Khutbah Jum’at Edisi 500 | Bahaya Normalisasi LGBT: Menjaga Fitrah Manusia, Ketahanan Pangan dan Masa Depan Generasi Bangsa
Dikeluarkan Oleh Sariyah Dakwah Jama’ah Ansharu Syari’ah
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ، قَدْ أَدَّى اْلأَمَانَةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ.
اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. وَقَالَ: وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.
وَقَالَ النَّبِيُ : اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ. (رواه الترمذي، حديث حسن).
Jamaah Jum’at hamba Allah yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan para sahabatnya.
Khotib berwasiat kepada diri sendiri khususnya dan jama’ah sekalian marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, semoga kita akan menjadi orang yang istiqamah sampai akhir hayat kita.
Ma’asyirol Muslimin Rahimani Wa Rahimukumullah…
Kita hidup di zaman yang penuh dengan perubahan. Perubahan teknologi memberikan banyak kemudahan, tetapi pada saat yang sama menghadirkan tantangan besar terhadap iman, akhlak, dan ketahanan keluarga. Hari ini berbagai nilai dan gaya hidup masuk ke dalam rumah kita tanpa mengetuk pintu.
Melalui media sosial, film, hiburan digital, dan berbagai platform internet, anak-anak dan generasi muda dapat melihat berbagai pandangan yang dahulu dianggap asing oleh masyarakat.
Salah satu persoalan yang semakin menjadi perhatian umat Islam dan masyarakat luas adalah munculnya upaya normalisasi perilaku LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) sebagai sesuatu yang dianggap biasa dan diterima dalam kehidupan sosial.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Persoalan ini bukan hanya tentang individu, tetapi tentang ketika nilai yang bertentangan dengan agama mulai dianggap biasa di tengah masyarakat. Karena itu, umat Islam memiliki amanah untuk menjaga iman generasi muda, memperkuat keluarga, membimbing kepada kebaikan, dan menjaga masa depan bangsa dengan nilai-nilai agama dan akhlak.
Pertama: Islam Menjaga Fitrah Manusia
Jamaah rahimakumullah,
Islam adalah agama yang sangat menghormati manusia. Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga menjaga manusia agar hidup sesuai dengan fitrah yang Allah tetapkan.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ
“Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama Allah dengan lurus. Tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah.”(QS. Ar-Rum: 30).
Ayat ini menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dengan hikmah dan aturan-Nya. Allah menciptakan laki-laki dan perempuan. Allah menjadikan pernikahan sebagai jalan menjaga kehormatan, ketenangan jiwa, dan keberlangsungan keturunan.
Allah berfirman: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu memperoleh ketenteraman kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang.”(QS. Ar-Rum: 21).
Kedua: Kisah Kaum Nabi Luth Sebagai Peringatan Allah
Al-Qur’an memberikan pelajaran tentang kaum Nabi Luth ‘alaihissalam. Allah berfirman:
وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ
إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ ۚ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ
“Dan (Kami juga telah mengutus) Luth ketika dia berkata kepada kaumnya: Mengapa kamu mengerjakan perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kamu di dunia ini? Sesungguhnya kamu mendatangi laki-laki untuk melampiaskan syahwat, bukan kepada perempuan. Bahkan kamu adalah kaum yang melampaui batas.”(QS. Al-A’raf: 80-81).
Ayat ini menjadi peringatan bahwa manusia tidak boleh menjadikan hawa nafsu sebagai standar kebenaran. Ketika manusia meninggalkan petunjuk Allah dan mengikuti keinginan tanpa batas, maka kerusakan akan muncul dalam kehidupan.
Ketiga: Menjaga Moral Bangsa adalah Tanggung Jawab Bersama
Jamaah yang dirahmati Allah,
Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah memberikan perhatian terhadap persoalan ini melalui Fatwa MUI Nomor 57 Tahun 2014 tentang Lesbian, Gay, Sodomi, dan Pencabulan.
Dalam fatwa tersebut, MUI menjelaskan bahwa praktik hubungan seksual sesama jenis bertentangan dengan ajaran Islam dan wajib dicegah karena bertentangan dengan penjagaan agama, kehormatan, serta keturunan.
