Khutbah Jum'at

Khutbah Jum’at 513 | Umat Islam: Banyak Jumlahnya Tetapi Lemah?

Mencari Akar Masalah dan Jalan Kebangkitan dari Hadis Tsauban

Dikeluarkan Oleh Sariyah Dakwah Jama’ah Ansharu Syari’ah

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ، قَدْ أَدَّى اْلأَمَانَةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ.

اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ.

قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. وَقَالَ: وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.

وَقَالَ النَّبِيُ : اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ. (رواه الترمذي، حديث حسن).

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan para sahabatnya.

Khotib berwasiat kepada diri sendiri khususnya dan jama’ah sekalian marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, semoga kita akan menjadi orang yang istiqamah sampai akhir hayat kita.

Hadirin yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا… بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ… قَالُوا: وَمَا الْوَهَنُ؟ قَالَ: حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ. *

“Bangsa-bangsa hampir saja menyerbu kalian sebagaimana orang-orang memperebutkan makanan dalam satu hidangan.” Para sahabat bertanya, “Apakah karena jumlah kami sedikit?” Rasulullah ﷺ menjawab, “Bahkan kalian pada saat itu berjumlah banyak, tetapi kalian seperti buih yang dibawa arus.” Mereka bertanya, “Apa itu wahan?” Beliau menjawab, “Cinta dunia dan takut mati.” (HR. Abu Dawud).

Hadis shohih ini seakan mengajak kita bercermin: mengapa umat Islam yang jumlahnya besar, masjidnya ada di mana-mana, pesantrennya berkembang, dan banyak pula yang memiliki ilmu, pekerjaan, usaha, serta kemampuan, tetapi dalam banyak keadaan masih lemah? Mengapa mudah diadu domba, korupsi masih terjadi, kejujuran terasa semakin mahal, sebagian anak kehilangan arah, dan kita sering pandai berbicara tentang perubahan tetapi sulit mengubah diri sendiri?

Jangan-jangan persoalan kita bukan karena jumlah yang sedikit, tetapi kualitas manusia yang belum sebanding dengan jumlahnya. Inilah yang harus kita renungkan, umat tidak cukup hanya menjadi besar dalam jumlah, tetapi harus menjadi kuat dalam iman, ilmu, akhlak, amanah, disiplin, persatuan, dan kesungguhan berjuang di jalan Allah.

Jamaah yang dimuliakan Allah,

Perhatikan baik-baik, Rasulullah ﷺ tidak mengatakan, “Kalian sedikit,” tetapi beliau mengatakan كُثْرٌ — “kalian banyak.” Namun banyaknya jumlah tidak otomatis melahirkan kekuatan. Buih di sungai jumlahnya banyak, tetapi ketika air bergerak, buih hanya ikut terbawa dan tidak mampu menentukan arah.

Demikian pula umat yang besar jumlahnya dapat menjadi lemah ketika kehilangan iman, karakter, ilmu, disiplin, dan kesungguhan dalam berjuang. Lalu apa akar masalahnya?

Rasulullah ﷺ menjawab:

حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ

“Cinta dunia dan takut mati,”.

Ini bukan berarti memiliki rumah, kendaraan, pekerjaan, usaha, jabatan, atau harta itu haram, tetapi masalahnya muncul ketika dunia menguasai hati dan akhirat dilupakan; ketika keuntungan lebih penting daripada kejujuran, jabatan lebih penting daripada amanah, kenyamanan lebih penting daripada kewajiban, dan kecintaan kepada dunia membuat kita takut kehilangan sesuatu hingga enggan memperjuangkan kebenaran. Kita sibuk mengejar kehidupan yang sementara, tetapi lupa mempersiapkan kehidupan yang kekal.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Dari sinilah kita menemukan bahwa persoalan umat bukan hanya masalah ekonomi, politik, pendidikan, atau teknologi, tetapi lebih mendasar lagi adalah masalah manusianya.

Kekayaan tanpa amanah dapat melahirkan korupsi, teknologi tanpa ilmu dan akhlak dapat menjadi alat kerusakan, jabatan tanpa rasa takut kepada Allah dapat melahirkan kezaliman, dan ilmu tanpa iman belum tentu menghasilkan kebaikan. Karena itu Allah berfirman:

إِنَّ اللهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra‘d: 11).

Maka jangan hanya menunggu keadaan berubah, tetapi mulailah mengubah diri, dan Islam telah memberikan jalan yang jelas: iman untuk membenahi hati, hijrah untuk memperbaiki arah hidup, dan jihad untuk bersungguh-sungguh mewujudkan kebaikan.

Pertama: Iman – Membenahi Hati

Iman adalah akar; jika akarnya kuat, pohon akan tumbuh kokoh dan menghasilkan buah yang baik, tetapi jika akarnya rusak, buahnya pun akan rusak. Iman bukan sekadar mengatakan, “Saya Muslim,” tetapi keyakinan yang hidup dalam hati dan kemudian mengubah cara kita berpikir, bersikap, dan menjalani kehidupan.

Orang yang beriman tidak hanya bertanya, “Apakah ini menguntungkan?”, tetapi juga, “Apakah ini halal?”; bukan hanya bertanya, “Apakah manusia menyukai?”, tetapi juga, “Apakah Allah ridha?” Itulah iman yang membuat seseorang merasa diawasi Allah meskipun tidak ada manusia yang melihat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

الْإِيمَانُ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“Iman adalah engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, serta beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk” (HR. Muslim).

Karena itu, membangun iman berarti membangun kembali hubungan kita dengan Allah: memperbaiki shalat, kejujuran, amanah, hubungan dengan orang tua, cara mencari nafkah, dan cara mendidik anak, karena kebangkitan umat pada akhirnya dimulai dari manusia yang imannya hidup dan tercermin dalam kehidupannya.

