Artikel

Menjaga Iman di Zaman Fitnah

Fitnah bukan hanya bermakna ujian, tetapi juga segala hal yang dapat menggoyahkan keimanan, menjauhkan dari kebenaran, dan menjerumuskan ke dalam kesesatan.

Oleh: Ustadz Abu Latif
Katibah Dakwah Ansharu Syariah Jakarta

Di tengah derasnya arus informasi, perubahan sosial, dan godaan dunia yang semakin halus, kaum muslimin hidup pada masa yang oleh para ulama disebut sebagai zaman fitnah. Fitnah bukan hanya bermakna ujian, tetapi juga segala hal yang dapat menggoyahkan keimanan, menjauhkan dari kebenaran, dan menjerumuskan ke dalam kesesatan.

Rasulullah shalallahu alaihi wa Sallam telah memperingatkan bahwa akan datang masa ketika seseorang beriman di pagi hari namun kafir pada sore harinya. Sebuah gambaran yang mengerikan tentang cepatnya perubahan iman di masa fitnah.

Dari Abu Hurairah ra., Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam bersabda:

بَادِرُوا بِالأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ…

“Bersegeralah melakukan amalan shalih sebelum datang fitnah seperti potongan malam yang gelap. Seseorang pada pagi hari dalam keadaan beriman, namun pada sore hari dalam keadaan kafir; atau sore hari dalam keadaan beriman, namun pagi harinya dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya demi sedikit keuntungan dunia.” (HR. Muslim).

Ragam Fitnah di Zaman Ini

Fitnah Syahwat
Pergaulan bebas, pornografi, kemewahan berlebih, hingga gaya hidup hedonis menjadi pemandangan yang begitu mudah dijumpai, terutama di dunia digital. Segala konten yang mengundang syahwat tersedia tanpa batas, sehingga mengharuskan seorang muslim untuk lebih waspada.

Fitnah Syubhat
Pemikiran sesat, relativisme moral, dan keraguan terhadap ajaran agama seperti pluralisme, moderasi agama yang kebablasan, sekulerisme, dan liberalisme menjadi tantangan besar. Ide-ide itu disebarkan melalui media sosial, televisi, hingga mimbar-mimbar. Tanpa pertolongan Allah, sulit bagi seseorang selamat dari fitnah ini. Wallahu al-musta‘an.

Fitnah Informasi
Hoaks, provokasi, dan konten merusak tersebar dengan cepat di media sosial, sering kali dibuat hanya demi viral dan keuntungan materi. Dampaknya sangat besar pada kondisi hati, terutama bagi anak muda yang masih labil dan mudah terpengaruh.

Fitnah Media Sosial
Jika tidak digunakan dengan bijak, media sosial dapat menumbuhkan riya, pamer, mengejar pujian, serta mengikis rasa malu dan syukur. Siapa pun yang terjun dalam dunia digital wajib terus meluruskan niat: menebar kebaikan, mempengaruhi orang lain untuk berbuat baik, dan mengambil manfaat dari para sosok saleh yang mengisinya.

Semua bentuk fitnah ini menuntut seorang muslim untuk sungguh-sungguh menjaga keimanannya sebuah jihad melawan hawa nafsu.

Cara Menjaga Iman di Zaman Fitnah

1. Kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah

Pondasi utama penjaga iman adalah berpegang teguh pada wahyu Allah dan tuntunan Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam.
Allah berfirman:

فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِي أُوحِيَ إِلَيْكَ

“Maka berpegang teguhlah kepada apa yang telah diwahyukan kepadamu.” (QS. Az-Zukhruf: 43).

Banyak orang tersesat karena jauh dari Al-Qur’an dan Sunnah, serta lebih banyak mengikuti hawa nafsu dan opini manusia. Karena itu, seorang muslim perlu terus meng-upgrade ilmunya melalui majelis taklim yang mengkaji Al-Qur’an, Sunnah Nabi, dan cara mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

2. Menjaga Lingkungan Pergaulan

Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam bersabda:

“Seseorang tergantung pada agama temannya. Maka hendaklah kalian memperhatikan dengan siapa kalian berteman.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi).

Di zaman penuh fitnah, teman sangat berpengaruh. Teman baik menuntun kepada kebaikan, sedangkan teman buruk melemahkan iman. Di akhirat, banyak orang menyesal karena salah memilih teman:

 

وَيَوْمَ يَعَضُّ الظَّالِمُ عَلٰى يَدَيْهِ يَقُوْلُ يٰلَيْتَنِى اتَّخَذْتُ مَعَ الرَّسُوْلِ سَبِيْلًا ﴿٢٧

“Dan (ingatlah) pada hari (ketika) orang-orang zalim menggigit dua jarinya, (menyesali perbuatannya) seraya berkata, “Wahai! Sekiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama Rasul,” ( al Furqon 27 ).

يٰوَيْلَتٰى لَيْتَنِيْ لَمْ اَتَّخِذْ فُلَانًا خَلِيْلًا ﴿٢٨

“Wahai, celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman akrab(ku),” ( Al Furqon 28 ).

3. Memperbanyak Doa

Tidak ada yang mampu memantapkan hati kecuali Allah. Bahkan Nabi Shalallahu alaihi wa Sallam yang maksum sering berdoa:

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.”

Jika Nabi saja memohon keteguhan hati, bagaimana dengan kita yang penuh kelemahan? Wallahu al-musta‘an.

4. Menguatkan Ibadah dan Amal Shalih

Ibadah adalah nutrisi bagi iman. Semakin banyak ibadah shalat, tilawah, zikir, sedekah, atau amalan kecil seperti senyum semakin kuat iman seseorang.

Para ulama mengatakan:
“Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.”

Karena itu, perbanyaklah amal meski kecil yang dilakukan secara konsisten. Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam bersabda:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
“أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ”

“Amal yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus, meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim).

5. Bersabar dan Menahan Diri

Fitnah sering membuat seseorang tergesa-gesa, salah mengambil keputusan, atau terbawa emosi. Allah memerintahkan kesabaran sebagai perisai.

وَاصْبِرْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ

“Bersabarlah, sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Hud: 115).

Dan karena sabar urusan akan berhasil sesuai yang kita inginkan, walau kadang memakan waktu yang lama. Tapi yang lebih dahsyat adalah pahala sabar itu sendiri, yakni memperoleh pahala yang tiada batasnya.

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang sabar akan diberikan pahala tanpa batas.” (QS. Az-Zumar: 10).

Penutup

Menjaga iman di zaman fitnah adalah perjuangan sepanjang hayat. Namun Allah menjanjikan jalan keluar bagi mereka yang bersungguh-sungguh.

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, pasti Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah benar-benar bersama orang-orang yang berbuat kebaikan,” (QS. Al-‘Ankabut: 69).

Fitnah yang besar bukan alasan untuk menyerah, tetapi menjadi momentum untuk semakin mendekat kepada Allah.

Semoga Allah menjaga kita, keluarga kita, dan keturunan kita dari fitnah yang tampak maupun tersembunyi. Aamiin.

Wallahu al-musta‘an.

Lihat lebih banyak

Artikel terkait

Check Also
Close
Back to top button