasan perang (ghanimah), sehingga pasukan berkuda musuh memanfaatkan situasi tersebut. Dampak dari kelalaian ini adalah Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam sendiri mengalami cedera, dan gugurnya banyak sahabat menjadi pelajaran berharga tentang ketaatan.
2. Perang Mu’tah (8 Hijriah)
Gugurnya Tiga Panglima: Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam menunjuk Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah secara berurutan. Ketiganya gugur sebagai syuhada.
Setelah ketiganya gugur, panji perang diambil alih oleh Khalid bin Walid, yang kemudian berhasil menyelamatkan pasukan. Pertempuran ini sangat berat karena 3.000 pasukan Muslim menghadapi 200.000 pasukan Romawi.
3. Perang Hunain
Pasukan Muslim sempat mengalami kekalahan awal dan tercerai-berai sebelum akhirnya Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam berhasil menenangkan pasukan dan meraih kemenangan.
Gugurnya para sahabat dalam perang dianggap sebagai Syahid, sehingga mereka mendapatkan kedudukan mulia di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Perang-perang ini, baik yang menang maupun kalah, menjadi bagian dari sejarah dakwah Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam dalam menyebarkan Islam.
Bagamana respon Rasulullah dan dampak dari gugurnya para pasukan Islam?
Ketika Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam mengetahui pasukan perangnya meninggal dunia (gugur sebagai syuhada’), beliau menunjukkan rasa duka yang mendalam namun tetap dalam keteguhan iman dan menempatkan mereka sebagai syuhada. Berikut adalah beberapa respons Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam berdasarkan Sirah Nabawiyah:
Menangis dan Berduka
Respon manusiawi bisa kita lihat di Perang Mu’tah terjadi pada bulan Jumadil ‘Ula tahun ke-8 Hijriah. Mu’tah adalah sebuah desa yang terletak di perbatasan Syam. Desa ini sekarang bernama Kirk.
Pemicu peperangan ini adalah terbunuhnya Al Harits bin Umair al-Azdi, utusan Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam kepada Raja Bashra. Tiga ribu orang tentara berkumpul usai Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam menyerukan supaya kaum muslimin agar berangkat menuju Syam.
Dalam Perang Mu’tah, ketika tiga panglima yang ditunjuknya berturut-turut gugur (Zaid bin Haritsah, Ja’far bin Abi Thalib, dan Abdullah bin Rawahah), Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam menangis dan merasakan kesedihan mendalam atas gugurnya para sahabat terbaiknya tersebut.
Imam Bukhari meriwayatkan dari Anas ra bahwa sebelum kaum Muslimin mendengar berita gugurnya tiga orang panglima perang mereka.
Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam menyampaikan berita gugurnya Zaid, Ja’far, dan Ibnu Rawahah kepada mereka. Beliau kemudian bersabda, “Zaid memegang panji, kemudian gugur. Panji itu diambil oleh Ja’far dan ia pun gugur. Panji itu diambil oleh Ibnu Rawahah dan ia pun gugur…” Saat itu, beliau meneteskan air mata seraya melanjutkan sabdanya, “… Akhirnya panji itu diambil oleh ‘Pedang Allah’ (Khalid bin Walid) dan akhirnya Allah mengaruniakan kemenangan kepada mereka (kaum Muslimin).”
Mendoakan dan Memastikan Posisi Syahid
Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam menegaskan bahwa orang yang gugur di medan perang (di jalan Allah) adalah syahid. Ketika Hamzah bin Abdul Muthalib gugur di Perang Uhud, meskipun Rasulullah sangat sedih, beliau menguatkan kedudukan Hamzah sebagai penghulu para syuhada.
Rasulullah ﷺ menetapkan kedudukan Hamzah dengan sabdanya:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: “سَيِّدُ الشُّهَدَاءِ حَمْزَةُ، وَرَجُلٌ قَامَ إِلَى إِمَامٍ جَائِرٍ، فَأَمَرَهُ وَنَهَاهُ، فَقَتَلَهُ
“Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Penghulu para syuhada adalah Hamzah, dan seorang lelaki yang berdiri menghadapi pemimpin zalim lalu menasihatinya dan melarangnya, lalu ia dibunuh (karena hal itu).’” (Al-Mustadrak, 3/203).
Hamzah adalah pemimpin para syuhada. Sebuah gelar yang abadi hingga hari kiamat.
