ArtikelMuslimah

Keberagaman Qira’at sebagai Bentuk Nyata Mukjizat Al-Qur’an

Oleh: Diva Ummu Ukasyah

Al-Qur’an adalah kitab suci umat Islam yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada keraguan di dalamnya, dan ia menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.

Tapi tahukah kamu? Pernah ada seorang sahabat yang meragukan bacaan Al-Qur’an, bahkan rasa ragunya saat itu melebihi keraguan ketika pertama kali menerima Islam. Apa yang menyebabkan sahabat tersebut ragu terhadap Al-Qur’an? Jawabannya adalah karena perbedaan qira’at. Qira’at merupakan ragam cara membaca Al-Qur’an.

Perbedaan ini bukanlah bentuk kontradiksi, melainkan cerminan dari keluasan rahmat Allah dalam memudahkan umat-Nya memahami dan membaca Al-Qur’an sesuai dengan variasi dialek dan kemampuan mereka. Hal ini juga menjadi bukti kemukjizatan dan keunikan Al-Qur’an. Maka, aku menyebut Al-Qur’an sebagai mukjizat abadi.

Dalam konteks ilmu Al-Qur’an, qira’at adalah perbedaan dalam cara membaca ayat-ayat Al-Qur’an yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melalui sanad yang mutawatir. Dahulu, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam menerima wahyu Al-Qur’an dalam berbagai dialek suku Arab. Dalam hadits disebutkan bahwa Al-Qur’an diturunkan dalam tujuh huruf (sab‘atu ahruf), yang kemudian melahirkan beragam qira’at.

Dari Umar bin Khattab, ia berkata: “Aku mendengar Hisyam bin Hakim membacakan Surah Al-Furqan di masa hidup Rasulullah. Aku perhatikan bacaannya, dan ternyata ia membacanya dengan banyak huruf yang belum pernah Rasulullah bacakan kepadaku. Aku hampir melabraknya saat ia sedang shalat, tapi aku tahan diri hingga ia selesai.

Setelah itu, aku bertanya siapa yang mengajarkan bacaan itu kepadanya. Ia menjawab, ‘Rasulullah yang membacakannya kepadaku.’ Aku katakan, ‘Engkau dusta! Rasulullah membacakannya kepadaku dengan cara yang berbeda.’ Lalu kami menemui Rasulullah. Beliau bersabda, ‘Lepaskan dia, wahai Umar.’ Kemudian Rasulullah meminta Hisyam membaca, dan beliau berkata, ‘Begitulah ia diturunkan.’ Lalu beliau memintaku membaca, dan beliau juga berkata, ‘Begitulah ia diturunkan.’ Rasulullah menambahkan, ‘Sesungguhnya Al-Qur’an ini diturunkan dengan tujuh huruf. Maka bacalah dengan huruf yang paling mudah bagimu.’” (HR. Bukhari-Muslim)

Hadits tersebut menjelaskan bahwa perbedaan dalam bacaan Al-Qur’an memang sudah ada sejak masa Nabi dan merupakan bagian dari wahyu itu sendiri. Setelah masa sahabat, para ulama qira’at seperti Imam Nafi‘, Ibn Katsir, Abu ‘Amr, Ibn ‘Amir, ‘Ashim, Hamzah, dan al-Kisai mulai menyusun qira’at yang sahih dan terjaga melalui sanad.

Qira’at ini terbagi dalam beberapa tingkatan, seperti Qira’at Sab‘ah (tujuh qira’at utama) yang diakui oleh Imam Ibn Mujahid, dan Qira’at ‘Asyrah (sepuluh qira’at) sebagai penyempurna dari yang sebelumnya. Seluruhnya memiliki sanad mutawatir yang bersambung hingga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Salah satu contoh perbedaan qira’at misalnya terdapat pada Surah Al-Fatihah ayat 4. Qira’at Hafs (qiraat yang umum di Indonesia) membaca ayat : “Maaliki yawmid-diin” (dengan huruf Mim dibaca panjang) artinya “Yang menguasai hari pembalasan.” Sedangkan Qira’at Warsy dan beberapa qiraat lainnya membaca ayat : “Maliki yawmid-diin” (dengan huruf Mim dibaca pendek) artinya “Raja pada hari pembalasan”

Keduanya sah, tidak bertentangan secara makna. Keduanya sah dan tidak bertentangan, bahkan saling melengkapi. Yang menguasai sesuatu belum tentu seorang raja, dan raja belum tentu memiliki kekuasaan penuh. Tapi Allah adalah keduanya. Subhanallah.

Tidak mungkin Allah berkehendak atas sesuatu tanpa hikmah di dalamnya. Perbedaan qira’at ini mengandung hikmah besar, seperti menunjukkan fleksibilitas Al-Qur’an yang bisa dibaca sesuai kemampuan, membuktikan bahwa Al-Qur’an mudah dibaca, dihafal, dan dipelajari, serta menguatkan keasliannya melalui sanad yang terus terjaga.

Selain itu, perbedaan ini memperkaya pemahaman terhadap makna ayat, dan menjadi bukti keajaiban Al-Qur’an yang tak tertandingi. Tidak ada kitab suci lain yang seotentik dan seuniversal Al-Qur’an.

Perbedaan qira’at bukanlah bentuk pertentangan, melainkan kekayaan warisan ilmu yang menunjukkan keluasan dan keindahan wahyu Allah. Setiap qira’at memiliki sanad yang kuat dan makna yang saling melengkapi, memberikan pemahaman yang lebih dalam terhadap pesan-pesan Al-Qur’an.

Dengan mempelajari qira’at, umat Islam tidak hanya memperkuat bacaan mereka, tetapi juga memperdalam kecintaan dan pemahaman terhadap Al-Qur’an. Maka penting bagi kita untuk menjaga, mempelajari, dan menghargai keberagaman qira’at sebagai bagian dari keutuhan ajaran Islam.

Lihat lebih banyak

Artikel terkait

Check Also
Close
Back to top button