Teladan Sa’ad bin Abi Waqqash Antara Bakti Kepada Orang Tua, Keteguhan Iman dan Kekuatan Doa
Oleh: Ustadz Budi Eko Prasetiya, SS
𝘈𝘮𝘪𝘳 𝘑𝘢𝘮𝘢𝘢𝘩 𝘈𝘯𝘴𝘩𝘢𝘳𝘶 𝘚𝘺𝘢𝘳𝘪𝘢𝘩 𝘔𝘶𝘥𝘪𝘳𝘪𝘺𝘢𝘩 𝘛𝘢𝘱𝘢𝘭 𝘒𝘶𝘥𝘢
Sa’ad bin Abi Waqash radhiyallahu ’anhu adalah satu dari 10 orang sahabat Rasulullah yang dijamin masuk surga. Ia memeluk Islam di usia 17 tahun. Usia yang bagi generasi sekarang dikenal dengan istilah Sweet Seventeen. Usia pencarian jati diri, pembentukan identitas dan tumbuhnya kemandirian. Sa’ad masuk Islam setelah mendengar dakwah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Sa’ad menyatakan keislamannya bersama beberapa orang sahabat nabi lainnya yakni Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, dan Thalhah bin Ubaidillah.
𝗧𝗲𝗿𝗵𝗮𝗹𝗮𝗻𝗴 𝗥𝗶𝗱𝗵𝗮 𝗜𝗯𝘂
Kehidupan Sa’ad begitu dilematis ketika ia berkomitmen memeluk agama Islam, namun terbentur ridha dari sang ibu. Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Kisah ini diangkat dari Tafsir al-Baghawi yang menceritakan asal mula turunnya surat al-‘Ankabut ayat 8:
وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
“Dan Kami wajibkan kepada manusia agar (berbuat) baik kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan-Ku dengan sesuatu yang engkau tidak mengetahui ilmu iu, maka jangan taati mereka. Kepada-Ku lah tempat kembalimu dan Aku beritakan kepadamu atas apa yang selalu kamu perbuat.” (QS Al-‘Ankabut: 8).
Pada saat Sa’ad mulai memeluk Islam, ibunya berusaha keras mencegahnya dengan mogok makan dan minum, berharap ia akan kembali ke agama berhala. Sikap tersebut bertahan hingga hampir mengakibatkan kematian ibunya. Ancaman yang dilontarkan tersebut membuat gaduh di masyarakat. Sa’ad pun dicemooh tega menelantarkan ibunya sendiri. Ia sering diejek: “Wahai anak yang ingin membunuh ibunya sendiri!”. Kalimat tersebut selalu dilontarkan kepada Sa’ad hingga diberi cap buruk sebagai anak durhaka. Kendati begitu, hal tersebut tidaklah digubris oleh Sa’ad. Ia tetap berpegang teguh pada pendiriannya.
Sa’ad juga tidak memperdulikan ajakan sang ibu untuk kembali lagi pada ajaran jahiliyah. Sang ibu pun melakukan aksi nekat dengan mengurung diri dan tidak makan serta minum beberapa hari lamanya. Bahkan, ia menampakkan dirinya di luar rumah tersengat matahari dan disapu dinginnya malam. Ia melukakannya hingga masuk keesokan harinya. Kemudian Sa’ad mendatangi sang ibu seraya berkata:
يَا أُمَّاهُ، لَوْ كَانَتْ لَكِ مِائَةُ نَفْسٍ فَخَرَجَتْ نَفْسًا نَفْسًا، مَا تَرَكْتُ دِيْنِي، فَلِيَ وَإِنْ شِئْتِ فَلَا تَأْكُلِي
“Wahai ibuku, seandainya engkau memiliki 100 nyawa, lalu nyawa itu melayang satu per satu demi memaksaku untuk keluar dari agamaku, niscaya aku tetap teguh pada pendirianku untuk tidak keluar dari agamaku. Aku tidak akan merespons ancaman-ancaman itu. Silakan saja jika memang tidak mau makan.” (HR. Muslim).
