Artikel

Syawal Bukan Bulan Pelampiasan

Oleh: Ustadz Abu Fakhri
Staff Sariyah Tarbiyah Jamaah Ansharu Syariah wilayah Jawa Timur.

Ramadhan telah berlalu, semoga semua amal dan ibadah kita semua diterima oleh Allah Ta’ala. Semoga kita semua dipertemukan kembali bulan Ramadhan. Aamiin yaa Robb

Tujuan Allah Ta’ala menghadiahkan syari’at puasa adalah supaya menjadi hamba yang bertaqwa. Allah Ta’ala berfirman :

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 183).

Maka bila seorang hamba menunaikan ibadah puasa dengan niat dan cara yang benar inshaa Allah harapan besar dia mendapatkan titel Muttaqin di hadapan Allah Ta’ala. Sebuah titel yang sangat bergengsi baik di dunia sampai akhirat. Pemberian titel dari Rabb pencipta manusia dan seluruh makhluk di bumi maupun langit serta makhluk yang ada di antara keduanya.

Dapat dikatakan pula bahwa Bulan Ramadhan adalah bulan mengubah status sosial hamba di dunia dan akhirat. Maka seyogyanya bila seseorang setelah menjalankan ibadah puasa ramadhan dengan baik dan benar inshaa Allah akan mengubah hati, ucapan dan perilakunya semakin baik.

Menurut riset seseorang untuk mengubah atau membiasakan perilaku yang baik menjadi kebiasaan membutuhkan 21 sampai 30 hari. Sedangkan puasa Ramadhan didesain oleh Allah Ta’ala dilaksanakan selama 29 atau 30 hari. Maka ini membuktikan bahwa orang yang menunaikan puasa Ramadhan dengan baik dan benar akan mengubah kebiasaan yang awalnya kurang baik menjadi lebih baik. Yang sudah memiliki kebiasaan baik maka akan berubah menjadi lebih baik lagi.

Apalagi di dalam bulan Ramadhan terdapat obral pahala super dahsyat. Amalan sunnah dinilai seperti ibadah wajib, ibadah wajib dilipat gandakan. Tidak berhenti pada itu saja. Allah Ta’ala juga memberi hadiah dahsyat pula dimana ibadah 1 malam lebih baik dari 1000 bulan, yaitu lailatul qadr. Allah Ta’ala berfirman :

لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ

“Lailatul qadar itu lebih baik daripada seribu bulan.” (Q.S Al Qadr : 3).

Asyiknya lagi lailatul qadr berada di 10 akhir bulan Ramadhan. Dimana seseorang bila melakukan aktifitas rutinitas 7 hari pertama itu merupakan tantangan yang cukup berat. 14 hari mulai bosan menyapa. Dengan adanya Doorpriz lailatul qadr ini menjadikan pemicu semangat untuk beramal shalih yang meledak-ledak.

Maka walaupun bulan Ramadhan telah berlalu dan berlanjut bulan Syawal in shaa Allah semangat beramal shalih tetap menggelora. Bukan malah sebaliknya. Menganggap bulan Ramadhan adalah Bulan Pengengkangan dan bulan Syawal adalah Bulan Pelampiasan. Kami sampaikan bahwa Bulan Syawal Bukan Bulan Pelampiasan. Justru Bulan Syawal adalah sebagai tolok ukur keberhasilan seorang hamba dalam melewati Bulan Ramadhan dengan baik.

Semoga Allah Ta’ala senantiasa melimpahkan keistiqomahan di atas kebenaran kepada kita semua. Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam mengajarkan kita do’a supaya tetap istiqomah :

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

Wahai Zat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu,” (HR. Tirmidzi, Ahmad, dan Hakim)

Allah Ta’ala juga mengajarkan kita doa supaya tetap istiqomah yang diabadikan di dalam Al Qur’an :

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

Artinya: “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau karena sesungguhnya Engkau Maha Pemberi Karunia.” (QS. Al Imran: 8).

Lihat lebih banyak

Artikel terkait

Check Also
Close
Back to top button