Sikap Islam bukanlah kebencian kepada manusia, Islam mengajarkan kasih sayang kepada manusia, namun kasih sayang dalam Islam bukan berarti membenarkan semua perbuatan.
Seorang dokter mencintai pasiennya, tetapi dokter juga harus memperingatkan penyakit yang membahayakan. Seorang ayah mencintai anaknya, tetapi ayah juga harus melarang sesuatu yang merusak masa depannya.
Demikian pula Islam menjaga manusia dengan memberikan batas halal dan haram, agar kehidupan tidak berjalan mengikuti hawa nafsu semata, tetapi berada dalam bimbingan wahyu Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena itu, menjaga moral bangsa bukan hanya tugas satu pihak, tetapi membutuhkan kerja bersama dari seluruh elemen masyarakat.
Pertama, orang tua harus menjadi benteng pertama dalam menjaga keluarga dan generasi.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”(QS. At-Tahrim: 6).
Ayat ini mengingatkan bahwa tanggung jawab pertama dalam menjaga anak bukan hanya memenuhi kebutuhan fisik mereka, tetapi juga membimbing iman, akhlak, dan perilaku mereka. Orang tua tidak cukup hanya memberikan makanan, pendidikan dunia, dan fasilitas kehidupan, tetapi harus menjadi teladan dalam agama serta penjaga pertama dari berbagai pengaruh yang dapat merusak karakter anak.
Kedua, sekolah dan lembaga pendidikan harus menjadi tempat pembentukan ilmu sekaligus akhlak.
Pendidikan dalam Islam bukan hanya bertujuan mencerdaskan pikiran, tetapi juga membentuk manusia yang memiliki iman, adab, dan tanggung jawab moral. Ilmu tanpa akhlak dapat menjadi alat yang merusak, sedangkan ilmu yang dibimbing dengan iman akan melahirkan generasi yang membawa manfaat bagi masyarakat.
Ketiga, ulama memiliki tanggung jawab membimbing umat dengan ilmu, hikmah, dan keteladanan.
Ulama memiliki peran penting dalam memberikan pemahaman agama yang benar berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah. Di tengah banyaknya informasi yang beredar, umat membutuhkan bimbingan yang menenangkan, mencerahkan, dan mengarahkan masyarakat agar mampu membedakan antara kebenaran dan kebatilan dengan penuh kebijaksanaan.
Keempat, pemerintah memiliki tanggung jawab menjaga kemaslahatan masyarakat dan melindungi generasi.
Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”(HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini menjelaskan bahwa setiap pemimpin memiliki amanah untuk menjaga orang-orang yang berada di bawah tanggung jawabnya. Pemerintah memiliki kewajiban membuat kebijakan yang menjaga ketertiban, melindungi masyarakat, memperkuat keluarga, serta menciptakan lingkungan yang baik bagi tumbuhnya generasi.
Jamaah rahimakumullah,
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”(QS. Ali Imran: 104).
Ayat ini menjadi landasan bahwa menjaga moral masyarakat adalah tanggung jawab bersama. Ketika keluarga kuat, pendidikan baik, ulama hadir membimbing, dan pemerintah menjalankan amanahnya, maka masyarakat akan memiliki benteng yang kokoh dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
Jamaah yang dimuliakan Allah,
Mari kita menjaga keluarga kita, mari kita lindungi anak-anak kita dari berbagai pengaruh yang dapat merusak iman dan akhlak mereka, mari kita bangun rumah tangga yang penuh dengan Al-Qur’an, kasih sayang, pendidikan agama, dan keteladanan. Semoga Allah menjaga bangsa kita, menjaga generasi muda kita. dan memberikan petunjuk kepada seluruh manusia menuju jalan yang diridhai-Nya.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
جَمَاعَةَ الْجُمُعَةِ، أَرْشَدَكُمُ اللهُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَيَرْزُقُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنِ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ. رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِن قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَجَنَّتَكَ وَنَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِيْ سَبِيْلِكَ. اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ.
اَللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَلْقِ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ. اَللَّهُمَّ عَذِّبْهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا وَحَسِّبْهُمْ حِسَابًا ثَقِيْلاً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Download file PDF: