Artikel

Desember yang Berulang, Hikmah, Musibah, dan Muhasabah

Oleh: Ustadz Abu Latief
Katibah Dakwah Ansharu Syariah Jakarta

Bulan Desember sering dikenal sebagai waktu penutup tahun, saat banyak orang melakukan perjalanan, liburan, dan berbagai aktivitas di luar rumah. Anggota keluarga yang lama terpisah kembali berkumpul, anak-anak yang menuntut ilmu di luar kota pulang, dan suasana hangat pun menyelimuti rumah. Alangkah bahagianya bisa menumpahkan rindu, berkumpul dalam satu rumah, dan berlibur bersama.

Namun pada saat yang sama, di banyak wilayah Indonesia, Desember juga menjadi puncak musim hujan. Di bulan inilah sering datang ujian berupa banjir, longsor, angin kencang, ombak laut yang tinggi, hingga arus lalu lintas yang meningkat tajam. Tidak jarang semua itu berujung pada kecelakaan, kerusakan, dan berbagai musibah lainnya.

Sebagai seorang Muslim, kita diajarkan untuk tidak takut secara berlebihan, tetapi bersiap diri, berikhtiar, dan memperbanyak doa. Musibah bukan sekadar fenomena alam, tetapi juga peringatan dan pelajaran agar kita semakin dekat kepada Allah.

Tinjauan Alam (Sunnatullah)

1. Musim Ujian adalah Bagian dari Sunnatullah

Allah mengatur segala sesuatu dengan hikmah. Musim hujan yang deras, angin kencang, dan cuaca yang berubah-ubah adalah bagian dari ketetapan-Nya.

Allah berfirman:

مَآ أَصَابَ مِنْ مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللّٰهِ ۗ وَمَنْ يُؤْمِنْۢ بِاللّٰهِ يَهْدِ قَلْبَهُ ۗ وَاللّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa kecuali dengan izin Allah. Barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu,” (QS. At-Taghābun: 11).

Ayat ini mengajarkan bahwa semua kejadian baik yang kita pandang sebagai nikmat maupun ujian berlangsung di bawah kendali Allah. Karena itu, kita tidak perlu panik, tetapi tetap waspada dan bersandar kepada-Nya.

2. Musibah sebagai Pengingat untuk Menguatkan Iman

Setiap ujian membawa pesan agar kita mengintrospeksi diri. Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam bersabda:

إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ

“Jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2396).

Bulan Desember sering membawa fenomena alam yang berat. Hal ini seharusnya meningkatkan kewaspadaan iman kita dengan cara:

memperbanyak istighfar, memperbaiki kualitas shalat, menahan diri dari kelalaian dan menjaga keistiqamahan, serta merenungkan nikmat yang selama ini kita abaikan.

Allah berfirman:

وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَأَنْتَ فِيهِمْۚ وَمَا كَانَ اللّٰهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ

“Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan,” (QS. Al-Anfāl: 33).

Musibah bukan semata hukuman, tetapi juga bentuk perhatian Allah agar hamba-hamba-Nya kembali kepada-Nya.

3. Perintah untuk Berikhtiar dan Menjaga Diri

Islam tidak mengajarkan sikap pasrah tanpa usaha. Kita justru dituntut berusaha menjaga diri dan lingkungan, tidak merusak alam yang justru akan berbalik membawa bencana.

Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam bersabda:

“Berusahalah untuk mendapatkan manfaat, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah,” (HR. Muslim).

4. Mewaspadai Perusakan Alam

Hal ini tidak kalah penting, bahkan sangat mendasar. Sekuat apa pun usaha lain dilakukan, jika perusakan alam tidak dicegah seperti penggundulan hutan yang semestinya menjadi penahan air di daerah pegunungan maka bencana mudah datang. Seperti yang terjadi di bulan-bulan ini, penggundulan hutan dengan berbagai dalih “kepentingan yang lebih luas” terbukti mendatangkan banjir bandang. Terlebih lagi jika semua itu hanya demi kepentingan bisnis segelintir konglomerat.

Sangat miris dan memilukan ketika akhirnya banjir bandang pun terjadi.

Allah telah menjelaskan:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar),” (QS. Ar-Rūm: 41).

Ini adalah bagian dari sunnatullah sekaligus peringatan agar kita menjaga alam dari perusakan oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab.

