Islam dan Sunnah, Dua Sisi Satu Kepercayaan yang Tak Terpisahkan
Oleh: Ustadz Bahar Abdissalam
Segala puji bagi Allah yang telah memberi kita petunjuk kepada Islam, menganugerahkan Islam kepada kita, dan menjadikan kita termasuk umat terbaik. Kepada-Nya kita memohon taufik untuk melakukan apa yang Dia cintai dan ridhoi, serta perlindungan dari apa yang Dia benci dan murkai.
Dalam perjalanan keimanan seorang Muslim, seringkali kita mendengar ungkapan yang terasa sangat sederhana namun mengandung makna mendalam: “Islam adalah Sunnah, dan Sunnah adalah Islam.” Kalimat ini bukan sekadar retorika agama, melainkan prinsip fundamental yang menopang seluruh arsitektur kehidupan keagamaan umat.
Sunnah: Penjelas Sejati dari Al-Qur’an
Ketahuilah bahwa salah satu kekeliruan fatal dalam memahami agama Islam adalah mengasingkan Sunnah dari praktik keagamaan. Sunnah bukanlah sesuatu yang bersifat sekunder atau opsional. Ia adalah penjelas Al-Qur’an, penerang syariat, dan contoh praktik nyata agama yang Allah berikan melalui Nabi Muhammad ﷺ.
Seseorang tidak dapat mengaku “Islam” hanya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat tanpa mengikuti tuntunan Rasulullah ﷺ. Ini bagaikan seseorang yang mengaku mencintai sebuah kitab namun tidak pernah membaca isinya. Ikrar tanpa praktik hanyalah slogan kosong yang tidak memiliki akar dalam kehidupan nyata.
Allah dengan sangat jelas berfirman dalam Surah Al-Hasyr ayat 7:
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka ambillah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.”
Perintah ini bukan sekadar ajakan lembut, melainkan kewajiban yang ditegaskan oleh Allah sendiri kepada setiap Muslim. Begitu pula Nabi ﷺ memberikan peringatan yang sangat keras:
“Barang siapa mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak,” (HR. Bukhari dan Muslim).
Menjaga Keselamatan Beragama
Inilah mengapa Islam tanpa Sunnah akan melahirkan penyimpangan, bid’ah, dan agama yang mengikuti hawa nafsu belaka. Seseorang yang hanya mengikuti Al-Qur’an tanpa Sunnah akan mudah terjebak dalam penafsiran subjektif yang sesuai dengan keinginannya sendiri.
Sebaliknya, Sunnah tanpa Islam juga tidak bermakna, sebab Sunnah adalah bagian integral dari Islam itu sendiri bahkan merupakan cara satu-satunya untuk memahami dan mengamalkan Islam dengan benar.
Dengan demikian, hasil akhirnya sangat jelas:
– Islam adalah pokok agama, fondasi yang menopang seluruh keyakinan dan praktik.
– Sunnah adalah jalan memahami dan mengamalkan Islam dengan benar, kompas yang mengarahkan setiap langkah Muslim menuju kebenaran.
Keduanya tidak bisa dipisahkan. Siapa yang menginginkan keselamatan, baik di dunia maupun di akhirat, wajib berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman para Sahabat Radhiyallahu anhum mereka yang telah belajar langsung dari Nabi Muhammad ﷺ.
Jama’ah: Pilar Ketiga Keselamatan
Namun ada yang sering terlupakan. Termasuk dalam Sunnah adalah berpegang teguh kepada al-jama’ah persatuan kaum Muslimin di atas kebenaran yang didasarkan pada Tauhid dan ajaran Sunnah. Ini bukanlah sekedar ajakan untuk berkumpul secara fisik, tetapi persatuan yang lebih dalam: persatuan dalam aqidah dan manhaj (metode) yang benar.
Barang siapa membenci jama’ah dan memisahkan diri darinya atas dasar hawa nafsu, maka sungguh ia telah melepaskan ikatan Islam dari lehernya. Ia tidak hanya menjadi sesat, tetapi juga menyesat orang lain. Padahal Allah telah berfirman dengan jelas dalam Surah Ali ‘Imran ayat 103:
“Dan berpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali Allah, dan janganlah bercerai-berai.”
Nabi Muhammad ﷺ juga bersabda dengan penegasan yang kuat:
“Sesungguhnya tangan Allah bersama al-jama’ah.” (HR. Tirmidzi).
