Artikel

Sumpah Pemuda dan Pembebasan Baitul Maqdis

Oleh: Budi Eko Prasetiya, SS
Direktur Griya Quran Al Hafizh Jember

Pemuda hebat adalah yang berani bertekad mewujudkan ambisi besarnya. Ambisi yang tak sebatas untuk memuaskan ego pribadi. Ambisi yang bermanfaat besar bagi kemaslahatan banyak orang. Pemuda yang hebat adalah yang berani bersumpah mewujudkan sumpahnya. Dan, itu pernah terekam istimewa dalam jejak sejarah. Kisah nyata yang menggugah.

Kisah nyata yang menjadi inspirasi para generasi penerusnya. Mari kita bahas lagi bagaimana pemuda hebat itu dilahirkan. Bagaimana pula peran orang tuanya dibalik kehebatannya. Bagaimana pula ada guru hebat yang menempanya.

Inilah sosok Shalahuddin Al Ayyubi. Ketika namanya dibahas ada kaitan erat dengan Palestina. Ada kaitan erat sinergi orang tua guru dalam membimbingnya

Tak dipungkiri, kisah Palestina tidak akan lepas dari sosok Shalahuddin Ayyubi. Sang Pembebas Palestine dari cengkeraman Pasukan Salib. Sosok yang telah jauh-jauh hari telah dipersiapkan dengan penuh cinta oleh Ayah-Ibunya dan juga para guru. Ada figur orang tua terbaik, yakni Najmuddin Ayyubi dan Guru terbaik yakni Nuruddin Zanki yang berperan besar dalam kegemilangan Shalahuddin.

Sang Guru, Nuruddin Zanki adalah pemimpin yang selalu optimis. Mewariskan keteladanan bagi penerusnya serta kecintaan yang luar biasa kepada Allah dan Jihad fi sabilillah. Di era kepemimpinannya, Nuruddin mengerahkan kemampuan terbaiknya lahir dan batin dalam membebaskan Al-Quds dari cengkraman tentara Salib, menghindari konflik dengan sesama umat Islam, menyatukan wilayah-wilayah Islam di Syiria sehingga menarik simpati publik secara luas.

Berbagai pertempuran dahsyat antara umat Islam yang dipimpinnya dengan pasukan Salib kerap terjadi. Berbagai serangan yang dilakukannya berhasil melemahkan pasukan Salib hingga terpecah belah. Walhasil, sekitar 50 kota dan benteng yang sebelumnya dikuasai pasukan Salib berhasil direbut. Pada 570 H/1174 M, kekuatan Islam telah terbentang dari Iraq ke Syria, Mesir, hingga Yaman.

Ketika saat yang dinantikan untuk merebut Baitul Maqdis pun kian dekat. Namun takdir Allah berkata lain. Nuruddin meninggal akibat penyakit sebelum menuai benih-benih perjuangan yang tersemai. Perjuangannya kemudian dilanjutkan sang murid, Shalahuddin Ayyubi.

Dimulai Dari Persiapan Terbaik

Kemuliaan ilmu dan kegemilangan hidup Shalahuddin Ayyubi ternyata sudah terukir semenjak dirinya belum dilahirkan. Bahkan sebelum orang tuanya saling bertemu.

Dikutip dari Kitab “Shalah Ad-Din Al-Ayubbi ; Bathal Hiththin wa Muharrir Al-Quds Min Ash-Shalibiyyin (532-589 H)” yang ditulis oleh Dr. Abdullah Nashih ‘Ulwan, menyebutkan bahwa Ayahnya, Najmuddin Ayyub masih melajang hingga di usia paruh baya-nya. Pamannya, Asaduddin turut risau terkait status keponakannya tersebut.

Asaduddin pun bertanya, “Saudaraku, mengapa kamu belum menikah?” Najmuddin pun menjawab, “Aku belum menemukan yang cocok!”, jawabnya singkat.

Asaduddin pun mencoba membantu, “Maukah aku lamarkan seseorang untukmu?” ujarnya. “Dia adalah Puteri Malik Syah, anak seorang Sultan Muhammad bin Malik Syah yang merupakan Raja Bani Saljuk, atau juga pada putri Nidzamul Malik, seorang menteri agung Abbasiyah” tekan Asaduddin meyakinkan saudaranya tersebut.

Najmuddin menjawab, “Mereka juga tidak cocok denganku”.

Asaduddin pun bertanya, “lantas siapa yang cocok bagimu?”, seketika Najmuddin pun menjawab dengan lantang. Ini jawabnya,
“Aku menginginkan istri yang shalihah yang bisa menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang dia didik dengan baik hingga jadi pemuda dan ksatria yang mampu mengembalikan Baitul Maqdis ke tangan kaum muslimin.”

