Khutbah Jum'at

Khutbah Jum’at Edisi 502 | Ketika Kemungkaran Menjadi Fenomena Sosial: Tanggung Jawab Umat dan Pemerintah

Dikeluarkan Oleh Sariyah Dakwah Jama’ah Ansharu Syari’ah

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ، قَدْ أَدَّى اْلأَمَانَةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ.

اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. وَقَالَ: وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.

وَقَالَ النَّبِيُ : اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ. (رواه الترمذي، حديث حسن).

Jamaah Jum’at hamba Allah yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan para sahabatnya.

Khotib berwasiat kepada diri sendiri khususnya dan jama’ah sekalian marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, semoga kita akan menjadi orang yang istiqamah sampai akhir hayat kita.

Ma’asyirol Muslimin Rahimani Wa Rahimukumullah…

Ketika Kemungkaran Menjadi Budaya

Salah satu kisah yang sangat menggugah dalam Al-Qur’an adalah kisah kaum Nabi Luth ‘alaihissalām. Kemungkaran pada awalnya dilakukan oleh sebagian orang, lalu dibiarkan, kemudian dianggap biasa, hingga akhirnya menjadi budaya masyarakat.
Allah berfirman:

وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ

Artinya: “Dan (ingatlah) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya, ‘Mengapa kalian mengerjakan perbuatan keji yang belum pernah dikerjakan oleh seorang pun sebelum kalian di dunia ini?’” (QS. Al-A‘rāf: 80).

Nabi Luth menasihati mereka dengan penuh kesabaran. Namun yang terjadi, masyarakat justru membela pelaku kemungkaran dan mengusir orang-orang yang ingin menjaga kesucian diri. Allah berfirman:

فَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَخْرِجُوهُمْ مِنْ قَرْيَتِكُمْ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ

Artinya: “Jawaban kaumnya tidak lain hanya mengatakan, ‘Usirlah mereka dari negeri kalian! Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang ingin menyucikan diri.’” (QS. Al-A‘rāf: 82).

Lihatlah, ketika masyarakat sudah terbalik nilai-nilainya, orang yang menjaga kehormatan dianggap aneh, sementara pelaku kemaksiatan dianggap wajar. Inilah tanda bahaya yang harus kita waspadai.

Kemungkaran Hari Ini

Jamaah yang dimuliakan Allah, jika kita mencermati keadaan masyarakat saat ini, kita akan melihat bahwa berbagai bentuk kemungkaran tidak lagi terjadi secara sembunyi-sembunyi, tetapi telah menjelma menjadi fenomena sosial yang memprihatinkan.

Judi online dengan mudah masuk ke rumah-rumah melalui telepon genggam, narkoba merusak akal dan masa depan generasi muda, pornografi dan berbagai konten maksiat tersebar tanpa batas, korupsi dianggap sebagai kecerdikan padahal merupakan pengkhianatan terhadap amanah, kekerasan dalam rumah tangga terus meningkat, pergaulan bebas dan perselingkuhan meruntuhkan ketahanan keluarga, sementara budaya malu semakin memudar sehingga maksiat dipertontonkan tanpa rasa bersalah dan taubat justru dianggap sebagai sesuatu yang asing.

Inilah kenyataan yang harus menjadi bahan renungan bersama agar kita tidak menjadi generasi yang terbiasa hidup berdampingan dengan kemungkaran.

Yang lebih berbahaya, sebagian orang berkata, “Semua orang juga begitu.” Kalimat ini sederhana, tetapi bisa menghancurkan iman. Dosa yang dilakukan banyak orang tetap dosa di sisi Allah.

Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:

«إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الظَّالِمَ فَلَمْ يَأْخُذُوا عَلَى يَدَيْهِ أَوْشَكَ أَنْ يَعُمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابٍ مِنْهُ»

“Sungguh, apabila manusia melihat orang yang berbuat kezaliman lalu mereka tidak berusaha mencegahnya, hampir pasti Allah akan menimpakan azab-Nya kepada mereka semua,” [Sahih] – [HR. Abu Daud, Tirmizi, Nasai dalam Al-Kubrā, Ibnu Majah, dan Ahmad].

Hadis ini menunjukkan bahwa membiarkan kemungkaran memiliki dampak sosial. Kerusakan moral tidak berhenti pada pelakunya, tetapi menjalar kepada keluarga, lingkungan, bahkan bangsa.

Tanggung Jawab Kita

Islam tidak mengajarkan kita menjadi penonton. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذٰلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

Artinya: “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubah dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim).

Perhatikanlah tuntunan Rasulullah ﷺ tersebut. Kemungkaran harus dihadapi sesuai dengan kemampuan dan kedudukan masing-masing. Urutan pertama yang paling bertanggung jawab adalah pemegang kekuasaan, karena mereka memiliki kewajiban menegakkan hukum dan mencegah berbagai bentuk kerusakan yang mengancam masyarakat.

Kemudian para ulama dan dai berkewajiban menyampaikan nasihat, pendidikan, dan dakwah dengan ilmu, hikmah, serta kasih sayang. Orang tua memikul amanah untuk menjaga akidah, akhlak, dan masa depan anak-anaknya melalui pendidikan yang baik di dalam keluarga.

Adapun seluruh lapisan masyarakat memiliki tanggung jawab untuk tidak mendukung, membiarkan, atau menormalisasi kemaksiatan, tetapi saling mengingatkan dalam kebaikan dan ketakwaan. Dengan sinergi seluruh elemen inilah kemungkaran dapat dicegah dan kemaslahatan umat dapat diwujudkan.

