Kajian Kolosal Banten, Ustaz Rusdi Tekankan Pentingnya Dialog dan Tabayyun

BANTEN (ansharusyariah.com)— Amir Jamaah Ansharu Syariah Wilayah Banten, Ustaz Rusdi, mengajak anggota memperkuat komitmen berjamaah dengan membangun budaya dialog, keterbukaan, dan tabayyun dalam menghadapi persoalan keilmuan maupun dinamika internal.
Pesan tersebut disampaikan dalam taujih pada Kajian Kolosal Jamaah Ansharu Syariah di Masjid Ibnu Abbas, Jelumprit, Waringin Kurung, Banten, Ahad (4/10/2026).
Kajian tersebut diikuti unsur ikhwan dan akhwat dengan menghadirkan Ustaz Ismail dari Majelis Syariah Jamaah Ansharu Syariah sebagai pemateri kajian bertema “Aqidah dan Manhaj”.
Dalam taujihnya, Ustaz Rusdi menekankan pentingnya menjadikan forum pertemuan antara pimpinan dan anggota sebagai ruang dialog. Menurutnya, anggota perlu memiliki ruang untuk menyampaikan pertanyaan, persoalan, masukan, maupun kritik secara terbuka.
“Kalau ada pertanyaan, keraguan, atau persoalan, jangan dipendam. Sampaikan dan kita dialogkan,” menjadi salah satu pesan yang disampaikan dalam taujih tersebut.
Keraguan Perlu Dijawab dengan Ilmu
Ustaz Rusdi mengatakan dinamika kehidupan berjamaah tidak terlepas dari berbagai tantangan pemikiran.
Menurutnya, keraguan semestinya tidak dibiarkan tanpa jawaban. Berbagai informasi yang diperoleh dari kajian, media sosial, YouTube, maupun sumber lainnya perlu diverifikasi dan dikaji berdasarkan dalil serta argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Karena itu, forum internal dapat menjadi ruang klarifikasi dan pertukaran pandangan berbasis ilmu. Dengan cara tersebut, anggota diharapkan tidak mengambil kesimpulan hanya berdasarkan informasi yang didengar atau dilihat secara sepintas.
Jangan Jadikan Popularitas dan Gelar sebagai Ukuran
Ustaz Rusdi juga menyoroti derasnya arus kajian keagamaan di media digital. Kemudahan mengakses berbagai penceramah memberikan banyak pilihan sumber ilmu, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan dalam menentukan rujukan.
Ia mengingatkan agar popularitas figur maupun gelar akademik tidak dijadikan ukuran tunggal untuk menentukan benar atau tidaknya sebuah pandangan keagamaan.
Menurutnya, substansi ilmu, dalil, argumentasi, serta bagaimana ilmu tersebut diamalkan perlu menjadi perhatian.
Prinsip tersebut sekaligus menjadi pengingat agar anggota tidak terjebak pada ketergantungan terhadap figur tertentu hanya karena popularitas, gelar, maupun status sosial.
Dorong Ruang Kritik dan Aspirasi
Selain persoalan keilmuan, Ustaz Rusdi mendorong keterbukaan komunikasi antara anggota dan pimpinan.
Ia mengajak anggota, baik ikhwan maupun akhwat, untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi dalam kehidupan berjamaah. Menurutnya, kritik yang disampaikan secara konstruktif dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki pola pembinaan maupun komunikasi.
Berbagai pertanyaan, kritik, dan masukan dari anggota dapat menjadi bahan evaluasi bagi jajaran pimpinan.
Komitmen Berjamaah Dibangun dengan Ilmu
Ustaz Rusdi juga menekankan bahwa komitmen berjamaah hendaknya tidak hanya dibangun berdasarkan perasaan. Perasaan dapat berubah, sehingga ukuran benar dan salah tidak semestinya hanya didasarkan pada rasa nyaman atau tidak nyaman.
Menurutnya, komitmen perlu dibangun di atas ilmu, keyakinan, dan pemahaman terhadap prinsip-prinsip syariat.
Dalam kehidupan berjamaah, nilai-nilai seperti saling mengingatkan, menjaga, dan membantu sesama membutuhkan kebersamaan. Karena itu, kehidupan berjamaah juga diharapkan menjadi sarana untuk memperkuat ukhuwah dan kepedulian antaranggota.
Pentingnya Tabayyun di Tengah Arus Informasi
Dalam menyikapi berbagai informasi keagamaan, Ustaz Rusdi mengingatkan pentingnya tabayyun dan tidak mengikuti sesuatu yang belum diketahui secara jelas.
Ia mengaitkan pesan tersebut dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam QS Al-Isra ayat 36:
“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”
Pesan tersebut dinilai relevan di tengah derasnya informasi keagamaan di ruang digital. Anggota diharapkan tidak terburu-buru mengambil kesimpulan hanya karena sebuah pernyataan disampaikan oleh tokoh populer.
Demikian pula, sebuah pandangan tidak otomatis benar hanya karena disampaikan oleh seseorang yang memiliki gelar atau kedudukan tertentu. Kebenaran perlu dikaji berdasarkan ilmu dan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Perkuat Konsolidasi Internal
Kajian Kolosal tersebut menjadi salah satu momentum konsolidasi internal Jamaah Ansharu Syariah Wilayah Banten. Melalui komunikasi yang lebih terbuka, berbagai persoalan diharapkan dapat diketahui dan diklarifikasi lebih awal sebelum berkembang menjadi prasangka atau persoalan yang lebih besar.
Ustaz Rusdi juga mengingatkan agar perbedaan dalam persoalan furu’ tidak berkembang menjadi konflik yang merusak persatuan. Sementara prinsip-prinsip yang bersifat ushul perlu dijaga dengan ilmu dan kesungguhan.
Dengan memperkuat budaya dialog, pembinaan akidah dan manhaj, ruang kritik, serta tabayyun, kehidupan berjamaah diharapkan semakin kokoh.
Konsolidasi tersebut tidak hanya diarahkan untuk menjaga keberlangsungan organisasi, tetapi juga membangun anggota yang memiliki keyakinan, pemahaman, dan komitmen yang dilandasi ilmu.



