Artikel

Jangan Menunggu Sempurna untuk Berbuat Baik

Oleh : Oji Bahrul ulum Adi S.Pd.

Dalam khazanah keilmuan Islam, terdapat sebuah kaidah yang sederhana namun sarat makna:

مَا لَا يُدْرَكُ كُلُّهُ لَا يُتْرَكُ كُلُّهُ

“Apa yang tidak bisa diraih seluruhnya, jangan ditinggalkan seluruhnya,”

Kaidah ini memang bukan hadis Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa Sallam namun maknanya sejalan dengan firman Allah Ta‘ala:

(فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُم)

“Bertakwalah kepada Allah semampu kalian,” (QS. At-Taghābun: 16).

Islam sejak awal tidak dibangun di atas tuntutan kesempurnaan manusia, melainkan di atas kesungguhan yang realistis. Allah tidak meminta hamba-Nya menjadi sempurna, tetapi meminta mereka untuk berusaha sesuai kemampuan.

Ketika Idealitas Menjadi Penghalang

Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kebaikan justru tertunda bukan karena tidak tahu, melainkan karena ingin terlalu ideal. Ada orang yang enggan belajar agama karena merasa belum siap mengamalkan semuanya. Ada pula yang menjauh dari majelis ilmu karena takut tidak paham atau merasa tertinggal.

Sikap ini sekilas tampak mulia, namun sejatinya berbahaya. Menunggu sempurna sebelum berbuat baik sering kali berujung pada tidak berbuat apa-apa sama sekali.

Padahal, kebaikan tidak dituntut hadir dalam bentuk yang sempurna, tetapi dalam bentuk yang mungkin dilakukan hari ini.

Majelis Ilmu dan Langkah Kecil

Bermajelis ilmu adalah contoh paling nyata dari kaidah ini. Tidak ada seorang pun yang mampu memahami seluruh ilmu dalam satu duduk. Bahkan para ulama besar pun tumbuh melalui proses panjang, mendengar, mencatat, keliru, lalu memperbaiki.

Hadir meski hanya memahami satu faedah tetap bernilai di sisi Allah. Mendengar meski belum mampu mengamalkan seluruhnya tetap merupakan langkah awal perubahan. Sebab ilmu memang mendahului amal, sebagaimana fajar mendahului terbitnya matahari.

Majelis ilmu bukan tempat pamer kecerdasan, melainkan tempat menanam benih. Tidak semua benih tumbuh bersamaan, tetapi benih yang tidak ditanam pasti tidak akan pernah tumbuh.

Islam yang Memudahkan, Bukan Memberatkan

Prinsip ini juga tampak jelas dalam syariat. Dalam shalat, orang yang tidak mampu berdiri diberi keringanan untuk duduk, bahkan berbaring. Yang gugur hanyalah yang tidak mampu, bukan seluruh ibadah.

Demikian pula dalam kebaikan dan ilmu. Yang bisa dilakukan, kerjakan. Yang belum mampu, niatkan dan usahakan perlahan. Islam tidak menghendaki hamba yang patah sebelum berjalan, tetapi hamba yang melangkah meski tertatih.

Penutup

Kesungguhan Lebih Dicintai Allah

Kaidah mā lā yudraku kulluhu lā yutraku kulluhu mengajarkan optimisme yang menenangkan jiwa. Bahwa langkah kecil yang konsisten lebih dicintai Allah daripada niat besar yang tak pernah diwujudkan.

Barang siapa terus melangkah, meski pelan, sesungguhnya ia sedang mendekat. Sebaliknya, siapa yang berhenti karena menunggu sempurna, bisa jadi tak pernah sampai.

Maka jangan tinggalkan kebaikan hanya karena belum mampu melaksanakannya secara utuh. Sebab Allah menilai kesungguhan, bukan kesempurnaan.
Wallāhul musta‘ān

Lihat lebih banyak

Artikel terkait

Back to top button