Mendoakan Keluarga yang Ditinggalkan
Rasulullah sering mendoakan keluarga para syuhada dan memberikan penghormatan khusus kepada mereka. Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam terbiasa menziarahi makam para syuhada, khususnya syuhada Uhud, untuk memberikan salam, penghormatan, dan mendoakan mereka. Bahkan delapan tahun setelah peristiwa Uhud, beliau mendatangi makam mereka seperti orang yang mengucapkan selamat tinggal, mendoakan agar mereka mendapat kemuliaan.
Dari ‘Uqbah bin ‘Āmir -raḍiyallāhu ‘anhu- bahwa Rasulullah -ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam- pergi menuju (kuburan) korban perang Uhud lalu mendoakan mereka setelah delapan tahun (dari peristiwa itu) laksana orang yang mengucapkan selamat tinggal kepada orang-orang yang masih hidup dan yang sudah mati,” [Muttafaq ‘alaih]
Tetap Teguh dalam Strategi
Meskipun sedih, beliau tidak berlarut-larut dalam kesedihan sehingga melalaikan tugas. Reaksi beliau segera kembali pada sikap tawakal dan tetap memimpin umat untuk terus melanjutkan perjuangan, sebagaimana yang ditunjukkan ketika beliau mengatur ulang pasukan setelah gugurnya tiga panglima di Perang Mu’tah.
Gugurnya ketiga pemimpin yang memegang panji yag ditunjuk oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam kemudian, bendera perang diambil alih oleh Tsabit bin Aqwam.
“Wahai umat islam, musyawarahlah terkait siapa yang pantas memimpin kita di medan perang,” ujar Tsabit bin Aqwam.
Maka, berebutlah umat Islam mengajukan diri untuk meraih bendera perang. Kemudian, Tsabits bin Arqam mengatakan, “Ambillah bendera perang ini wahai Khalid bin Walid, demi Allah tidaklah pantas membawa bendera ini selain engkau.”
Dalam kepemimpinan Khalid bin Walid, pasukan muslim memenangkan peperangan sebab ia membuat strategi memecah pasukan muslimin menjadi dua sayap. Ketika malam tiba, masing-masing sayap menempati posisi yang ditentukan hingga pada pagi harinya, dua sayap itu menyerang musuh secara berbarengan.
Serangan tiba-tiba dari dua arah ini membuat pasukan musuh terkejut. Mereka mengira pasukan muslimin mendapat tambahan pasukan. Sehingga pasukan muslimin berhasil menghancurkan dan memukul mundur pasukan musuh.
Mundurnya pasukan musuh, Khalid menginstruksikan pasukannya untuk tidak melakukan pengejaran. Namun, berbalik mundur ke Madinah. Pertimbangannya adalah apabila pasukan musuh menyadari strategi yang dilakukan pasukan muslim, maka pasukan musuh akan kembali menyerang mereka dengan kekuatan penuh. Berita pasukan muslim berhasil memukul mundur musuh disambuh suka cita oleh kaum muslimin lainnya.
Meski pertempuran sangat besar, namun dilaporkan hanya 12 orang dari pasukan muslim yang terbunuh. Padahal jumlah total jumlah korban perang seluruhnya sangatlah banyak. Bahkan sembilan pedang Khalid bin Walid terputus dan hanya sisa satu pedang ke 10 dari Yaman.
Meningkatkan Semangat Jihad
Kabar syahidnya para sahabat seringkali justru menjadi pemicu bagi Rasulullah ﷺ untuk memperkuat semangat para sahabat lain untuk terus berjuang di jalan Allah. Gugurnya para sahabat Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam dalam berbagai pertempuran, seperti Perang Mu’tah dan Uhud, tidak melemahkan kaum Muslimin, melainkan justru meningkatkan semangat jihad.
Fenomena ini didorong oleh beberapa faktor kunci, yaitu:
• Keimanan yang Kuat: Para sahabat memiliki kepercayaan penuh pada janji-janji Allah Ta’ala.
• Kerinduan Mati Syahid: Mereka sangat mencintai konsep mati syahid dan memandangnya sebagai kemenangan tertinggi.
• Keberanian dalam Berjihad: Gugurnya rekan sejawat memacu keberanian mereka untuk melawan musuh-musuh Allah tanpa rasa takut.
• Inspirasi Teladan: Kisah para sahabat yang syahid, seperti Anas bin an-Nadhr yang mencium bau surga di Perang Uhud, menjadi motivasi bagi sahabat lainnya untuk tetap teguh dan berjuang di jalan Allah.
Kejadian gugurnya para pejuang di medan perang justru memunculkan keberanian baru dan tekad yang lebih kuat untuk melanjutkan perjuangan, menjadikan semangat jihad semakin berlipat ganda