Artikel

Aku Lelah Ya Rabb, Tapi Aku Rindu

Oleh: Ustadz Achmad Arif Hermansyah

Ada masa ketika sajadah terasa lebih berat daripada biasanya. Terlipat rapi di sudut kamar, tapi tangan enggan membentangkannya. Ada hari-hari saat azan terdengar begitu biasa, lewat begitu saja, tanpa getar, tanpa panggilan yang menyentuh dada. Bukan karena benci, bukan pula karena menolak. Hanya lelah. Kosong. Seolah hati kehilangan tenaga untuk mendekat.

Perasaan seperti ini sering disalahpahami. Kita mengira diri sedang menjauh dari iman, padahal yang sebenarnya terjadi adalah kejenuhan. Ibadah yang dulu terasa hangat dan menenangkan, kini seperti rutinitas kaku yang harus dituntaskan. Ada rindu kepada Allah, tapi tubuh dan hati terasa berat untuk melangkah mendekat.

Jika kamu berada di titik ini, satu hal penting untuk diingat: jangan memusuhi dirimu sendiri. Jangan terburu-buru melabeli diri sebagai “paling berdosa” atau “tak pantas didekati rahmat-Nya”. Allah Maha Mengetahui. Dia tahu hati ini bisa lelah. Dia tahu iman tidak selalu berada di puncak. Ada naik, ada turun. Dan itu manusiawi.

Kita sering lupa, siapa sebenarnya yang membuat kita merasa ibadah harus selalu ideal, sempurna, penuh semangat? Siapa yang membisikkan bahwa jika tidak bisa maksimal, lebih baik tidak sama sekali? Padahal Allah tidak pernah meminta hamba-Nya untuk menjadi kuat setiap waktu. Dia hanya meminta agar kita tidak menyerah kemudian berhenti.

Saat shalat terasa terlalu berat, jangan memaksa diri dengan rasa bersalah. Mulailah dari yang paling ringan: satu kalimat dzikir yang jujur di sela aktivitas harian, saat menyeduh teh atau kopi. Saat mushaf terasa jauh, cukup buka satu ayat, ya satu saja, dan resapi maknanya perlahan. Bukan kuantitas yang sedang Allah lihat, melainkan kemana arah hatimu.

Jangan sibuk menghitung ibadah yang belum sempat kau lakukan. Fokuslah pada niat kecil yang kau tanam hari ini. Pada keinginan sederhana untuk kembali, meski tertatih. Karena sejatinya, rahmat Allah selalu lebih luas dari rasa malas, dari futur, dari semua kegelisahan yang menggerogoti hati.

Sering kali, justru saat kita merasa paling jauh dari-Nya, di situlah Allah paling dekat menunggu. Tidak dengan tuntutan, tetapi dengan pintu yang tetap terbuka. Maka berbisiklah, meski lirih: “Ya Rabb, aku lelah… tapi aku rindu.”

Lihat lebih banyak

Artikel terkait

Check Also
Close
Back to top button