Ungkapan ini mengandung makna bahwa pertolongan Allah, bimbingannya, dan kerahmatan-Nya lebih dekat kepada mereka yang bersatu dalam kebenaran daripada mereka yang memisahkan diri.
Ketika Perpecahan Dimulai
Memisahkan diri dari jama’ah kaum Muslimin dengan mengikuti hawa nafsu, bid’ah, fanatisme golongan, atau memberontak terhadap prinsip syariat dapat menyeret seseorang ke dalam jurang kesesatan. Orang yang keluar dari jalan jama’ah mudah terjatuh pada pemikiran menyimpang, dan lebih mudah lagi untuk menyesatkan orang lain.
Biasanya, penyimpangan bermula dari tiga hal:
1. Meninggalkan jama’ah kaum Muslimin
2. Mengikuti hawa nafsu sendiri
3. Tertarik pada pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan Sunnah
Ketika seseorang memutuskan untuk berjalan sendiri, mengandalkan akal pribadi tanpa mengandalkan khazanah keilmuan yang telah diwariskan oleh para ulama Ahlus Sunnah, ia ibarat kapal yang kehilangan kompas di tengah lautan. Tujuan akan menjadi semakin jauh, bukan semakin dekat.
Hasil akhirnya sangat jelas: Jama’ah adalah persatuan di atas kebenaran. Sunnah mengajarkan persatuan, bukan perpecahan.
Para Sahabat: Sumber Otentik Kebenaran
Landasan yang menjadi dasar tegaknya jama’ah adalah para Sahabat Nabi Muhammad ﷺ semoga Allah merahmati mereka seluruhnya. Mereka adalah Ahlus Sunnah wal Jama’ah kelompok yang paling tahu, paling mengerti, dan paling otentik dalam memahami Islam, karena mereka belajar langsung dari sumber aslinya.
Inilah mengapa ulama salaf selalu menegaskan: “Barang siapa tidak mengambil agama dari mereka, maka sungguh ia telah sesat dan berbuat bid’ah.” Setiap bid’ah adalah kesesatan, dan kesesatan beserta para pengikutnya berada di neraka.
Sidna Umar Radhiyallahu anhu, sahabat besar yang hidup pada masa transisi penghapusan Sunnah-Sunnah kesulitan, dengan bijak berkata:
“Tidak ada alasan bagi seseorang dalam kesesatan yang ia tempuh sementara ia mengiranya sebagai petunjuk, dan tidak pula dalam petunjuk yang ia tinggalkan karena ia mengiranya sebagai kesesatan. Sungguh perkara-perkara agama telah dijelaskan, hujjah telah ditegakkan, dan alasan telah terputus,”
Perkataan ini mengandung hikmah yang sangat dalam. Pada era Sahabat, syariat telah disempurnakan. Tidak ada celah untuk ijtihad yang keluar dari batas-batas yang telah ditetapkan oleh Nabi ﷺ dan dipahami oleh para Sahabat. Zaman sudah berubah, tetapi kebenaran tetap kebenaran.
Kesempurnaan Agama di Tangan Kita
Hal itu karena Sunnah dan Jama’ah telah menyempurnakan seluruh urusan agama, menjelaskannya kepada manusia dengan jelas dan tuntas. Kewajiban kita generasi Muslim abad ke-21 adalah mengikuti jejak yang telah digariskan dengan sangat jelas ini.
Kita tidak perlu menemukan Islam baru. Kita tidak perlu mengadaptasi Islam sesuai dengan selera zaman. Kita hanya perlu kembali ke Islam yang autentik: Islam sebagaimana yang dipahami dan diamalkan oleh Nabi Muhammad ﷺ dan para Sahabatnya.
Dalam dunia yang semakin kompleks ini, dengan banyaknya godaan, fitnah, dan doktrin-doktrin yang bertentangan, keselamatan kita hanya terletak pada satu hal: berpegang teguh kepada Al-Qur’an, Sunnah, dan pemahaman para Sahabat.
Semoga Allah memberikan kita taufik untuk memahami agama-Nya dengan benar, mengamalkannya dengan konsisten, dan tetap bersatu dalam jama’ah atas kebenaran hingga akhir hayat.
Wallahu mustā’ān (Allah adalah Penolong Kami)
Tulisan ini merupakan penguraian dari karya Syarhu Sunnah Lil Barbahari, salah satu literatur klasik Islam yang tetap relevan untuk kehidupan Muslim modern.