Khutbah Jum’at Edisi 469 | Krisis Empati di Era Digital dan Bahaya Hati yang Mati Rasa
Dikeluarkan Oleh Sariyah Dakwah Jama’ah Ansharu Syari’ah
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لاَ نَبِيَّ وَلاَ رَسُوْلَ بَعْدَهُ، قَدْ أَدَّى اْلأَمَانَةَ وَبَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَنَصَحَ اْلأُمَّةَ وَجَاهَدَ فِيْ سَبِيْلِهِ حَقَّ جِهَادِهِ.
اَلصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا الْمُصْطَفَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ سَلَكَ سَبِيْلَهُ وَاهْتَدَى بِهُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.رَبِّ اشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْ لِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِيْ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. وَقَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِّنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيْرًا وَنِسَآءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِيْ تَسَآءَلُوْنَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا. وَقَالَ: وَتَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.
وَقَالَ النَّبِيُ : اِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بَخُلُقٍ حَسَنٍ. (رواه الترمذي، حديث حسن).
Jamaah Jum’at hamba Allah yang dirahmati Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarga, dan para sahabatnya.
Khotib berwasiat kepada diri sendiri khususnya dan jama’ah sekalian marilah kita bertaqwa kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, semoga kita akan menjadi orang yang istiqamah sampai akhir hayat kita.
Ma’asyirol Muslimin Rahimani Wa Rahimukumullah…
Hari ini, kita hidup di sebuah zaman yang disebut “era digital”. Sebuah era di mana informasi mengalir tanpa batas, dunia terasa dalam genggaman, dan interaksi sosial tidak lagi terhalang oleh ruang dan waktu. Namun, di balik segala kemudahan ini, ada sebuah bahaya laten yang mengancam inti kemanusiaan kita. Bahaya itu adalah krisis empati; sebuah kondisi di mana hati kita perlahan-lahan menjadi tumpul dan mati rasa.
Kita mungkin hadir secara fisik, namun hati dan pikiran kita tenggelam dalam layar gawai. Kita melihat penderitaan, tapi kita hanya scroll melewatinya. Inilah tema khutbah kita hari ini: Krisis Empati di Era Digital: Bahaya Hati yang Mati Rasa.
Ma’asyiral Muslimin,
Ada beberapa tahapan yang menjelaskan bagaimana era digital ini dapat mematikan hati kita:
1. Derasnya Informasi yang Membuat Hati Tidak Lagi Bergetar
Setiap hari, mata kita disuguhi ribuan konten. Berita kecelakaan, video penderitaan, kabar duka, bercampur aduk dengan konten hiburan, lawakan, dan berita bohong (hoaks) dalam hitungan detik.
Ketika sesuatu yang seharusnya menggetarkan jiwa seperti kemiskinan, peperangan, atau musibah disajikan berulang kali dan berselang-seling dengan hiburan, hati kita mengalami desensitisasi. Hati kita menjadi kebal. Pemandangan tragis tidak lagi menggerakkan kita untuk berbuat atau bahkan mendoakan.
Inilah yang Allah ingatkan tentang bahaya hati yang mengeras. Allah berfirman tentang Bani Israil, namun ini menjadi pelajaran bagi kita semua:
ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُم مِّنۢ بَعْدِ ذَٰلِكَ فَهِىَ كَٱلْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً ۚ وَإِنَّ مِنَ ٱلْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ ٱلْأَنْهَٰرُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ ٱلْمَآءُ ۚ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ ٱللَّهِ ۗ وَمَا ٱللَّهُ بِغَٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
Artinya: “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan,” (QS. Al-Baqarah: 74).
Hati yang mati rasa lebih keras dari batu. Karena batu, kata Allah, masih bisa terbelah dan memancarkan air. Tapi hati yang telah mati rasa, ia tidak tersentuh oleh nasihat, tidak juga tergerak oleh penderitaan sesama. Akibatnya, kita menjadi egois, kurang peka terhadap penderitaan atau perspektif orang lain, dan kehilangan rahmah (kasih sayang) karena tidak lagi terlatih untuk melihat dunia dari kacamata yang berbeda.
kita hanya mau mendengar apa yang kita suka dan berinteraksi dengan yang sependapat. Kita menjadi semakin egois, sibuk dengan dunia kita sendiri.
Kita lupa bahwa inti dari ajaran Islam adalah kasih sayang. Jika rasa iba, peduli, dan belas kasihan sudah tidak ada dalam diri kita, maka itu adalah pertanda bahaya besar. Al-Baghowi berkata :
يَبِسَتْ وَجَفَّتْ، جَفَافُ الْقَلْبِ: خُرُوْجُ الرَّحْمَةِ وَاللِّيْنِ عَنْهُ
“Yaitu hati kalian kering, dan keringnya hati dengan keluarnya rahmat dan kelembutan darinya”.
Dan hal ini merupakan tanda kesengsaraan, Nabi shalallahu alaihi wa Sallam bersabda :
لاَ تُنْزَعُ الرَّحْمَةُ إِلاَّ مِنْ شَقِيٍّ
“Tidaklah dicabut rahmat kecuali dari orang yang sengsara” (HR Abu Dawud).
Na’udzubillah. Jika kita tidak lagi peduli dengan tetangga yang kesusahan, dengan saudara kita yang menderita, atau bahkan dengan orang tua kita yang duduk di sebelah kita namun kita sibuk dengan gawai, kita harus khawatir. Jangan-jangan, kita sedang berjalan menuju kecelakaan (celaka) karena rahmah telah dicabut dari hati kita.