Peran Pemerintah

Pemerintah diberi amanah untuk menjaga lima tujuan utama syariat (maqāṣid al-syarī‘ah):

  • Menjaga agama (حفظ الدين)
  • Menjaga jiwa (حفظ النفس)
  • Menjaga akal (حفظ العقل)
  • Menjaga keturunan (حفظ النسل)
  • Menjaga harta (حفظ المال)

Karena itu, pemberantasan narkoba, judi online, perdagangan manusia, pornografi, korupsi, dan berbagai kejahatan moral bukan sekadar urusan hukum dunia, tetapi bagian dari menjaga kemaslahatan umat. Allah berfirman:

إِنَّ ٱللَّهَ يَأْمُرُ بِٱلْعَدْلِ وَٱلْإِحْسَٰنِ وَإِيتَآئِ ذِى ٱلْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ ٱلْفَحْشَآءِ وَٱلْمُنكَرِ وَٱلْبَغْىِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran,” (QS. An-Nahl: 90).

Ayat ini dibaca di banyak mimbar Jumat, tetapi pertanyaannya: sudahkah kita menghadirkan nilai ayat ini dalam kehidupan nyata?

Muhasabah

Jangan-jangan kerusakan sosial yang kita keluhkan juga ada andil dari diri kita:

  • Orang tua sibuk dengan ponsel, anak dibiarkan tanpa pengawasan.
  • Shalat berjamaah mulai ditinggalkan.
  • Al-Qur’an jarang dibaca di rumah.
  • Kita diam ketika ada kemaksiatan di sekitar kita.
  • Kita mudah menyebarkan berita, tetapi jarang menyebarkan nasihat.

Ingatlah, perubahan besar selalu dimulai dari rumah. Jika orang tua memberi teladan yang baik, jika rumah-rumah kaum muslimin hidup dengan shalat, Al-Qur’an, dan akhlak, maka masyarakat akan menjadi baik.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Pada khutbah pertama kita telah memahami bahwa kemungkaran yang dibiarkan akan berubah menjadi bencana sosial. Lalu apa solusi yang ditawarkan Islam?

Lima Resolusi Syariat

1. Taubat Nasional Dimulai dari Taubat Pribadi
Allah berfirman:

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya: “…Bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung,” (QS. An-Nur: 31).

Taubat bukan hanya untuk pelaku dosa besar. Kita semua membutuhkan taubat: dari sikap pasif, lalai peduli atas kerusakan umat, lalai dalam shalat, dari ucapan yang menyakiti, dari harta yang syubhat, dan dari hati yang jauh dari Allah.

2. Hidupkan Kembali Keluarga dengan Iman
Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka,” (QS. At-Tahrim: 6).

Marilah kita jadikan rumah sebagai tempat tumbuhnya iman dan akhlak mulia. Hidupkan shalat berjamaah bersama keluarga, biasakan membaca Al-Qur’an setiap hari, luangkan waktu untuk makan bersama sambil berdialog dan mendengarkan kebutuhan anak-anak, awasi serta batasi akses terhadap konten-konten yang merusak moral, dan yang terpenting, jadilah teladan dalam ucapan maupun perbuatan. Sebab, anak-anak lebih mudah meniru apa yang mereka lihat daripada sekadar mendengar apa yang mereka diperintahkan.

3. Perkuat Dakwah dan Pendidikan
Masjid jangan hanya ramai saat Jumat. Hidupkan majelis ilmu, pembinaan remaja, dan kegiatan yang menyelamatkan generasi dari narkoba, judi online, dan pergaulan bebas.
Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

Artinya: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (Muttafaq ‘alaih).

4. Bangun Kepedulian Sosial
Jangan biarkan tetangga kita terjerumus sendirian. Bantu pemuda yang menganggur, dampingi korban kecanduan, kuatkan keluarga yang sedang bermasalah, dan dukung program-program kebaikan di lingkungan kita.

5. Dorong Penegakan Hukum yang Adil
Kita senantiasa mendoakan agar Allah menganugerahkan hidayah, keberanian, kebijaksanaan, dan kejujuran kepada para pemimpin negeri ini, sehingga mereka mampu menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya: memberantas korupsi, menutup jaringan judi online, memerangi peredaran narkoba, melindungi anak-anak dari eksploitasi serta pengaruh pornografi, dan menegakkan hukum secara adil tanpa pandang bulu.

Upaya tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan amar ma’ruf nahi mungkar dalam ranah kebijakan publik, karena tujuan kepemimpinan dalam Islam adalah menjaga kemaslahatan masyarakat, melindungi hak-hak rakyat, dan mencegah segala bentuk kerusakan yang mengancam agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.

Jamaah yang dimuliakan Allah, janganlah kita menunggu negeri ini semakin rusak, anak-anak kita menjadi korban, atau azab Allah datang baru kita tersadar. Hari ini adalah kesempatan untuk berubah. Marilah kita memperbaiki shalat, meninggalkan segala bentuk kemaksiatan, menjaga diri dan keluarga dengan nilai-nilai Al-Qur’an, saling menasihati dalam kebaikan, serta mendoakan para pemimpin agar diberi kekuatan untuk menegakkan keadilan dan melindungi masyarakat dari berbagai bentuk kerusakan.

Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba-hamba yang menghadirkan kebaikan, memperbaiki keadaan umat, dan meraih husnul khatimah. Aamiin.

Semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang memperbaiki masyarakat, bukan bagian dari kerusakannya.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

جَمَاعَةَ الْجُمُعَةِ، أَرْشَدَكُمُ اللهُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَيَرْزُقُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا.

إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنِ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ. رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِن قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَجَنَّتَكَ وَنَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِيْ سَبِيْلِكَ. اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ.

اَللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَلْقِ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ. اَللَّهُمَّ عَذِّبْهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا وَحَسِّبْهُمْ حِسَابًا ثَقِيْلاً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Download file PDF:

Lihat lebih banyak

Artikel terkait

Back to top button