ArtikelMuslimah

Menjaga Amanah Merupakan Pilar Kekuatan Jamaah

Oleh: Ustadzah Dessi Wijayanti, ST

Amanah bukan sekadar tugas. Ia adalah titipan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Setiap peran yang kita emban dalam jama’ah sekecil apa pun adalah bagian dari ibadah yang akan ditimbang dengan sangat teliti.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَىٰ أَهْلِهَا

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya…” (QS. An-Nisā’: 58).

Namun, ada satu hal yang perlu kita renungkan bersama. Kadang kita memahami amanah, tetapi belum sungguh-sungguh menjaganya.

Contoh yang sering dianggap sepele adalah terlambat datang dan diam tanpa kabar, menunda tugas dan lalai dalam peran, tidak siap saat liqo’, kajian, atau syuro dan kurang tanggung jawab dalam amanah.

Maka dampaknya adalah waktu terbuang dan program terhambat, semangat melemah dan keberkahan berkurang.

Hal-hal ini sering dianggap biasa.
Padahal, di situlah ujian amanah yang sebenarnya. Sering kali masalahnya bukan pada kemampuan, tapi pada hati, mulai dari niat yang mulai bergeser, amanah tidak lagi dianggap ibadah, kurang menghadirkan rasa diawasi Allah.

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan:

أَلَمْ يَعْلَمْ بِأَنَّ اللَّهَ يَرَىٰ

“Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat?” (QS. Al-‘Alaq: 14).

Di sinilah letak perbaikan sejati bukan hanya pada sistem, tapi pada kesadaran diri. Ini bukan untuk menghakimi, tapi untuk mengingatkan, jangan sampai kita meremehkan sesuatu yang berat di sisi Allah.

Mari bulatkan tekad untuk tepat waktu dan menepati janji, tuntas dalam tugas, jujur dan bertanggung jawab dalam amanah serta siap sebelum waktu dimulai.

Bayangkan jika setiap keterlambatan 10 menit dikumpulkan, berapa banyak waktu jama’ah yang hilang? Padahal waktu adalah amanah. Dan setiap amanah akan dihisab.

Sebagaimana dijelaskan oleh Imam An-Nawawi dalam Riyadhus Shalihin, amanah mencakup seluruh tanggung jawab seorang Muslim, termasuk hal-hal kecil yang sering diabaikan.

Amanah dan Iqomatuddin

Kita memiliki azzam, bahwa kontribusi terbesar kita adalah Iqomatuddin (menegakkan agama Allah), namun, jika dalam diri jama’ah saja amanah masih diabaikan, waktu masih diremehkan dan tugas masih ditunda, bagaimana kita akan memimpin umat, menggugah mereka, mengajak kepada iqomatuddin, bukankah umat melihat contoh nyata, bukan sekadar kata-kata?.

Amal adalah bukti dari pemahaman. Karena iqomatuddin dimulai dari diri, lalu menguat dalam jama’ah, baru menyentuh umat. Hadits tentang Amanah.

Rasulullah Shalallahu alaihi wa Sallam bersabda:

لَا إِيمَانَ لِمَنْ لَا أَمَانَةَ لَهُ

“Tidak beriman (tidak sempurna iman) seseorang yang tidak memiliki amanah.” (HR. Ahmad).

Kita tidak perlu menunggu semua orang berubah. Cukup mulai dari diri Sendiri. Bayangkan jika setiap anggota jama’ah bisa menjaga waktu, menepati janji, menunaikan amanah. Maka insyaAllah jama’ah akan menjadi kuat, solid, dan penuh keberkahan.

Sebagaimana diingatkan para ulama, perbaikan umat dimulai dari perbaikan individu. Dan perbaikan individu dimulai dari kesungguhan menjaga amanah.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita hamba-hamba yang amanah, istiqomah, dan layak memikul tanggung jawab dalam dakwah ini. Aamiin yaa Robb.

Lihat lebih banyak

Artikel terkait

Back to top button