2. Lisan Digital (Jari) Lebih Tajam dari Lisan Nyata
Krisis empati tidak hanya membuat kita pasif (tidak peduli), tapi juga membuat kita aktif menyakiti. Di dunia nyata, kita mungkin ragu untuk mencela atau memaki orang lain. Tapi di dunia maya, di balik akun anonim atau di dalam kolom komentar, orang begitu mudah menghujat, mem-bully, menyebar fitnah, dan mengadu domba.
Jari-jemari kita telah menjadi “lisan digital” kita. Padahal, Rasulullah ﷺ telah memberikan definisi yang jelas tentang siapa seorang Muslim itu:
«الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ»
“Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari (bahaya) lisan dan tangannya.” (HR. Al-Bukhari).
Di zaman ini, makna “tangan” (يَدِهِ) menjadi sangat relevan. Tangan kita yang mengetik status, yang membagikan berita, yang memberikan komentar. Sudahkah orang lain selamat dari jari-jemari kita? Atau jangan-jangan, jari kita telah melukai ribuan orang, menyebar dosa jariyah yang tak terhitung?
Hadirin sidang Jumat yang berbahagia,
Lalu, bagaimana cara kita menghidupkan kembali hati yang mulai mati rasa ini?
3. Hati Akan Hidup dengan Dzikir (Mengingat Allah)
Obat dari segala kegelisahan dan kekerasan hati adalah kembali kepada Pemilik hati itu sendiri, Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita tidak bisa hanya melakukan “detoks digital” (berhenti main medsos) tanpa mengisi kekosongan itu dengan “nutrisi spiritual”.
Gunakanlah gawai kita untuk berdzikir. Bacalah Al-Quran, dengarkan kajian, bershalawat. Ketika jari kita ingin mengetik keburukan, tahan, dan ucapkan istighfar. Ketika melihat nikmat, ucapkan Alhamdulillah. Ketika melihat musibah, ucapkan Inna lillahi.
Allah menjamin ketenangan hati bagi mereka yang mengingat-Nya:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Dzikir inilah yang akan “mengkalibrasi” ulang hati kita. Ia akan melembutkan hati yang keras dan membuatnya kembali peka terhadap kebenaran.
4. Empati adalah Identitas Umat Muhammad ﷺ
Jika hati sudah hidup dengan dzikir, maka ia akan memancarkan rahmah dan empati. Inilah identitas sejati kita sebagai umat Nabi Muhammad ﷺ. Beliau diutus sebagai rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam). Maka, kita pun harus menjadi penebar rahmat(kasih sayang).
Rasulullah ﷺ menegaskan identitas ini dalam sabdanya:
لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيْرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيَعْرِف لِعَالِمِنَا حَقَّهُ
“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang tua dan tidak menyayangi yang muda dari kami serta tidak mengenal hak orang alim(guru/orang berilmu) dari kami.” (Shahih al-Jami’, hadits no. 5443, hadits hasan).
Pernyataan “bukan golongan kami” adalah peringatan yang sangat keras. Artinya, jika kita kehilangan empati, kita terancam kehilangan identitas kita sebagai umat Muhammad ﷺ.
Maka, di era digital ini: Sayangi yang lebih muda: Jangan bully mereka di media sosial. Hormati yang lebih tua (atau yang berbeda pendapat): Jangan caci maki mereka di kolom komentar.
Gunakan media digital kita untuk menyebarkan kasih sayang, bukan kebencian. Untuk berbagi ilmu, bukan fitnah. Untuk menyambung silaturahmi, bukan memutusnya.
Ma’asyiral Muslimin,
Sekali lagi, marilah kita bertakwa kepada Allah. Pada khutbah kedua ini, khatib ingin menegaskan: Era digital adalah sebuah keniscayaan. Teknologi adalah alat yang netral. Gawai di tangan kita bisa menjadi pemberat timbangan kebaikan, atau sebaliknya, menjadi jurang yang menjerumuskan kita ke dalam dosa jariyah dan hati yang mati rasa.
Jangan biarkan teknologi mengendalikan hati kita. Tapi kitalah yang harus mengendalikan teknologi dengan iman, takwa, dan empati. Gunakan ia untuk berdakwah, membantu sesama, dan mempererat ukhuwah.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
جَمَاعَةَ الْجُمُعَةِ، أَرْشَدَكُمُ اللهُ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يَجْعَل لَّهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا وَيَرْزُقُهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ، وَمَن يَتَّقِ اللهَ يُعْظِمْ لَهُ أَجْرًا.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَاأَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللَّهُمَ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنِ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ وَزَمَانٍ.
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِّلَّذِيْنَ ءَامَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ اْلأَبْرَارِ. رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا، رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِن قَبْلِنَا، رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَالاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ، وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنتَ مَوْلاَنَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَا نَسْأَلُكَ رِضَاكَ وَجَنَّتَكَ وَنَسْأَلُكَ شَهَادَةً فِيْ سَبِيْلِكَ. اَللَّهُمَّ أَهْلِكِ الْكَفَرَةَ وَالْمُبْتَدِعَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ.
اَللَّهُمَّ شَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَمَزِّقْ جَمْعَهُمْ وَزَلْزِلْ أَقْدَامَهُمْ وَأَلْقِ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الرُّعْبَ. اَللَّهُمَّ عَذِّبْهُمْ عَذَابًا شَدِيْدًا وَحَسِّبْهُمْ حِسَابًا ثَقِيْلاً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.
Download file PDF: