Artikel

Reshuffle Panglima Perang Terbaik dan Keikhlasannya

Di masa kekhalifahan Abu Bakar al-Shiddiq, Khalid bin al-Walid menjadi komandan pasukan untuk memerangi orang-orang murtad dalam perang Riddah. Kemenangan demi kemenangan diraih pasukan muslim selama kepemimpinan Khalid bin al-Walid.

Budi Eko Prasetiya, SS
Amir Mudiriyah Tapal Kuda

Ini tulisan tentang apa?

Tulisan ini bukan analisis dari kebijakan reshufle kabinet suatu pemerintahan. Tulisan ini membahas tentang sosok manusia yang punya potensi terbaik saat jahiliyah dan berharga saat dibuka hidayah Islam. Serta bagaimana sikap terbaiknya saat di puncak kegemilangan karir maupun saat menjadi orang biasa-biasa saja.

Reshuffle itu Apa?

Dikutip dari situs Cambridge Dictionary, Reshuffle artinya perombakan. Istilah ini berasal dari bahasa Inggris sehingga tidak tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Istilah reshuffle sendiri sering kali digunakan untuk merujuk pada suatu peristiwa ketika posisi orang atau hal dalam kelompok atau organisasi mengalami perubahan.

Dalam “Longman Dictionary of Contemporary English”, reshuffle artinya ketika pekerjaan orang-orang yang bekerja di suatu organisasi berubah, terutama di pemerintahan. Kamus bisnis Longman juga menyatakan, reshuffle bertujuan untuk memindahkan orang dalam suatu organisasi besar seperti pemerintaha dari satu pekerjaan ke pekerjaan lainnya.

Reshuffle dalam sejarah Islam

Ketika perang menjadi salah satu jalan dalam perjuangan, komandan pasukan adalah figur utama. Komandan yang ahli strategi dan jago memimpin para prajurit merupakan sosok yang paling dihormati dan bisa jadi dikultuskan.

Situasi seperti ini pernah terjadi di masa awal Islam. Tepatnya menimpa kepada salah satu sahabat yang bergelar ‘Saifullah’ (Pedang Allah), yaitu Khalid bin al-Walid. Saking hebatnya Khalid dalam memimpin pasukan, Umar bin Khattab takut umat Islam terlampau memujanya sehingga memutuskan untuk me “reshuffle” dari posisi komandan menjadi prajuriy biasa.

Gak kebayang jika ini terjadi di zaman sekarang, bisa jadi ini celah untuk makar, kudeta atau memberontak.

Latar Belakang Khalid bin al-Walid

Saat Jahiliyah, Khalid bin al-Walid termasuk dalam komandan pasukan bagi musyrik Quraisy dalam perang Badar, Uhud, dan Khandaq.

Ibnu Hisyam dalam Sirah Nabawiyyah, menyebutkan penyebab kekalahan terbesar pasukan Muslim dalam perang Uhud adalah karena taktik Khalid bin al-Walid. Khalid adalah komandan pasukan berkuda yang bersembunyi dibalik bukit Uhud, dan langsung menyerang ketika barisan pemanah meninggalkan pos yang telah ditentukan.

Ketika hidayah menyapa sang Panglima

Pasca perjanjian Hudaibiyyah, yakni perjanjian gencatan senjata antara Rasulullah saw dan kafir Quraisy, tepatnya pada permulaan awal tahun ke-6 H, Khalid bin al-Walid tergerak hatinya untuk masuk Islam. Kitab Shifat al-Shifat karya Abu al-Faraj Ibnu al-Jauzi menceritakan secara rinci kisah masuk Islamnya Khalid bin al-Walid ini.

Khalid biin al-Walid beberapa kali bermimpi bahwa ia berdiri di tengah-tengah lapangan hijau yang luas. Pada akhirnya Khalid tergerak untuk menyatakan Keislamannya kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam.

Di tengah jalan menuju Madinah, tepatnya di daerah Haddah, Khalid bertemu dengan ‘Amr bin ‘Ash dan Usman bin Thalhah. Ternyata dua orang ini pun memiliki maksud yang sama, hendak menyatakan keislaman di hadapan Rasulullah saw. Akhirnya mereka bergegas menuju Madinah dan sampai tepat pada tanggal satu bulan Shafar tahun ke-8 H, menyatakan diri masuk Islam dan berbaiat kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam.

Tugas Pertama

Setelah resmi memeluk Islam, Khalid bin al-Walid langsung bergabung dalam barisan kaum muslimin. Perang pertama yang diikutinya adalah perang Mu’tah melawan pasukan Romawi Timur di bawah kekuasaan kaisar Heraklius. Dalam catatan kitab al-Maghazi, perang ini terjadi pada tanggal 8 Jumadil Awwal tahun ke-8 H.

Pasukan muslim yang berjumlah 3000 orang melawan 200.000 paskan Byzantium (Romawi Timur). Zaid bin Haritsah didapuk menjadi komandan pasukan Muslim, kemudian Ja’far bin Abi Thalib sebagai komandan layer kedua, dan Abdullah bin Rawahah menjadi komandan layer ketiga. Ketiga komandan pasukan ini berakhir mati syahid di medan pertempuran.

Melihat panji pasukan muslim terlepas, Tsabit bin Aqram meraihnya, dan mencari-cari orang yang pantas memegang kendali. Melihat Khalid bin al-Walid, Tsabit berteriak, “Ambillah panji ini wahai Abu Sulaiman (julukan Khalid).”

