Mendidik Anak Berarti Mendidik Diri Sendiri, Perspektif Tarbiyah, Psikologi, dan Dakwah Islam
Allah memerintahkan perbaikan diri sebelum pembinaan keluarga, dan teladan Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam menegaskan bahwa akhlak, kelembutan, serta konsistensi jauh lebih efektif daripada sekadar instruksi
Oleh: Ustadz Surip Hidayat, S.Pd.I., M.Pd.
Pendahuluan
Dalam perspektif Islam, pendidikan anak tidak semata-mata berorientasi pada pembentukan perilaku anak, tetapi berawal dari pembangunan jiwa orang tua. Prinsip ini selaras dengan konsep tazkiyatun nafs yang menempatkan penyucian jiwa sebagai pondasi keberhasilan hidup.
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.” (QS. Asy-Syams: 9).
Ayat ini menegaskan bahwa kesuksesan spiritual seseorang menjadi fondasi utama dalam membangun keluarga yang kuat. Di saat banyak pendekatan modern menitikberatkan pada metode dan teknik pengasuhan, Islam justru memulai dari kualitas akhlak pendidiknya, yaitu orang tua.
Hakikat Mendidik Anak
Perspektif Tarbiyah Islam
Konsep tarbiyah dalam Islam berakar pada makna rabb, yakni mendidik, menumbuhkan, dan menyempurnakan secara bertahap.
“Dan Rabb-mu Maha Mendidik.” (QS. Al-Fatihah: 2).
Dalam proses tarbiyah, anak belajar terutama melalui keteladanan.
“Sungguh pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagimu.” (QS. Al-Ahzab: 21).
Ayat ini menunjukkan bahwa pendidikan anak harus dimulai dari perilaku nyata orang tua, bukan sekadar nasihat lisan.
Perspektif Psikologi yang Selaras dengan Dalil
Psikologi modern mengenal konsep emotional contagion, yaitu kecenderungan anak meniru emosi dan sikap orang tua. Islam telah jauh sebelumnya menegaskan prinsip ini.
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6).
Menariknya, kata dirimu didahulukan sebelum keluargamu, menunjukkan bahwa perbaikan diri adalah syarat utama keberhasilan pendidikan keluarga.
Perspektif Dakwah Islam
Dalam Islam, dakwah paling efektif bukanlah ceramah, melainkan keteladanan.
“Serulah manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik.” (QS. An-Nahl: 125).
Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam juga bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban.” (HR. Bukhari).
Orang tua, dengan demikian, adalah da’i pertama dan utama bagi anak-anaknya.
Mengapa Mendidik Diri Sendiri Menjadi Kunci
Pertama, anak meniru akhlak, bukan sekadar kata-kata.
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.” (HR. Ahmad).
Kedua, ketidakkonsistenan antara ucapan dan perbuatan orang tua dapat merusak proses tarbiyah.
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan?” (QS. As-Saff: 2).
Ketiga, anak sangat peka terhadap emosi orang tua. Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam bersabda:
“Tidaklah kelembutan ada pada sesuatu melainkan ia akan menghiasinya.” (HR. Muslim).
Keempat, tarbiyah diri melahirkan kesabaran, kelembutan, dan kebijaksanaan.
“Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153).
Sifat-sifat inilah yang terbukti sangat memengaruhi perkembangan psikologis dan karakter anak.
Model Self-Tarbiyah Parenting Berdasarkan Dalil
1. Tazkiyah (Pembersihan Diri)
Setiap orang tua dituntut untuk bermuhasabah dan memperbaiki diri secara berkelanjutan.
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya.” (QS. Al-Hasyr: 18).
Disertai dengan memperbanyak istighfar:
“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh Dia Maha Pengampun.” (QS. Nuh: 10).
2. Tahdzib (Perbaikan Akhlak dan Emosi)
Islam menekankan pengendalian emosi, terutama amarah.
“Bukanlah orang kuat itu yang menang bergulat, tetapi yang mampu menahan marah.” (HR. Bukhari).
Termasuk menjaga lisan:
“Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari).
3. Uswah (Keteladanan)
Model pendidikan paling efektif adalah contoh nyata.
“Sungguh pada diri Rasulullah terdapat teladan yang paling baik.” (QS. Al-Ahzab: 21).
Solusi Praktis bagi Orang Tua
Beberapa langkah sederhana namun fundamental berdasarkan dalil syariat:
1. Muhasabah dan perbaikan diri setiap hari:
(QS. Al-Hasyr: 18) perhatikan apa yang telah diperbuatnya.
2. Bangun emosi positif dengan dzikir:
“Dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
3. Komunikasi nabawiyah:
Lembut dan jelas (QS. Ali Imran: 159)
“Maka dengan rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut kepada mereka.”
4. Menjauhi marah:
(HR. Bukhari) Jangan marah.
5. Adab rumah tangga:
Salam (HR. Muslim): Sebarkan salam.
Kebersihan At-thahārah syathrul īmān kebersihan sebagian dari iman.
6. Hadir penuh bersama anak:
Nabi Shalallahu alaihi wa Sallam tidak pernah memalingkan wajah dari orang yang diajak bicara, teladan presence.
7. Menjadikan keluarga sebagai ladang dakwah: (QS. At-Tahrim:6) jagalah diri dan keluargamu.
Kesimpulan
Mendidik anak pada hakikatnya adalah proses mendidik diri sendiri. Allah memerintahkan perbaikan diri sebelum pembinaan keluarga, dan teladan Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam menegaskan bahwa akhlak, kelembutan, serta konsistensi jauh lebih efektif daripada sekadar instruksi. Perpaduan antara prinsip tarbiyah Islam, psikologi, dan dakwah mengarah pada satu kesimpulan: orang tua yang baik akan melahirkan generasi yang baik.
Rekomendasi
1. Prioritaskan pembinaan diri:
(QS. Asy-Syams: 9) beruntunglah yang menyucikan jiwa.
2. Dampingi anak dengan emosi stabil:
(QS. Ali Imran: 159) lembutlah.
3. Bangun rumah dengan tadabbur dan dialog:
(QS. An-Nahl: 125) ajaklah dengan hikmah.
4. Perkuat ibadah sebagai pusat ketenangan:
(QS. Ar-Ra’d: 28) hati tenang dengan dzikir.
5. Mengikuti majelis ilmu:
(HR. Muslim) Tidaklah suatu kaum berkumpul untuk mempelajari kitab Allah kecuali turun ketenangan.
Implikasi Berdasarkan Dalil
1. Untuk keluarga:
Rumah menjadi sakinah (QS. Ar-Rum: 21).
2. Untuk anak:
Terbentuk generasi berakhlak (QS. Luqman): 13–19 (kurikulum pendidikan Luqman).
3. Untuk lembaga pendidikan:
Orang tua sebagai mitra (QS. Al-Ma’idah: 2) tolong-menolong dalam kebaikan.
4. Untuk masyarakat:
Terbentuk umat terbaik (QS. Ali Imran: 110).