Artikel

Inspirasi Ketahanan Pangan dalam Kisah Nabi Yusuf a.s.

Oleh: Ustadz Nofa Miftahudin, S.Th.I

Isu ketahanan pangan tidak asing di telinga kita, sampai-sampai kita menganggap karena saking seringnya mendengar isu ini bahwa isu ini adalah bagaikan fatamorgana, karena mengingat bahwa alam di Indonesia begitu mempesona dengan berbagai sumber daya alam tersedia semua. Namun kondisi krisis pangan global juga bisa memungkinkan menyapa di negeri kita yaitu Indonesia.

Seiring meningkatnya ancaman krisis global. Perubahan iklim, ketegangan geopolitik, hingga ketergantungan pada impor pangan menjadi tantangan serius bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Dalam situasi seperti ini, umat Islam sejatinya memiliki rujukan penting yang bersumber langsung dari Al-Qur’an, yakni kisah Nabi Yusuf a.s.

Al-Qur’an tidak hanya menyuguhkan kisah Nabi Yusuf a.s. sebagai narasi moral, tetapi juga sebagai pelajaran strategis dalam menghadapi krisis. Dalam Surah Yusuf ayat 47, Allah mengabadikan perencanaan matang yang disampaikan Nabi Yusuf A.S kepada penguasa Mesir:

قَالَ تَزْرَعُونَ سَبْعَ سِنِينَ دَأَبًا فَمَا حَصَدْتُّمْ فَذَرُوهُ فِي سُنۢبُلِهِ إِلَّا قَلِيلًا مِّمَّا تَأْكُلُونَ

“Dia (Yusuf) berkata: ‘Hendaklah kamu bercocok tanam selama tujuh tahun berturut-turut; maka apa yang kamu panen hendaklah kamu biarkan di bulirnya kecuali sedikit untuk kamu makan.’” (QS. Yusuf [12] : 47).

Ayat ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan bukan konsep modern semata. Jauh sebelum teori ekonomi kontemporer berkembang, Al-Qur’an telah menampilkan model perencanaan pangan jangka panjang yang sistematis, rasional, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.

Perencanaan Saat Masa Kelapangan.

Pelajaran pertama yang dapat dipetik adalah pentingnya perencanaan saat kondisi lapang. Nabi Yusuf a.s. tidak menunggu krisis datang untuk bertindak. Justru pada masa tujuh tahun kesuburan, produksi pangan ditingkatkan dan konsumsi dikendalikan. Prinsip ini relevan dengan kondisi saat ini, ketika masyarakat cenderung konsumtif saat ekonomi membaik, tanpa memikirkan cadangan untuk masa sulit. Al-Qur’an mengajarkan bahwa masa berlimpah bukan alasan untuk berlebihan, melainkan kesempatan untuk menyiapkan keberlanjutan.

Penyimpanan yang Efisien dan Berkelanjutan. Instruksi agar gandum disimpan tetap di bulirnya mengandung hikmah besar. Bulir berfungsi sebagai pelindung alami yang menjaga biji dari kerusakan, hama, dan kelembapan. Menariknya, prinsip ini sejalan dengan temuan ilmu pangan modern yang menekankan pentingnya penyimpanan alami, kering, dan minim paparan udara.

Hal ini mengajarkan bahwa ketahanan pangan tidak selalu bergantung pada teknologi mahal. Kedisiplinan, pemahaman alam, dan manajemen yang baik justru menjadi kunci utama.

Etika Konsumsi dan Distribusi, Nabi Yusuf a.s. juga menekankan konsumsi secukupnya. Pangan tidak dihabiskan pada satu masa, melainkan didistribusikan secara terukur demi keberlangsungan hidup masyarakat. Etika ini sangat relevan di tengah realitas pemborosan makanan yang masih tinggi, sementara sebagian masyarakat lain kesulitan memenuhi kebutuhan dasar.

Dalam perspektif Islam, pangan bukan sekadar komoditas ekonomi, tetapi amanah sosial yang harus dikelola dengan tanggung jawab.

Relevansi bagi Indonesia. Meski Indonesia tidak menjadikan gandum sebagai pangan utama, prinsip yang diajarkan Nabi Yusuf a.s. dapat diterapkan pada beras, jagung, sorgum, dan pangan lokal lainnya. Ketahanan pangan dapat dibangun mulai dari keluarga, komunitas, pesantren, hingga lembaga keagamaan melalui penguatan lumbung pangan dan budaya menabung hasil panen.

Lebih jauh, ketahanan pangan merupakan bagian dari tujuan utama syariat Islam (maqasid syari‘ah), khususnya menjaga jiwa (hifz an-nafs). Karena itu, upaya mewujudkannya bukan sekadar kebijakan teknis, melainkan juga tanggung jawab moral dan keimanan.

Kisah Nabi Yusuf a.s. mengajarkan bahwa iman harus berjalan seiring dengan perencanaan dan ikhtiar. Al-Qur’an telah memberikan panduan yang jelas dan aplikatif dalam menghadapi krisis pangan. Tantangannya kini adalah bagaimana umat Islam dan para pemangku kebijakan mampu membaca, memahami, dan meneladani pesan tersebut secara nyata.

Di tengah ancaman krisis pangan global, kisah Nabi Yusuf a.s. kembali relevan sebagai inspirasi petunjuk bagi peradaban yang ingin bertahan dan berkeadilan. Dan lebih dari itu semoga Ummat Islam menyadari dan yakin dengan sepenuh hati bahwa Al Qur’an bukan hanya sekedar bacaan yang bernilai pahala namun menjadikan Al Qur’an sebagai petunjuk untuk menjalani kehidupan pada level pribadi, keluarga, masyarakat dan bernegara.

Lihat lebih banyak

Artikel terkait

Check Also
Close
Back to top button