Tadarruj dalam Ilmu, Antara Luasnya Samudra dan Sempitnya Waktu
Tanpa tadarruj, semangat berubah menjadi kebingungan, dan keluasan ilmu justru melahirkan kedangkalan. Para ulama memahami hakikat ini dengan sangat jernih.
Penulis: Ustadz Bahar Abdissalam
Ilmu adalah samudra tak bertepi, sementara umur manusia hanyalah perahu kecil dengan waktu yang terbatas. Dari ketegangan inilah lahir satu prinsip agung dalam tradisi keilmuan Islam, tadarruj, bertahap, terukur, dan sadar prioritas. Tanpa tadarruj, semangat berubah menjadi kebingungan, dan keluasan ilmu justru melahirkan kedangkalan. Para ulama memahami hakikat ini dengan sangat jernih.
Sahabat Ibnu ‘Abbas menuturkan:
“Ilmu itu lebih banyak daripada yang bisa dihitung, maka ambillah dari setiap bidang bagian yang terbaiknya.”
Sohabat ‘Ali bin Abi tholib juga berkata:
“Tak seorang pun mampu menghimpun seluruh ilmu, tidak pula meski ia menekuninya seribu tahun.. Sesungguhnya ilmu itu sangat dalam kedalamannya, maka ambillah dari setiap bidang bagian yang terbaiknya.” (Attamtsil wal Muhadhoroh 1/165, – Abu Mansur atssa‘alibi, wafat 429 H).
Demikian Yahya bin Ma‘in berkata:
لو طلبتُ كلَّ العلم ما أدركتُه، ولكن آخذ من كلِّ شيء أحسنَه
“Jika aku ingin mengambil seluruh ilmu, niscaya aku takkan mampu. Maka ambillah dari setiap disiplin bagian terbaiknya,”.
Para ulama juga menjelaskan bahwa, “Barang siapa ingin meraih ilmu satu hentakan niscaya ilmu itu akan hilang darinya sekaligus.”
Dan juga dikatakan, “Bertumpuknya ilmu dalam pendengaran justru menyesatkan pemahaman.”
Karena itu, wajib ada proses peletakan dasar dan fondasi bagi setiap disiplin ilmu yang hendak dituntut, dengan cara menguasai setiap pokok dan kitab ringkasnya di hadapan guru yang benar-benar kompeten, bukan hanya mengandalkan belajar mandiri semata, serta menempuh proses belajar secara bertahap (tadarruj).
Inilah fondasi metodologis yang melahirkan tiga pola keilmuan:
1. Generalis,
2. Spesialis,
3. dan Spesialis-Generalis,
Bukan sebagai pilihan ideologis, melainkan sebagai strategi epistemik.
1. Generalis: Membuka Peta Ilmu, Bukan Menguasai Seluruh Wilayah
Generalis bukan orang yang dangkal, tetapi orang yang memiliki peta. Ia mengenal garis besar disiplin ilmu, hubungan antar bidang, dan fungsi masing-masing dalam bangunan syari’at.
Para ulama menegaskan :
“Barang siapa tidak menguasai dasar-dasar (ushul),maka ia akan terhalang dari pencapaian.” (1)
Generalis adalah fase pengenalan sadar, bukan penguasaan penuh. Di tahap ini, seorang penuntut ilmu menyentuh setiap disiplin secukupnya, mengetahui mana ilmu alat dan mana ilmu maqoshid -tujuan, serta tidak terjebak pada fanatisme satu bidang sebelum memahami lanskap keseluruhan. Tanpa fase ini, spesialisasi berubah menjadi lorong sempit yang kehilangan arah.
Catatan kaki:
(1) Adapun yang dimaksud dengan “ushul” (dasar-dasar) di sini adalah kaidah dan fondasi yang menjadi pijakan seseorang dalam belajar.
Sedangkan makna “terhalang dari pencapaian” menurut para ulama adalah orang yang tidak mengetahui kaidah-kaidah belajar dan tahapan-tahapannya tidak akan mampu mencapai hakikat penguasaan ilmu.
Barang siapa ingin meraih seluruh ilmu dalam satu waktu, maka ilmu itu akan cepat hilang darinya. Oleh karena itu, seseorang harus terlebih dahulu meletakkan kaidah-kaidah dasar, kemudian membangun cabang-cabang ilmu di atasnya (Syarh Hilyah tholibil ilm 1/72,).
2. Spesialis: Menyelam Dalam, Bukan Melompat-Lompat
Setelah peta terbentuk, tadarruj menuntut pendalaman terarah. Inilah spesialisasi: memilih satu atau dua disiplin untuk digeluti secara serius, metodologis, dan berkelanjutan.
‘Abdul ‘Aziz bin Ibrohim bin Qosim memperingatkan dalam bukunya Addalil ila al-Mutun al-‘Ilmiyyah, 1/4, :
من رام العلم جملةً ذهب عنه جملةً
“Barang siapa ingin mengambil ilmu sekaligus, ia akan kehilangan semuanya.”
Sedangkan Spesialisasi tanpa tadarruj hanya melahirkan klaim, bukan kompetensi. Karena itu para ulama meletakkan kaidah emas:
1. Mukhtashor – Kitab ringkas.
2. Mutawassit – Lanjutan menengah.
3. Muthowwal – Kitab kitab yg berjilid dengan pembahasan yang komprehensif.
Maka mulai dari kitab
1. Mukhtashor (Matan Ringkas) untuk membangun kerangka dasar,
2. Lalu beranjak naik ke mutawassit (Matan lanjutan menengah) untuk memahami penjabaran tambahan, atau sebagai jembatan pengatar ke kitab lanjutan.
