Perkuat Kehidupan Berjamaah, Ustadz Ismail Tekankan Muhasabah dan Kejujuran Diri

BANTEN (ansharusyariah.com)— Muhasabah diri menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga kualitas kehidupan berjamaah. Evaluasi terhadap niat, kejujuran, ukhuwah, keikhlasan, dan kesabaran dinilai perlu dilakukan secara berkala agar semangat dalam menjalankan aktivitas keagamaan tetap terjaga.
Pesan tersebut disampaikan Ustadz Ismail dari Majelis Syariah Jamaah Ansharu Syariah dalam Kajian Kolosal Ansharu Syariah Banten di Masjid Ibnu Abbas, Jelumprit, Waringin Kurung, Banten, Ahad (4/10/2026).
Kajian yang berlangsung pukul 09.00 hingga 11.30 WIB itu membahas hakikat muhasabah serta sejumlah aspek yang perlu diperhatikan dalam kehidupan berjamaah.
Muhasabah Bukan Sekadar Evaluasi Kegiatan
Ustaz Ismail menjelaskan bahwa muhasabah tidak hanya berkaitan dengan evaluasi program atau aktivitas organisasi. Lebih dari itu, muhasabah merupakan proses introspeksi untuk melihat kembali kualitas hubungan seseorang dengan Allah Subhanallahu wa Taala sekaligus komitmennya dalam menjalankan kebaikan.
Menurutnya, perjalanan waktu dapat membuat semangat seseorang dalam melakukan aktivitas keagamaan mengalami penurunan.
Karena itu, evaluasi terhadap diri perlu dilakukan agar berbagai bentuk kelesuan dapat diketahui dan diperbaiki sejak dini.
Dalam kajian tersebut, muhasabah dikaitkan dengan nasihat yang masyhur:
“Hasibu anfusakum qabla tuhasabu, wa zinuha qabla tuzanu fil-yaumil-akbar.”
Nasihat tersebut mengandung pesan agar seorang Muslim senantiasa mengevaluasi dan menimbang amal perbuatannya sebelum datang hari ketika seluruh amal dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Lima Aspek Muhasabah
Ustaz Ismail kemudian menguraikan lima aspek yang dapat menjadi bahan evaluasi dalam kehidupan berjamaah.
Pertama, memperkuat keyakinan terhadap nilai amal.
Menurutnya, berbagai aktivitas kebaikan yang dilakukan bersama dapat menjadi bagian dari ibadah apabila dilaksanakan dengan niat yang benar dan sesuai tuntunan syariat.
Menuntut ilmu, pelayanan sosial, membantu masyarakat, menjaga kebersihan masjid, kegiatan kemanusiaan, hingga aktivitas media dan pengelolaan infak dapat menjadi sarana menghadirkan kemaslahatan bagi umat.
Keyakinan terhadap nilai amal tersebut penting untuk menjaga motivasi agar seseorang tidak mudah merasa berat dalam menjalankan aktivitas kebaikan.
Kedua, jujur terhadap diri sendiri.
Aspek berikutnya adalah shidq atau kejujuran. Dalam kehidupan berjamaah, kejujuran tidak hanya berkaitan dengan ucapan, tetapi juga bagaimana seseorang mengelola waktu dan menjaga komitmennya.
Setiap anggota perlu melakukan evaluasi secara jujur terhadap dirinya, termasuk ketika tidak dapat mengikuti suatu kegiatan. Apakah ketidakhadiran tersebut disebabkan uzur yang memang tidak dapat ditinggalkan atau karena kurang mampu mengatur prioritas.
Karena itu, kemampuan menyeimbangkan pekerjaan, keluarga, dan agenda pribadi menjadi bagian dari proses muhasabah.
Ketiga, memperkuat ukhuwah Islamiyah.
Kehidupan berjamaah membutuhkan hubungan yang saling menguatkan. Setiap anggota tidak hanya bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri, tetapi juga memiliki peran dalam menjaga semangat saudara-saudaranya.
Kehadiran dalam kegiatan bersama, misalnya, dapat menjadi dukungan moral bagi anggota lain. Kebersamaan juga diharapkan mencegah munculnya perasaan berjuang sendirian yang dapat melemahkan semangat.
Ukhuwah dapat dibangun melalui berbagai kegiatan bersama, termasuk kegiatan yang diarahkan untuk pembinaan, mempererat persaudaraan, dan memperbarui semangat.
Keempat, menjaga keikhlasan.
Ustaz Ismail mengingatkan pentingnya terus mengevaluasi niat dalam menjalankan aktivitas keagamaan. Keikhlasan tidak hanya diuji ketika seseorang mendapatkan pujian, tetapi juga ketika menghadapi berbagai persoalan dan dinamika kehidupan.
Ia juga mengingatkan agar kepedulian terhadap umat Islam tidak berubah menjadi fanatisme kelompok. Semangat bekerja sama dalam kebaikan dan ketakwaan perlu dijaga sebagai bagian dari upaya memperluas ukhuwah Islamiyah.
Kelima, sabar dan istiqamah.
Aspek terakhir adalah kesabaran dan istiqamah. Menurut Ustaz Ismail, perjalanan dalam menjalankan kebaikan merupakan proses panjang sehingga seseorang tidak semestinya hanya berorientasi pada hasil yang cepat.
Yang lebih penting adalah kemampuan untuk tetap bertahan dalam lingkungan yang baik, menjaga semangat, dan terus melakukan perbaikan diri.
Dalam proses tersebut, lingkungan pertemanan dan komunitas yang baik dapat menjadi sarana untuk saling menjaga dan menguatkan.
Muhasabah Dimulai dari Diri Sendiri
Kajian tersebut mengajak peserta menjadikan muhasabah sebagai kebiasaan pribadi, bukan sekadar agenda formal.
Setiap individu perlu berani mengevaluasi kualitas niat, komitmen, kepedulian terhadap saudara, ukhuwah, keikhlasan, serta kesabaran dan istiqamah dalam menjalankan kebaikan.
Muhasabah bukan tentang mencari kesalahan orang lain, melainkan keberanian untuk melihat kekurangan diri dan berusaha memperbaikinya.
Melalui kajian tersebut, peserta diajak memahami bahwa keberhasilan dalam kehidupan berjamaah bukan hanya diukur dari banyaknya program yang terlaksana, tetapi juga dari kualitas orang-orang yang menjalankannya.
Kejujuran, keikhlasan, ukhuwah, kesabaran, dan istiqamah menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan aktivitas kebaikan dan kemanfaatannya bagi umat.



