Masihkah Ada Malu pada Dirimu?
“Sesungguhnya sebagian dari apa yang telah diketahui oleh manusia dari pesan kenabian yang terdahulu: Jika kamu tak punya malu, maka berbuatlah sesukamu!” (HR. Al Bukhari).
Oleh: Ustadz Budi Eko Prasetiya, SS
Amir Jamaah Ansharu Syariah Mudiriyah Tapal Kuda
Salah satu sifat yang harus kita miliki adalah rasa malu. Sifat malu akan mendatangkan keberkahan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Tentunya, yang dimaksud bukanlah malu akan berbuat kebaikan. Bukanlah malu untuk bersedekah dan membantu urusan kaum muslimin. Juga bukan pula malu untuk berdakwah dan amar ma’ruf nahi munkar. Akan tetapi malu di sini adalah malu untuk berbuat yang tidak baik. Malu untuk berbuat maksiat. Malu tidak memaksimalkan potensi kebaikan yang diberikan Allah untuk perjuangan Islam.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ عقبه بن عمرو الانصاري الْبَدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ، فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ. رَوَاهُ الْبُخَارِي
Diriwayatkan dari Abu Masud Uqbah bin ‘Amr Al Anshari bahwa Nabi bersabda: “Sesungguhnya sebagian dari apa yang telah diketahui oleh manusia dari pesan kenabian yang terdahulu: Jika kamu tak punya malu, maka berbuatlah sesukamu!” (HR. Al Bukhari).
Pelajaran berharga dari hadits tersebut adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umatnya untuk memiliki rasa malu. Beliau memberi sindiran kepada orang-orang yang sudah tidak memiliki rasa malu dalam berbuat keburukan dengan kata “Berbuatlah sesukamu!”.
Meskipun kata tersebut seolah-olah memberikan kebebasan, namun perlu diketahui bahwa kata-kata tersebut merupakan bentuk ketidakpedulian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada orang-orang yang tidak punya rasa malu.
Bukankah tidak dipedulikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah siksaan yang menyakitkan bagi ummatnya?!
Malu merupakan tanda dari keimanan seorang muslim. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Hakim:
اَلْـحَيَاءُ وَاْلإِيْمَانُ قُرِنَا جَمِـيْعًا، فَإِذَا رُفِعَ أَحَدُهُمَا رُفِعَ اْلاَ خَرُ.
“Malu dan iman senantiasa bersama. Apabila salah satunya dicabut, maka hilanglah yang lainnya.”
Malu adalah perisai seorang muslim yang tumbuh karena adanya rasa diawasi oleh Allah subahanu wa ta’ala di setiap waktunya agar setiap tindakannya tidak serampangan. Ia akan malu apabila bermaksiat kepada Allah. Ia akan malu apabila dzalim kepada sesama hamba Allah.
Apabila ia seorang pejabat atau pemimpin suatu organisasi, maka ia akan malu apabila tidak amanah dan menyalahgunakan wewenangnya. Apabila ia seorang yang ‘alim, maka ia akan malu apabila tidak bisa selaras antara ilmu dengan ucapan dan perbuatannya. Apabila ia seorang pedagang, maka ia akan malu apabila gemar berbuat kecurangan dalam jual beli, dan beragam contoh lainnya yang bisa kita jadikan introspeksi (muhasabah).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyuruh sahabat-sahabatnya untuk memiliki rasa malu kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
“Merasa malulah kepada Allah, dengan rasa malu yang sesungguhnya!.” sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada para sahabat.
Mereka pun menjawab, “Alhamdulillah, kami telah melakukannya!”.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun meluruskan sifat malu yang beliau maksud, beliau bersabda:
وَلَيْسَ ذَاكَ، وَلَكِنَّ الاِسْتِحْيَاءَ مِنَ اللهِ حَقَّ الْحَيَاءِ أَنْ تَحْفَظَ الرَّأْسَ وَمَا وَعَى، وَالْبَطْنَ وَمَا حَوَى، وَلِتَذْكُرَ الْمَوْتَ وَالْبِلَى، وَمَنْ أَرَادَ الْآَخِرَةَ تَرَكَ زِيْنَةَ الدُّنْيَا، فَمَنْ فَعَلَ ذلكَ اِسْتَحْيَا مِنَ اللهِ حَقَّ الْحَيَاءِ
“Bukan begitu, tetapi sesungguhnya malu kepada Allah adalah kalian menjaga akal dan pikiran, memelihara perut (dari hal yang diharamkan), serta senantiasa mengingat kematian. Orang yang mengharapkan akhirat akan meninggalkan gemerlapnya dunia, dan orang yang telah melampaui itu telah sungguh malu kepada Allah.”
Bagaimana kita menumbuhkan sifat malu dalam diri kita? Apa saja hal yang dapat menumbuhkan sifat malu kita kepada Allah subhanahu wa ta’ala?
Yang pertama-tama harus kita lakukan adalah “Malu sejak dalam pikiran kita”. Artinya apa pun yang akan kita lakukan, dipikirkan terlebih dahulu maslahatnya dalam perspektif iman. Apabila kita ingin melakukan perbuatan yang buruk, maka semua itu ada konsekuensinya. Baik untuk diri sendiri di kehidupan dunia, atau pun di kehidupan akhirat nanti.
Yang kedua, dengan menjaga setiap asupan yang masuk ke dalam tubuh kita, jangan sampai bersumber dari pekerjaan dan aktivitas yang haram. Sebab nanti akan menjadi darah yang mengalir dalam tubuh kita. Bagaimana mungkin kita beribadah kepada Allah sedangkan di dalam darah kita mengalir sesuatu yang haram?
Yang ketiga adalah sering mengingat kematian. Dengan mengingat kematian akan melahirkan pemahaman bahwa kematian dapat datang setiap saat. Ingat kematian akan menumbuhkan sifat malu berbuat keburukan dan dosa. Siapa yang tahu ajal seseorang? Na’dzu billah, kita berlindung kepada Allah dari dicabutnya nyawa kita, sedangkan kita sedang dalam keadaan yang buruk, kita sedang dalam keadaan jauh dari ketaatan kepada Allah subhanahu wa ta’ala.
Semoga kita menjadi pribadi yang memiliki rasa malu yang berkualitas, terlebih lagi malu kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Dengan menjaga rasa malu kita, kita senantiasa menjaga ketakwaan kita kepada Allah apapun profesi dan jabatan kita dimanapun berada.