𝗕𝘂𝗮𝗵 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗞𝗲𝘁𝗲𝗴𝘂𝗵𝗮𝗻 𝗜𝗺𝗮𝗻
Melihat keteguhan keimanan Sa’ad terhadap Islam, akhirnya sang ibu menyerah dan membiarkan putranya tetap dalam Islam. Kisah Sa’ad inilah yang melatarbelakangi turunnya surah Luqman ayat 15 berikut ini:
وَاِنْ جَاهَدٰكَ عَلٰٓى اَنْ تُشْرِكَ بِيْ مَا لَيْسَ لَكَ بِهٖ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِى الدُّنْيَا مَعْرُوْفًاۖ وَّاتَّبِعْ سَبِيْلَ مَنْ اَنَابَ اِلَيَّۚ ثُمَّ اِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَاُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَ
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan
pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan,”
Kisah di atas memiliki hikmah penting bahwa anak memiliki kewajiban untuk taat kepada orang tua dalam kondisi dan situasi apapun. Bilamana diperintah untuk mengerjakan kebaikan dan ketaatan, maka harus dilakukan. Akan tetapi, Allah melarang untuk taat dalam hal yang menjerumuskan pada kemaksiatan.
لا طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah Azza wa Jalla.” [Diriwayatkan oleh Ahmad (1041), hadits shahih]
𝗗𝗶𝗷𝗮𝗺𝗶𝗻 𝗱𝗮𝗻 𝗗𝗶𝗱𝗼𝗮𝗸𝗮𝗻 𝗡𝗮𝗯𝗶
Selain dikenal sebagai anak yang berbakti kepada orang tua, sejarah mencatat beberapa hal yang dikenal orang mengenai kebaikannya. Sa’ad bin Abi Waqash juga mendapat keutamaan sebagai satu-satunya orang yang dijamin oleh Rasulullah dengan jaminan kedua orang tua beliau. Nabi Shalallahu alaihi wa Sallam berseru di tengah kecamuk Perang Uhud, “Panahlah, wahai Sa’ad! Ibu bapakku menjadi jaminan bagimu!”
Ali bin Abi Thalib mengenang momen ini, “Tidak pernah saya dengar Rasulullah mengatakan ibu bapak beliau sebagai jaminan bagi seseorang kecuali untuk Sa’ad!”
Ia mempunyai dua kekuatan yang sangat ampuh, yakni panah dan doanya. Jika ia memanah, selalu tepat sasaran. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memberikan rekomendasi kepadanya bahwa dia termasuk ahli surga. Maka, tak heran jika dia termasuk mujâbud da`wah (orang yang di kabulkan doanya). Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa.
اللَّهُمَّ اسْتَجِبْ لَهُ إِذَادَعاَك
Ya Allah Azza wa Jalla kabulkanlah doanya (Sa`d) jika dia berdoa
𝗗𝗼𝗮𝗻𝘆𝗮 𝗠𝗮𝗸𝗯𝘂𝗹
Salah satu rahasia kekuatan doa Saad adalah sikap dia yang berhati-hati menjaga kehalalan makanan, baik dari cara mendapatkan maupun dzat makanan itu sendiri. Dalam buku La Tahzan karya Syekh Aidh al-Qarni disebutkan, keakuratan doa yang dipanjatkan Saad selalu terjadi. Doa tersebut bahkan dapat terijabah sebelum tangan beliau diturunkan selesai mengucap doa.
Diceritakan, ketika ada seseorang yang menghina Sayyidina Ali bin Abi Thalib di hadapannya, beliau menasehati orang itu terkait larangan menghina sahabat Rasulullah. Namun, tetap saja orang tersebut mencemooh dengan semena-mena yang pada akhirnya membuat Saad lantas berdoa, “Ya Allah, cukupkanlah aku darinya menurut kehendak-Mu.”
