Bulan Muharram Bulan Mulia Bukan Bulan Angker
Oleh: Ustadz Nofa Miftahudin, S.Th.I
Ketika tahun baru Hijriyah tiba, sebagian besar kaum muslimin hanya mengenal Muharram sebagai pergantian tahun atau bulan dilaksanakannya puasa Asyura. Padahal, di balik itu terdapat rahasia kemuliaan yang luar biasa. Bahkan Muharram adalah satu-satunya bulan yang secara khusus disandarkan kepada Allah dalam hadits Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam.
Ironisnya, banyak umat Islam yang mengetahui berbagai perayaan tahun baru, namun kurang mengenal keutamaan bulan Muharram yang sesungguhnya. Akibatnya, bulan yang penuh keberkahan ini berlalu begitu saja tanpa meninggalkan bekas dalam kehidupan spiritual mereka. Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
“Sesungguhnya bilangan bulan menurut Allah ada dua belas bulan dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kalian menzalimi diri kalian dalam bulan-bulan itu.” (QS. At-Taubah: 36).
Empat bulan haram tersebut dijelaskan oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam:
السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ: ثَلَاثٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ، وَرَجَبُ مُضَرَ
“Setahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya terdapat empat bulan haram: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Disebut bulan haram karena kehormatannya sangat agung. Pada bulan ini dosa menjadi lebih berat dan ketaatan memiliki nilai yang lebih tinggi di sisi Allah.
Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam bersabda:
أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ
“Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharram.” (HR. Muslim)
Perhatikan bagaimana Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam menyebutnya dengan istilah:
شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ
“Bulan Allah, Muharram.”
Imam An-Nawawi rahimahullah berkata: “Penisbatan Muharram kepada Allah menunjukkan kemuliaan dan keistimewaan bulan tersebut.”
Tidak ada bulan lain yang disebut Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam dengan penyandaran langsung kepada Allah sebagaimana Muharram. Ini menunjukkan kedudukan yang sangat istimewa. Dalam ayat sebelumnya Allah berfirman:
فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ
“Maka janganlah kalian menzalimi diri kalian pada bulan-bulan itu.”
Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa larangan berbuat zalim berlaku sepanjang waktu, namun dosanya menjadi lebih besar pada bulan-bulan haram.
Di tengah masyarakat saat ini, sering kali pergantian tahun justru diisi dengan aktivitas yang jauh dari nilai ibadah. Sebagian menghabiskan malam tahun baru dengan hiburan yang melalaikan, pesta berlebihan, atau sekadar kegiatan yang tidak memberi manfaat bagi kehidupan akhirat. Bahkan ada yang menganggap bahwa Bulan Muharram adalah bulan angker sehingga takut apabila melaksanakan aqad pernikahan.
Padahal Muharram adalah bulan mulia, semestinya menjadi momentum meningkatkan amal ibadah, sarana memperbaiki diri, bukan sekadar berganti angka pada kalender atau menganggap Bulan Muharram adalah Bulan Angker yang ditakuti. Na’udzubillah min dzalik.
Salah satu rahasia kemuliaan Muharram adalah adanya puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram. Rasulullah Shalallahu alaihi wa bersabda:
صِيَامُ يَوْمِ عَاشُورَاءَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللَّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ
“Puasa pada hari Asyura, aku berharap kepada Allah dapat menghapus dosa setahun yang telah lalu.” (HR. Muslim).
Betapa besar karunia Allah. Hanya dengan satu hari puasa sunnah, Allah menjanjikan penghapusan dosa-dosa kecil selama setahun yang lalu. Kesempatan emas seperti ini datang hanya sekali dalam setahun. Namun tidak sedikit kaum muslimin yang justru melewatkannya karena kurang mengetahui keutamaannya.
Asyura bukan sekadar hari puasa. Ia adalah hari bersejarah yang menjadi simbol kemenangan kebenaran atas kebatilan. Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
قَدِمَ النَّبِيُّ ﷺ الْمَدِينَةَ فَوَجَدَ الْيَهُودَ يَصُومُونَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ، فَقَالَ: مَا هَذَا؟ قَالُوا: هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ، هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّهُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ، فَصَامَهُ مُوسَى
“Nabi Shalallahu alaihi wa Sallam datang ke Madinah dan mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Mereka berkata: Ini adalah hari yang baik, hari ketika Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari itu.” (HR. Bukhari)
Maka Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam bersabda:
فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ
“Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.”
Kemudian beliau berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa.
Muharram mengajarkan bahwa pertolongan Allah pasti datang kepada orang-orang yang beriman meskipun menghadapi kesulitan yang tampak mustahil untuk diatasi.
Salah satu hikmah diletakkannya Muharram sebagai awal tahun Hijriyah adalah agar kaum muslimin melakukan evaluasi diri. Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu pernah berkata:
حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا
“Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab.”
Pergantian tahun seharusnya mengundang pertanyaan mendalam. Sudahkah ibadah kita lebih baik dibanding tahun lalu?, Bertambahkah hafalan Al-Qur’an kita?, Semakin dekatkah kita kepada Allah?, Berkurangkah dosa-dosa yang dahulu sering kita lakukan?Jangan sampai umur bertambah, tetapi amal justru berkurang.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang mampu memuliakan bulan Muharram sebagaimana yang Dia kehendaki.