Jawaban itu cukup mengejutkan Asaduddin. “Dimana kau mau mendapatkan perempuan yang seperti itu?”. Najmuddin menjawab, “Barang siapa ikhlas niat karena Allah akan Allah karuniakan pertolongan.”

Selang beberapa hari, Najmuddin duduk bersama seorang Syaikh di masjid Tikrit dan berbincang-bincang disana. Datanglah seorang gadis memanggil Syaikh dari balik tirai dan Syaikh tersebut berbicara dengan si gadis itu.

Tanpa sengaja Najmuddin mendengar Syaikh berkata pada gadis itu, “Kenapa kau tolak utusan yang datang ke rumahmu untuk meminangmu?” Gadis itu menjawab, “Wahai, Syaikh. Ia adalah sebaik-baik pemuda yang punya ketampanan dan kedudukan, tetapi ia tidak cocok untukku.”

Syaikh itu pun bertanya, “Siapa yang kau inginkan?”, Perempuan tersebut dengan tegas mengungkapkan: “Aku ingin seorang pemuda yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan darinya anak yang menjadi ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum Muslimin”

Seketika itu Najmuddin berdiri dan memanggil sang Syaikh, “Aku ingin menikah dengan gadis ini, ini yang aku inginkan. istri shalihah yang menggandeng tanganku ke surga dan melahirkan anak yang dia didik jadi ksatria yang akan mengembalikan Baitul Maqdis kepada kaum Muslimin.” Perempuan tersebut menyetujuinya dan Syaikh pun melanjutkan hubungan mereka hingga ke jenjang pernikahan.

Selang peristiwa tersebut, Shallahuddin Al Ayyubi pun dilahirkan dari dua insan sholeh-sholehah ini yang bercita-cita membangun kejayaan Islam. Keinginan mulia yang kelak diwujudkan anaknya 49 tahun kemudian. Hingga kemudian 52 kota dan istana di dalam dan sekitar Yerusalem jatuh ke tangan Shalahuddin atas kuasa Allah.

Penaklukkan besar hasil didikan orang tua yang membangun dan menjaga cinta tidak atas dasar nafsu dan kesenangan duniawi semata, namun cinta yang menempatkan Allah dan syariat Nya lebih dari segalanya, bahkan melebihi dari kecintaan kepada diri mereka sendiri.

Shalahuddin Ayyubi lahir atas kemuliaan cinta dan kekuatan tekad Ayah-Ibu dan Gurunya. Ada kisah Cinta yang membuktikan kekuatan sumpah mereka yang begutu indah dan nyata, yang tak pernah sepadan dengan kisah cinta romantis yang manipulatif dan fiktif. Kisah cinta yang melahirkan berlimpah kisah heroik yang akan berakhir dengan kembalinya Al Quds kepangkuan kaum Muslimim bahkan hingga berakhirnya kehidupan.

Sumpah yang menghasilkan dua kemenangan hebat

Sejarah mencatat bahwa Salahuddin menjadi wazir di Mesir pada usia 31 tahun, tepatnya pada tahun 1169. Ia kemudian menjadi sultan yang berkuasa atas Mesir, Suriah, Yaman, dan Palestina, dan mendirikan Dinasti Ayyubiyah.

Salahuddin adalah pahlawan paling mengagumkan yang pernah dipersembahkan oleh peradaban Islam sepanjang abad VI hingga VII Hijriah. Salahuddin al-Ayyubi (1138-1193) yang di Barat dikenal dengan nama Saladin, memiliki tempat yang sangat terhormat di kalangan umat Islam, terutama karena Salahuddin adalah pejuang muslim yang berhasil merebut kembali kota suci Yerusalem pada 1187 setelah dikuasai tantara salib selama hampir 90 tahun.

Ketika pasukan salib dikalahkan, yang dilakukan Salahuddin al-Ayyubi bukanlah menjadikan orang-orang Nasrani sebagai budak. Ia malah membebaskan sebagian besar orang-orang Nasrani yang ditawan tanpa dendam.

Padahal pada tahun 1099, ketika pasukan salib dari Eropa merebut Yerusalem, 70 ribu orang muslim di kota itu dibantai dan sisa-sisa orang Yahudi digiring ke sinagog untuk dibakar.

Berkat Salahuddin, umat dan peradaban Islam terselamatkan dari kehancuran akibat serangan dari kaum salib. Kebijakan inilah yang menjadikan pasukan muslim meraih 2 kemenangan sekaligus, kemenangan secara militer dan secara moral.

Lihat lebih banyak

Artikel terkait

Check Also
Close
Back to top button