Usai mengucapkan itu, tiba-tiba seekor unta lari dari arah Kufah. Unta itu berlari terus tanpa menoleh ke kanan maupun ke kiri dan langsung merangsek ke tengah-tengah kerumunan orang. Kemudian unta tersebut menabrak orang yang mencemooh Sayyidina Ali dan langsung menginjaknya.
Doa bagi penduduk Kuffah terkait fitnah kepemimpinannya
Ibnu Abdi Dunya dalam kitab Mujabud Da‘awah (Kairo, Maktabatul Qur’an: t.t) halaman 69-70 menjelaskan, suatu hari penduduk Kufah melaporkan Sang Gubernur Sa’d bin Abi Waqqash kepada Amirul Mu’minin Umar bin Khattab, bahkan mereka sampai berkata: “Sa’d bin Abi Waqqash shalatnya tidak sesuai dengan ajaran Nabi,”
Sebagai pemimpin yang bijaksana, Umar bin Khattab tidak langsung percaya begitu saja atas aduan masyarakat Kufah. Umar pun kemudian memanggil Sa’d bin Abi Waqqash untuk dimintai keterangan.
“Sesungguhnya aku shalat bersama mereka (penduduk Kufah) sebagaimana shalatnya Rasulullah, aku tidak menguranginya sedikit pun. Aku memanjangkan shalat di dua rakaat pertama dan meringankannya di dua rakaat terakhir,” jawab Sa’d dengan jujur.
Rupanya, Umar bin Khattab lebih percaya pada keterangan yang disampaikan Sa’d bin Abi Waqqash karena Umar tahu betul kepribadiannya. Namun demikian, untuk memastikan kebenarannya, Umar mengutus sejumlah orang pergi ke Kufah untuk menyelidiki dan menggali informasi tentang Sa’d bin Abi Waqqash. Semua utusan Umar bin Khattab menjalankan tugasnya dengan cermat.
Mereka berpencar mendatangi majelis-majelis di Kufah untuk menggali informasi tentang kepribadian dan perilaku Sa’d bin Abi Waqqash.
Setelah bekerja dengan amanah, “tim intelijen” Umar bin Khattab ini menyimpulkan bahwa Sa’d bin Abi Waqqash berada di jalan yang lurus. Penilaian ini disimpulkan berdasarkan fakta di lapangan bahwa orang-orang Kufah memuji dan menyebutkan kebaikan Saad.
Namun demikian, ketika menemui seseorang di sebuah masjid, ada seorang pria bernama Abu Sa’dah. Dia malah memfitnah dan menyampaikan informasi tidak baik tentang sosok Sa’d bin Abi Waqqash. “Sesungguhnya Saad tidak berlaku adil dalam hukum, tidak membagi secara merata, dan tidak memimpin pasukan dengan baik,” ucap pria itu.
Ketika mendengar fitnah dari Abu Sa’dah, Sa’d tidak banyak berkata apalagi membantah, ia hanya menengadahkan tangan seraya berdoa kepada Allah dengan doa berikut:
اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ كَاذِبًا فَأَعْمِ بَصَرَهُ، وَأَطِلْ فَقْرَهُ، وَعَرِّضْهُ لِلْفِتَنِ
“Ya Allah, jika dia berdusta, maka butakanlah matanya, perpanjanglah kemiskinannya, dan timpakanlah berbagai fitnah (ujian) kepadanya,”
Beberapa waktu kemudian, seseorang bernama Abdul Malik melihat sosok Abu Sa’adah, pria yang sebelumnya memfitnah Sa’d bin Abi Waqqash itu sedang menggoda sejumlah perempuan di lorong jalan.
Abdul Malik kemudian bertanya: “Bagaimana keadaanmu, wahai Abu Sa‘dah?”
Abu Sa’adah kemudian menjelaskan bahwa dirinya telah menerima hukuman dari Allah akibat fitnah yang ia lontarkan kepada Sa’d bin Abi Waqqash. Ia juga mengaku telah menjadi seorang tua yang terjebak dalam ujian hidup; menjadi buta, miskin, dan nafsunya tidak terkontrol, semuanya itu karena doa Sa’ad bin Abi Waqqash yang mustajab.