Menolong Sesama di Musim Musibah

Ketika beberapa daerah diuji dengan banjir bandang akibat hujan ekstrem, seperti di Sumatra Barat, Medan, dan Aceh bahkan sampai menghilangkan beberapa desa saat itulah kita mendapat kesempatan untuk memperbanyak amal.

Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya,” (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu‘jam Al-Awsath, no. 5787).

Rasulullah ﷺ juga bersabda:

اللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

“Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya,” (HR. Muslim, no. 2699).

Bagi kita yang diselamatkan dari musibah, kondisi ini adalah ladang amal yang luas. Minimal, kita menyumbangkan sebagian harta yang kita miliki dan tidak melupakan saudara-saudara kita dalam doa-doa yang kita panjatkan.

Memperbanyak Doa agar Dijauhkan dari Musibah

Musibah hanya bisa dihindarkan dengan izin Allah. Karena itu, memperbanyak doa perlindungan dari bencana (al-balā’) adalah bentuk pendekatan diri sekaligus pengagungan kepada Allah Yang Maha Kuasa.

Tinjauan Akidah Berdasarkan Nash Al-Qur’an

Sebagai umat Islam yang mengimani Al-Qur’an, kita meyakini bahwa setiap berita di dalamnya baik yang nyata maupun gaib, yang sudah terjadi ataupun yang belum terjadi, yang tersurat maupun tersirat semuanya benar.

1. Secara Internal: Kondisi Kaum Muslimin

Maraknya kemaksiatan di tengah-tengah kaum Muslimin dan minimnya peran para pemuka agama dalam menjalankan tugas amar makruf nahi mungkar adalah faktor serius. Allah berfirman:

“Mengapa para ulama dan para pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sungguh, sangat buruk apa yang mereka perbuat,” (QS. Al-Māidah: 63).

Allah juga mengingatkan:

وَاتَّقُوْا فِتْنَةً لَّا تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَاۤصَّةً ۚ وَاعْلَمُوْٓا أَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya,” (QS. Al-Anfāl: 25).

2. Secara Bukti dan Kenyataan Eksternal

Setiap memasuki bulan Desember, kita menyaksikan perayaan sakral umat lain yang di dalamnya terdapat keyakinan bahwa Allah memiliki anak. Subhānahu wa Ta‘ālā ‘ammā yashifūn.

Padahal Allah berfirman dalam surat Maryam:

تَكَادُ السَّمٰوٰتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا

“Hampir-hampir saja langit pecah, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh (karena ucapan itu),

أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمٰنِ وَلَدًا

karena mereka menganggap (Allah) Yang Maha Pengasih mempunyai anak.

وَمَا يَنْۢبَغِيْ لِلرَّحْمٰنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا

Dan tidak mungkin bagi (Allah) Yang Maha Pengasih mempunyai anak.” (QS. Maryam: 90–92).

Jelas sekali, wahai saudara-saudaraku kaum Muslimin, langit hampir pecah dan bumi hampir terbelah karena ucapan itu. Yang menyedihkan, sebagian kaum Muslimin justru ikut mengucapkan selamat atas hari raya tersebut dengan dalih toleransi, tanpa memahami konsekuensi akidah di baliknya.

Wahai kaum Muslimin, jangan sampai kita mengaminkan ucapan yang membuat langit dan bumi murka. Apakah kita tidak meyakini ayat-ayat Allah itu?

Penutup

Jadikan Desember sebagai Bulan Muhasabah

Desember bukan bulan yang menakutkan. Ia justru menjadi pengingat bahwa kehidupan ini penuh perubahan dan ujian. Kewaspadaan, persiapan, kekuatan akidah yang bersumber dari Kalam-Nya, serta kedekatan kita kepada Allah adalah benteng terbaik dalam menghadapi segala keadaan.

Semoga Allah menjaga kita, keluarga kita, dan seluruh kaum Muslimin yang saat ini sedang diuji atau tengah ditegur oleh Allah. Semoga kesabaran mereka berbuah pahala, pelajaran dari musibah itu meningkatkan iman, dan segala yang hilang diganti dengan yang lebih baik.

Yā Hayyu Yā Qayyūm, Yā Dzāl-Jalāli wal-Ikrām, Yā Mujība as-Sāilīn, Yā Samī‘ad-Du‘ā, Taqabbal du‘āanā. Āmīn.

Lihat lebih banyak

Artikel terkait

Back to top button