News

Ustadz Ahmad Tohir: Kehadiran di Majelis Ilmu Adalah Bukti Kesungguhan Iman

BANTEN (ansharusyariah.com)— Di tengah kesibukan hidup yang kian padat, banyak orang terjebak dalam rutinitas tanpa arah. Aktivitas terus berjalan, namun tak sedikit yang merasakan kehampaan. Pesan inilah yang mengemuka dalam Kajian Tarbiyah Jamaah Ansharu Syariah Wilayah Banten yang digelar pada Ahad (3/5/2026).

Dalam tausiyahnya, Katibah Sariyah Tarbiyah Ansharu Syariah Banten Ustadz Ahmad Tohir menekankan, bahwa kehadiran di majelis ilmu bukan sekadar rutinitas, melainkan bentuk kesungguhan seorang muslim dalam menempatkan akhirat sebagai prioritas.

“Kehadiran seseorang di majelis taklim mencerminkan sejauh mana ia menghargai ilmu dan para pembawanya,” ungkapnya.

Ia menambahkan, perjalanan para asatidz yang rela menempuh jarak jauh demi menyampaikan ilmu menjadi teladan bahwa dakwah dibangun dengan pengorbanan, bukan sekadar kata-kata.

“Pengorbanan itu menjadi cermin bahwa dakwah dibangun dengan kesungguhan, bukan sekadar ucapan,” katanya.

Kehadiran Bukan Sekadar Jumlah

Menurut Ustadz Ahmad Tohir, sedikitnya jumlah peserta dalam sebuah kajian tidak selalu menunjukkan kelemahan. Justru, hal tersebut bisa menjadi bagian dari proses seleksi atau saringan Ilahi.

“Allah menguji siapa yang bersegera memenuhi panggilan ilmu dan siapa yang lebih memilih kesibukan dunia,” ungkapnya.

Ia menegaskan, kehadiran yang sedikit namun dilandasi keikhlasan jauh lebih bernilai dibanding keramaian yang kehilangan ruh perjuangan.

Dalam pesannya, ia mengingatkan agar urusan dunia tidak mengalahkan prioritas akhirat. Aktivitas bekerja dan mencari nafkah tetap penting, namun tidak boleh menjadi penghalang dalam menuntut ilmu. Seorang Muslim, lanjutnya, harus mampu menempatkan dunia di tangan, bukan di hati.

Teknologi sebagai Sarana Dakwah

Di era digital, Ustadz Ahmad Tohir juga mengajak jamaah memanfaatkan teknologi sebagai sarana menyebarkan ilmu. Dokumentasi kajian, rekaman, hingga ringkasan materi dapat menjadi jalan dakwah bagi mereka yang tidak bisa hadir. Dengan cara tersebut, teknologi diharapkan menjadi alat kebaikan, bukan sumber kelalaian.

Kajian ini menjadi pengingat bahwa kualitas seorang Muslim tidak diukur dari banyaknya aktivitas, tetapi dari kesungguhan dalam merespons panggilan kebaikan.

Di tengah “saringan” yang terus berlangsung, setiap individu diajak untuk bermuhasabah, apakah termasuk golongan yang bersegera hadir dalam majelis ilmu, atau justru tertahan oleh urusan dunia.

Lihat lebih banyak

Artikel terkait

Back to top button