3. Hingga kemudian ke muntahi/ Muthowwal (Kitab kitab besar yang mu’tabar untuk penuntasan pemahaman..) Dalam rangka menguasai khilaf, dalil, metodologi dan argumentasi.
Ini bukan soal kecepatan, tetapi ketepatan arah.
3. Spesialis-Generalis: Model Ulama Rabbani
Puncak tadarruj bukan sekadar spesialis, melainkan Spesialis-Generalis, mendalam di satu bidang, matang di banyak bidang.
Inilah ciri ulama besar. Mereka tidak terkurung oleh keahlian sempit, namun juga tidak terapung dalam pengetahuan umum.
– Imam Asyafi’i, misalnya, adalah faqih, muhaddits, ahli bahasa, bahkan hujjatun fillugoh dan ushuliyy.
– Imam ibnu taimiyyah, bampir di semua disiplin ilmu punya karyanya.
– Imam Assyuthi, hampir disemua disiplin ilmu beliu mengarang kitab Alfiyah.
– Amin Asyingqiti, beliau Seorang Ushuliyy, juga mufassir demikian Ahli dalam dispilin Mantiq.
– Ahmad umar Al Hazimi, hampir semua alfiyah beliau hafalkan. mulai dari Alfiyah ibnu malik dalam nahwu, Alfiyah al iroqi & assyuyuthi dalam mutholahul hadist, kaukabu assati’ alfiyah dalam ushul fiqih demikian muroqissu’ud juga alfiyah dalam Ushul fiqih, dll.
Ini semua bukan karena mereka menguasai semuanya sekaligus, tetapi karena tadarruj yang disiplin.
Ibn Taymiyyah dan para ulama mengatakan bahwa:
العلم لا يعطيك بعضه حتى تعطيه كلك
“Ilmu tidak akan memberimu sebagian, hingga engkau menyerahkan dirimu sepenuhnya.”
Ucapan ini sangat Masyhur, diriwayatkan dan ditegaskan oleh para ulama dalam beberapa karya, di antaranya:
– Mizan al-‘Amal 1/344 — Abu hamid al-Ghozali (w. 505 H)
– Tadzkirat as-Sami‘ wa al-Mutakallim fī Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim 1/71 — al-Badr Ibn Jama‘ah (w. 733 H)
– al-Akhlaq az-Zakiyyah fil adab attholib al-Mardiyyah 1/134 — Ahmad bin Yusuf al-Ahdal (ulama kontemporer)
– Mantholaqot tholib al-‘Ilm 1/111 — Muhammad husain Ya‘qub (ulama kontemporer)
Maknanya, ilmu menuntut totalitas kesungguhan waktu, ketekunan hati, kedisiplinan metode, dan keikhlasan niat. Selama seseorang masih setengah hati, ilmu pun hanya akan datang setengah-setengah.
Kemudian Spesialis-Generalis adalah buah dari kesabaran metodologis, bukan ambisi instan. Ilmu Alat sebelum Ilmu Maqoshid: Kunci sebelum pintu. Para ulama sepakat bahwa ilmu alat didahulukan sebelum ilmu maqoshid, kecuali ilmu hal (1) sebagaimana kunci didahulukan sebelum membuka pintu.
Catatan kaki :
(1) yakni ilmu amaliah yang bersifat fardhu ‘ain yang harus lebih dahulu di pelajari, sperti Bab Tauhid, aqidah ahlusunnah, bab toharoh, kemudian bab sholat, shaum dst.
Termasuk Ilmu Alat
Nahwu, Shorof, Balaghoh, mutholah Hadits, Ushul Tafsir, Mantiq, Maqoshidu syari’ah dan Ushul Fiqh dst.
Tanpa alat, seseorang maka membaca teks tanpa memahami struktur, menukil dalil tanpa mengerti validitas, berfatwa dengan semangat namun tanpa pijakan.
Imam Al-Syatibi dan yang lainnya menegaskan satu kaidah yang masyhur bahwa:
الحكم على الشيء فرع عن تصوره
“Menetapkan hukum atas sesuatu bergantung pada pemahamannya.”
Dan pemahaman tidak mungkin benar luas tajam mendalam tanpa ilmu alat.
Sedangkan Ilmu Maqoshid – tujuan,
Sejak Tauhid dan Aqidah, Tafsir kemudian Hadits, Tazkiyatun Nafs, demikian Fiqh dan Akhlaq juga Siroh, sebagimana yang di jelaskan para ulama dalam bab ulumu syari’ah.
Ilmu maqoshid adalah tujuan, tetapi tujuan tanpa alat berubah menjadi slogan, bukan ilmu.
Maka Ilmu adalah jalan, bukan pajangan, Tadarruj mengajarkan kerendahan hati epistemik, bahwa tidak semua bisa dikuasai, tidak semua harus diselesaikan sekarang, dan tidak semua yang diketahui layak untuk dibicarakan. Ilmu bukan lomba kecepatan, tetapi perjalanan kesadaran.
Ia menuntut ketertiban, kesabaran, dan pilihan yang bijak. Maka ambillah dari setiap disiplin yang terbaik, susun langkah dari mukhtashor sampai ke muntahi dahulukan alat sebelum maqoshid, dan bercita-citalah menjadi spesialis yang mumpuni terarah, bukan generalis yang terapung, dan bukan pula spesialis yang buta arah. Karena ilmu yang tidak tertata akan melelahkan, dan semangat tanpa metodologi hanya akan menghabiskan umur.
Wamaa taufiqi illa billah,Wallohul musta’an.