Khalid menjawab, “Tidak. Engkau lebih berhak, engkau lebih lama memeluk Islam dan ikut dalam perang Badar.”

“Ambillah. Demi Allah! Aku mengambil panji ini hanya untukmu,” tegas Tsabit.

Lalu Tsabit menegaskan kepada pasukan, “Apakah kalian ridha terhadap Khalid?!”

“Ya. Kami ridha,” jawab pasukan serentak.

Khalid bin al-Walid pun mengambil alih komando pasukan. Dengan ketangkasan dan kecerdasannya mengatur strategi perang, pasukan muslim akhirnya meraih kemenangan.

Karir yang gemilang

Terdapat potongan hadits yang mengajarkan kita betapa mahalnya hidayah dan betapa berharganya potensi kebaikan yang bermanfaat dalam perjuangan Islam, dan ini relevan dengan sosok Khalid bin al-Walid

فَخِيَارُكُمْ فِى الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُكُمْ فِى الإِسْلاَمِ إِذَا فَقِهُوا

“Yang terbaik di antara kalian di masa jahiliyah adalah yang terbaik dalam Islam jika dia itu fakih (paham agama). (HR. Bukhari no. 4689).

Di masa kekhalifahan Abu Bakar al-Shiddiq, Khalid bin al-Walid menjadi komandan pasukan untuk memerangi orang-orang murtad dalam perang Riddah. Kemenangan demi kemenangan diraih pasukan muslim selama kepemimpinan Khalid bin al-Walid.

Begitu pun ketika Khalid diutus Abu Bakar al-Shiddiq ke Irak, pasukan muslim mampu menguasai al-Hirah. Setelah perang ini, Khalid kemudian diperintahkan menuju Damaskus, membantu pasukan yang dipimpin Usamah, dan kembali berhasil meraih kemenangan yang gemilang.

Padahal hebat kok direshuffle

Di tengah-tengah pertempuran, Khalifah Abu Bakar wafat dan digantikan Umar bin Khattab yang memutuskan untuk mengganti Khalid bin al-Walid dengan Abu Ubaidah bin al-Jarrah. Padahal tidak ada kesalahan apa pun yang dilakukan Khalid.

Kitab al-Bidayah wa al-Nihayah merekam pernyataan Umar bin Khattab terkait pencopotan Khalid.

“Sungguh aku tidak mencopot Khalid bin al-Walid karena marah atau dia berkhianat. Tetapi manusia telah terfitnah dan aku ingin mereka tahu bahwa Allahlah yang membuat kemenangan,” ujar Khalifah Umar.

Sikap terbaik pasca reshuffle

Setelah tidak lagi menjabat sebagai panglima, Khalid bin al-Walid tetap patuh pada perintah komandan Abu Ubaidah Ibnu al-Jarrah. Khalid bukanlah tipe sahabat yang gila jabatan dan kekuasaan.

Sikap terbaik Khalid adalah teladan bagi setiap muslim dalam menjaga keikhlasan berjuang di jalan Allah.

Syaikh Abdul Qadir bin Abdul Aziz dalam “Al Umdah fie i’daadi ‘uddah” mengatakan

وَمِنْ عَلَامَاتِ صِدْقِ النِّيَّةِ: أَلَّا يَتَغَيَّرَ ثَبَاتُكَ عَلَى الطَّاعَةِ بِمَدْحِ النَّاسِ لَكَ أَوْ بِذَمِّهِمْ، وَأَلَّا يَتَغَيَّرَ ثَبَاتُكَ بِالْمَنْعِ وَالْعَطَاءِ، وَأَلَّا يَتَغَيَّرَ ثَبَاتُكَ وَإِنْ تَفَرَّقَ عَنْكَ السَّائِرُونَ مَعَكَ عَلَى دَرْبِ الْجِهَادِ، وَأَلَّا تَسْتَوْحِشَ مِنْ قِلَّةِ السَّالِكِينَ. فَإِنْ تَأَثَّرَ عَزْمُكَ وَثَبَاتُكَ بِشَيْءٍ مِنْ هَذَا، فَأَنْتَ لِغَيْرِ اللَّهِ تَعَالَى تَعْمَلُ.

Diantara tanda-tanda keikhlasan niat adalah : Ketaatanmu tidak berubah karena orang memuji atau mencelamu, Ketabahanmu tidak berubah karena diberi sesuatu atau tidak diberi sesuatu. Ketabahanmu tidak terpengaruh meskipun orang yang berjalan bersamamu di jalan jihad memisahkan diri darimu, Ketabahanmu tidak berubah meskipun sedikit orang yang mengikutinya. Jika kesungguhan dan ketabahanmu terpengaruh karena semua itu, maka berarti amalnya bukan karena Allah.

Akhirnya Khalid bin al-Walid menghembuskan napas terakhir pada tahun 21 H di kota Homs, dalam perjuangannya membela agama Allah Swt. Sebagian riwayat seperti tertulis dalam Siyar A’lam al-Nubala disebutkan bahwa Khalid wafat di Madinah al-Munawwarah. Atas kepergiannya ini, Khalifah Umar bin al-Khattab amat terpukul dengan kepergian Khalid. Wallahu A’lam.

Lihat lebih banyak

Artikel terkait

Back to top button