Ustadz Abu Al Iz: Kesibukan Menentukan Arah Hidup Seorang Muslim
BOGOR (ansharusyariah.com)— Suasana khusyuk menyelimuti Pondok Pesantren Al-Furqon, Cileungsi, Kabupaten Bogor, Ahad (3/5/2026), saat Jamaah Ansharu Syariah menggelar kajian bulanan yang dihadiri puluhan jamaah dari berbagai wilayah Jakarta.
Kajian yang disampaikan Ustadz Abu Al Iz Lc., M.Ag tersebut mengajak jamaah merenungi makna kesibukan dalam kehidupan. Menurutnya, aktivitas manusia pada akhirnya akan menentukan arah hidup menuju keridhaan Allah atau justru terjebak dalam kesibukan dunia.
“Ukuran hidup bukan sekadar sibuk atau tidak, tetapi sejauh mana kita bersama Allah dalam ibadah,” ujarnya di hadapan peserta.
Ia menjelaskan, seseorang bisa terlihat aktif mengejar dunia karena dorongan hawa nafsu, namun ada pula yang tampak tenang tetapi tetap dikuasai oleh nafsu. Karena itu, ukuran sejati adalah kedekatan kepada Allah dan kualitas ibadah.
Menempatkan Dunia pada Posisi yang Tepat
Dalam pemaparannya, Ustadz Abu Al Iz menegaskan prinsip hidup seorang Muslim bersama Allah dalam ketaatan, tegas terhadap hawa nafsu, serta menjadikan dunia sekadar sarana, bukan tujuan.
Ia mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara urusan dunia dan akhirat, tanpa menjadikan dunia sebagai prioritas utama.
Pilar Kehidupan Umat
Kajian juga mengulas pemikiran Imam Al-Ghazali tentang empat pilar tegaknya kehidupan umat, yakni ketahanan pangan (siroah), pemenuhan kebutuhan sandang, pembangunan sarana (albina), serta pengelolaan kepemimpinan (siyasah).
Keempat aspek tersebut dinilai saling melengkapi dalam menjaga keberlangsungan kehidupan umat, baik secara fisik maupun spiritual.
Ustadz Abu Al Iz juga menekankan bahwa kepemimpinan dalam Islam bukan sekadar jabatan, melainkan amanah besar untuk mengarahkan umat semakin dekat kepada Allah.
Peran ulama juga dinilai penting, tidak hanya dalam menguasai ilmu, tetapi juga mengamalkan dan memberikan solusi bagi persoalan umat.
Suasana kajian semakin reflektif ketika disampaikan pesan hikmah dari Ali bin Abi Talib mengenai empat golongan penopang kehidupan umat, serta nasihat Umar bin Khattab tentang hakikat musibah.
Pesan tersebut mengingatkan bahwa ujian terbesar bukanlah kesulitan dunia, melainkan ketika iman seseorang terganggu.
Arah Hidup Seorang Muslim
Kajian ditutup dengan penegasan bahwa kehidupan sejati adalah ketika seseorang mampu menjaga hubungan dengan Allah dalam setiap aktivitasnya.
Dari Cileungsi, para jamaah pulang membawa lebih dari sekadar ilmu mereka membawa arah hidup, komitmen, dan pengingat bahwa setiap kesibukan akan menentukan nasib menuju surga atau terjebak dalam dunia.