Artikel

Pamer Aset Berkedok Silaturahim

Oleh: Ustadz Nofa Miftahudin, S.Th.I

Syawal selalu datang dengan wajah yang sama, hangat, penuh silaturahmi, dan dibalut suasana kemenangan. Namun di balik itu, ada pertanyaan yang jarang kita ajukan dengan jujur kepada diri sendiri, apakah kita benar-benar menang?

Ramadhan telah berlalu. Malam-malam panjang yang dulu kita isi dengan doa, tilawah, qiyamul lail, kucuran air mata taubat, kini mulai tergantikan oleh kunjungan, obrolan, dan hiruk-pikuk pertemuan. Tidak ada yang salah dengan itu. Islam adalah agama yang indah, yang merawat hubungan manusia. Namun yang perlu diwaspadai adalah ketika Syawal perlahan berubah arah, dari ruang menjaga ketakwaan menjadi panggung mempertontonkan kehidupan.

Tulisan ini bukan untuk memvonis siapapun, namun untuk mengantisipasi apabila bisikan untuk pamer aset pribadi saat silaturahim hendaknya segera dinetralisir dan diikuti untuk istighfar. Meluruskan niat kembali bahwa kita silaturahim karena Allah Ta’ala bukan media ajang pamer aset. Na’uudzubillah min dzalik

Di antara anjuran ketika Syawal adalah bertakbir atas segala petunjuk-Nya dengan tujuan supaya kita menjadi pribadi yang pandai bersyukur. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Dan hendaklah kamu menyempurnakan bilangannya (Ramadhan), dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya, dan agar kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185).

Ayat ini sering kita dengar, tetapi jarang kita resapi. Ada pesan yang dalam di sana, bahwa setelah Ramadhan, yang diminta dari kita bukanlah euforia, melainkan pengagungan kepada Allah dan rasa syukur yang nyata. Selain syukur itu dapat kita lakukan dengan ucapan, maka syukur juga dapat kita wujudkan dengan cara menjaga dirinya dari apa yang ia tampilkan, dan dari apa yang ia sembunyikan.

Ada satu hal yang lebih halus, tetapi justru lebih berbahaya. Ia tidak disadari, tidak diakui, bahkan sering dibungkus dengan niat baik yaitu pamer. Syawal mempertemukan banyak orang. Dalam pertemuan itu, tanpa terasa, ada yang mulai menunjukkan, pakaian terbaiknya, kendaraan terbarunya, bahkan gaya hidupnya. Meskipun tidak semua bermaksud demikian. Namun hati manusia sangat mudah tergelincir. Apa yang awalnya sekadar “memakai yang bagus”, perlahan berubah menjadi “ingin dilihat”.

Padahal Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mengingatkan:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Ayat ini seperti menyindir diri kita bahwa kemuliaan tidak pernah bergantung pada apa yang tampak. Namun dinilai dari ketaqwaan.

Memiliki harta bukan kesalahan. Bahkan bisa menjadi jalan kebaikan. Namun yang perlu dijaga adalah hati agar tidak ikut “memiliki rasa lebih”. Rendah hati bukan berarti menyembunyikan nikmat, tetapi tidak menjadikan nikmat sebagai alat untuk merasa lebih tinggi. Namun menjadikan wasilah menuju ketaatan. Seperti ketika kita memiliki harta maka lebih leluasa untuk sedekah, berbagi kebaikan lebih luas. Karena kita meyakini bahwa sedekah itu tidak menjadikan harta kita berkurang. Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam bersabda:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ

“Sedekah tidak akan mengurangi harta.” (HR. Muslim).

Di sudut lain, ada yang memilih diam. Menahan diri dari pertemuan karena merasa tidak punya yang bisa ditunjukkan. Merasa kecil di tengah yang terlihat “lebih”. Padahal, bisa jadi justru di situlah letak kemuliaannya. Allah tidak pernah menilai pakaian seseorang. Tidak juga kendaraannya. Bahkan tidak pada rumah yang ia tempat. Allah melihat hati. Dan sering kali, hati yang paling bersih justru tumbuh dari kehidupan yang sederhana.

Syawal adalah bulan untuk menjaga, bukan melepas. Untuk merawat, bukan mengabaikan. Bukan tentang siapa yang paling terlihat, tetapi siapa yang paling ikhlas. Bukan tentang siapa yang paling mewah, tetapi siapa yang paling bertakwa.

Mungkin kita tidak bisa mengubah tradisi secara instan. Namun kita bisa memulai dari diri sendiri, meluruskan niat, menahan hati, dan menjaga apa yang telah kita bangun di Ramadhan. Karena pada akhirnya, yang akan kita bawa bukanlah apa yang sempat kita tampilkan, tetapi apa yang berhasil kita jaga yaitu keikhlasan dalam setiap beramal kebaikan. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga hati kita yaitu selalu ikhlas ketika akan, sedang dan setelah melaksanakan amal shalih. Aamiin yaa Robb.

Lihat lebih banyak

Artikel terkait

Back to top button