Kedua: Hijrah – Meninggalkan Keburukan

Setelah hati diperbaiki dengan iman, langkah berikutnya adalah hijrah, yaitu berpindah dari keadaan yang tidak Allah sukai menuju keadaan yang Allah sukai. Rasulullah ﷺ bersabda:

وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللهُ عَنْهُ

“Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah” (HR. Bukhari).

Karena itu, hijrah tidak selalu berarti berpindah tempat atau kota, tetapi dapat dimulai dari rumah dan kehidupan kita sendiri, yang dahulu meninggalkan shalat, kini menjaga shalat, yang dahulu suka berdusta, kini belajar jujur, yang dahulu gemar ghibah, kini menjaga lisan, yang dahulu malas belajar, kini rajin menuntut ilmu, yang dahulu boros, kini belajar mengelola harta, dan yang dahulu menggunakan HP tanpa batas, kini mengarahkannya untuk ilmu dan kemanfaatan.

Itulah hijrah: perubahan nyata dari kebiasaan yang buruk menuju kehidupan yang lebih baik. Jika iman memperbaiki hati, maka hijrah memperbaiki arah hidup.

Ketiga: Jihad – Bersungguh-sungguh Membangun Kebaikan

Tetapi iman dan hijrah tidak cukup hanya menjadi niat, karena keduanya membutuhkan kesungguhan dalam tindakan, dan itulah makna jihad. Allah berfirman,

وَجَٰهِدُوا۟ فِى ٱللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِۦ ۚ هُوَ ٱجْتَبَىٰكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى ٱلدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

“Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan,” (QS. Al-Hajj: 78).

Jihad berarti bersungguh-sungguh di jalan Allah dalam menjalankan kebaikan dan menghadapi keburukan sesuai tuntunan syariat. Seorang ayah berjihad dengan sungguh-sungguh mencari nafkah yang halal, seorang ibu berjihad dengan mendidik anak-anaknya, seorang guru berjihad dengan mendidik murid secara amanah, seorang pemuda berjihad dengan melawan hawa nafsu dan menjaga diri dari maksiat, seorang pengusaha berjihad dengan membangun usaha yang halal dan bermanfaat, dan seorang dai berjihad dengan terus mengajak manusia kepada kebaikan dengan ilmu dan hikmah.

Jadi, jihad bukan sekadar kata besar, tetapi kesungguhan nyata yang diwujudkan dalam amal dan pengorbanan untuk menegakkan kebaikan serta mencegah keburukan secara benar dan sesuai syariat; bukan alasan untuk melakukan teror, kezaliman, atau kekerasan terhadap orang yang tidak bersalah.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Kalau kita ringkas, jalan keluarnya sebenarnya sangat sederhana: iman berarti membenahi hati, hijrah berarti meninggalkan keburukan, dan jihad berarti bersungguh-sungguh membangun kebaikan. Dari sinilah kita memahami bahwa kebangkitan umat tidak dimulai dari orang lain, tetapi dimulai dari diri kita sendiri.

Kebangkitan itu bisa terlihat dari seorang ayah yang kembali menjaga shalatnya, seorang ibu yang sungguh-sungguh mendidik anaknya, seorang pemuda yang menjaga kehormatan dirinya, seorang pedagang yang jujur dalam usahanya, seorang pejabat yang amanah dalam menjalankan tugasnya, seorang guru yang ikhlas mendidik, dan seorang dai yang terlebih dahulu mengamalkan apa yang disampaikannya.

Ketika manusia berubah, keluarga akan berubah; ketika keluarga berubah, masyarakat akan berubah; dan ketika masyarakat berubah, bangsa pun akan berubah. Karena itu, jangan hanya bertanya, “Mengapa umat Islam lemah?” tetapi tanyakan kepada diri kita, “Apa yang harus saya perbaiki?” Jangan hanya menunggu umat berubah, tetapi jadilah bagian dari perubahan itu.

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Hadis riwayat Tsauban mengajarkan kepada kita bahwa banyak belum tentu kuat. Kekuatan umat bukan semata-mata terletak pada jumlah yang besar, tetapi pada kualitas manusianya: iman yang kokoh, ilmu yang luas, akhlak yang mulia, kerja keras, persatuan, dan manfaat yang diberikan kepada kehidupan.

Karena itu, kebangkitan umat harus dimulai dari diri kita masing-masing. Iman dengan mendekatkan hati kepada Allah, hijrah dengan meninggalkan dosa dan kebiasaan buruk, serta jihad dengan bersungguh-sungguh membangun kebaikan dalam setiap bidang kehidupan. Kita tidak perlu menunggu menjadi orang besar untuk berbuat besar.

Mulailah dari apa yang mampu kita lakukan: perbaiki diri, perbaiki keluarga, tunaikan pekerjaan dengan amanah, dan hadirkan kebaikan di tengah lingkungan. Sebab umat yang kuat lahir dari pribadi-pribadi yang kuat, dan perubahan besar selalu dimulai dari perubahan kecil yang dilakukan dengan iman, kesungguhan, dan istiqamah.

Semoga dari langkah kecil yang dilakukan dengan ikhlas, Allah membangun perubahan yang besar bagi umat.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

جَمَاعَةَ الْجُمُعَةِ، أَرْشَدَكُمُ اللهُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَيَرْزُقُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنِ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ. رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِن قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَجَنَّتَكَ وَنَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِيْ سَبِيْلِكَ. اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ.

اَللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَلْقِ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ. اَللَّهُمَّ عَذِّبْهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا وَحَسِّبْهُمْ حِسَابًا ثَقِيْلاً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Download file PDF:

 

Lihat lebih banyak

Artikel terkait

Back to top button