Khutbah Jum’at Edisi 514 | Menjaga Persatuan Umat dan Komitmen Kebangsaan
Refleksi Menyambut Hari Sumpah Pemuda, 28 Oktober

Dikeluarkan Oleh Sariyah Dakwah Jama’ah Ansharu Syari’ah
KHUTBAH PERTAMA
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْوَحْدَةِ وَالِاعْتِصَامِ بِحَبْلِهِ، وَنَهَانَا عَنِ الْفُرْقَةِ وَالْخِصَامِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Ketakwaan bukan hanya terlihat dalam ibadah pribadi, tetapi juga dalam kejujuran, kepedulian, menjaga persaudaraan, dan tidak menyakiti sesama.
Hadirin yang dirahmati Allah, bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang tidak memiliki perbedaan, melainkan bangsa yang mampu menjaga persatuan di tengah perbedaan. Kita hidup dengan beragam suku, bahasa, budaya, dan latar belakang. Perbedaan ini dapat menjadi kekuatan apabila dikelola dengan baik, tetapi dapat menjadi sumber perpecahan apabila disertai kesombongan, kebencian, dan sikap saling merendahkan.
Menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober, kita perlu mengingat sejarah perjuangan bangsa. Pada masa penjajahan, perjuangan yang berjalan sendiri-sendiri menghadapi tantangan besar. Kesadaran bahwa persatuan merupakan kekuatan bersama semakin tumbuh di kalangan pemuda. Puncaknya, pada 27–28 Oktober 1928, Kongres Pemuda II melahirkan ikrar yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda.
Ikrar tersebut menegaskan tiga komitmen: bertumpah darah satu, Tanah Air Indonesia, berbangsa satu, Bangsa Indonesia, dan menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia. Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa perbedaan asal-usul tidak boleh menghalangi cita-cita bersama. Semangat inilah yang perlu kita rawat, bukan hanya dalam upacara dan peringatan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Islam telah memberikan tuntunan yang sangat jelas tentang pentingnya persatuan. Allah berfirman dalam Surah Ali ‘Imran ayat 103:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
Artinya: “Berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.”
Ayat ini mengajarkan bahwa persatuan harus dibangun di atas kebenaran, bukan kepentingan sesaat. Perbedaan pendapat tidak harus berakhir dengan permusuhan. Kita boleh berbeda dalam pilihan dan pandangan, tetapi tetap wajib menjaga adab, keadilan, dan persaudaraan. Jangan sampai perbedaan politik, organisasi, atau kelompok membuat kita mudah menghina, memfitnah, bahkan memutus hubungan dengan sesama.
Allah juga menjelaskan tujuan adanya keberagaman dalam Surah Al-Hujurat ayat 13:
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا
Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal.”
Ayat ini menegaskan bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling merendahkan. Kita harus saling mengenal, bekerja sama dalam kebaikan, dan memberikan manfaat kepada sesama. Kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh suku, jabatan, kekayaan, atau kelompoknya, tetapi oleh ketakwaannya kepada Allah.
Jamaah Jumat yang dirahmati Allah, menjaga persatuan juga berarti menjaga lisan dan jari-jari kita ketika menggunakan media sosial. Jangan mudah menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya, jangan mengadu domba, dan jangan menjadikan perbedaan sebagai bahan penghinaan.
Allah mengingatkan dalam Surah Al-Hujurat ayat 6 agar kita memeriksa berita yang datang sehingga tidak mencelakakan orang lain karena ketidaktahuan.
Komitmen kebangsaan seorang Muslim bukan sekadar mengaku mencintai tanah air, melainkan membuktikannya melalui tindakan nyata: menaati aturan yang baik dan tidak bertentangan dengan syariat, menjaga keamanan, menghormati hak sesama warga, membantu masyarakat yang membutuhkan, serta berkontribusi membangun bangsa dengan ilmu, akhlak, dan keahlian.
Cinta kepada tanah air tidak boleh menjadi alasan untuk membenarkan kezaliman, sebagaimana semangat beragama tidak boleh dijadikan alasan untuk merusak persaudaraan dan kehidupan bersama.
Rasulullah ﷺ bersabda:
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ، لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ.
Artinya: “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Ia tidak menzaliminya, tidak membiarkannya dalam kesulitan, dan tidak merendahkannya.” (HR. Muslim).
Hadis ini mengingatkan kita bahwa persaudaraan harus diwujudkan melalui sikap nyata. Jangan menzalimi, jangan membiarkan orang yang membutuhkan pertolongan, dan jangan merendahkan orang lain. Jika nilai-nilai ini diterapkan dalam keluarga, lingkungan, organisasi, dan kehidupan berbangsa, insyaallah persatuan akan semakin kuat dan masyarakat menjadi lebih damai.
Karena itu, menyambut Sumpah Pemuda hendaknya menjadi momentum untuk memperbaiki diri. Mari kita jadikan perbedaan sebagai sarana saling mengenal, persatuan sebagai kekuatan, dan pengabdian sebagai bukti kepedulian. Pemuda harus dibekali iman, ilmu, akhlak, serta semangat berkarya agar menjadi generasi yang menjaga agama sekaligus memberi manfaat bagi bangsa.
بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah, marilah kita mengambil pelajaran dari Sumpah Pemuda bahwa cita-cita besar membutuhkan persatuan dan pengorbanan.
Sebagai umat Islam dan bagian dari bangsa Indonesia, kita memiliki tanggung jawab untuk menjaga kerukunan, menolak permusuhan, melawan fitnah, serta berkontribusi sesuai kemampuan masing-masing. Jangan hanya menuntut bangsa menjadi lebih baik, tetapi mulailah dari memperbaiki diri, keluarga, dan lingkungan kita.
Marilah kita berdoa kepada Allah agar diberikan kekuatan untuk menjaga iman, persaudaraan, dan kedamaian negeri ini.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
Ya Allah, ampunilah kaum Muslimin dan Muslimat, mukminin dan mukminat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia.
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ.
Ya Allah, perbaikilah hubungan di antara kami, satukanlah hati kami, dan tunjukilah kami jalan-jalan kedamaian.
اَللَّهُمَّ احْفَظْ بِلَادَنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا، وَأَدِمْ عَلَيْهَا الْأَمْنَ وَالسَّلَامَ، وَوَفِّقْ شَعْبَهَا لِلْعَدْلِ وَالْخَيْرِ وَالصَّلَاحِ.
Ya Allah, jagalah negeri kami, Indonesia. Limpahkan keamanan dan kedamaian kepadanya, serta bimbinglah rakyatnya menuju keadilan, kebaikan, dan kemaslahatan.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.
Download file PDF:




