Artikel

Ada Kemuliaan dalam Misi Kemanusiaan

Oleh: Ustadz Budi Eko Prasetiya, SS
Katib Jamaah Ansharu Syariah Mudiriyah Banyuwangi

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا، نَفَّسَ اللهُ عَنهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ القِيَامَةِ. وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ، يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Barangsiapa yang menghilangkan kesusahan dari kesusahan-kesusahan dunia orang mukmin, maka Allah akan menghilangkan kesusahan dari kesusahan-kesusahan hari kiamat,” Hadits Riwayat Muslim.

Kutipan hadits di atas adalah penggugah dan pemantik bagi penulis yang merasa bersyukur dan bangga terlibat dalam misi kemanusiaan bersama mereka yang disebut sebagai Relawan Kemanusiaan. Para Relawan yang saat ini berjibaku dalam misi kemanusiaan di lokasi bencana alam bukanlah sekumpulan pengangguran yang kurang kerjaan, mereka bukan orang sembarangan.

Diantara mereka ada yang pegawai dengan jabatan mengagumkan, wirausaha dan ada juga pengusaha yang memiliki beberapa cabang usaha dengan omset yang fantastis. Bahkan, ada dari mereka yang merupakan manajer di sebuah perusahaan ternama yang kesehariannya harus tampil rapi, berdasi dan kerja di ruangan ber AC. Namun, naluri kemanusiaan lah menggugah mereka untuk meninggalkan kenyamanannya di tempat kerja maupun bersama keluarga tercinta.

Lokasi bencana alam memang bukan lokasi wisata alam. Inilah lokasi ujian iman, yang tak se indah dan senyaman yang diimpikan banyak orang. Terhampar pemandangan puing-puing reruntuhan bangunan yang menyisakan perih dan pedihnya kenangan para penghuninya. Berjubelnya orang tinggal di tenda-tenda darurat, mengantri makanan dengan segala keterbatasannya, melawan kantuk dan bau tak sedap menyengat yang setiap saat datang mendekat. Bertahan dalam ketidakpastian kapan berakhirnya keadaan yang memilukan.

Ada yang selamat dan ada pula yang meninggal yang terjepit reruntuhan. Inilah kondisi berat yang meluluhkan air mata siapapun yang menyaksikan. Ada yang terpisah keluarga dan saudaranya dan tak memungkinkan untuk kembali dipertemukan, kecuali kelak di surga-Nya.

Para relawan ini adalah garda terdepan misi kemanusiaan di negeri warisan ulama ini. Merekalah saat ini pahlawan nyata bagi negeri yang dihuni mayoritas muslim ini. Relawan itu pahlawan nyata yang menjaga agar warga negeri ini tidak hanyut larut dalam lautan kedukaan dan kepedihan.

Mereka yang menjaga dari ulah segelintir oknum yang menjadi penumpang gelap misi kemanusiaan. Yang menjadikan misi kemanusiaan untuk mengeruk keuntungan terselubung ambisi pribadi maupun kepentingan segelintir golongan.

Para relawan pulalah yang punya kontribusi tak ternilai. Merekalah yang menjaga supaya para korban bencana alam tumbuh harapan keimanannya. Harapan yang layak ditumbuhkan dan pantang berputus asa dari keterpurukan. Harapan itu harus dijaga dari serangan hama-hama yang terselubung dalam aksi pemurtadan dan pendangkalan aqidah. Hama yang menjadi fakta berulang bahwa di lokasi bencana alam pun menjadi pertempuran yang tak boleh diremehkan apalagi disepelekan.

Bisa jadi, medan perjuangan saat ini ada dalam misi kemanusiaan. Dengan memberikan bantuan terbaik di lokasi bencana alam guna menghadapi adanya misi-misi terselubung penyebaran faham yang meresahkan kondusifitas masyarakat dengan adanya pemurtadan, LGBTQ, dan faham anti Tuhan dan anti agama.

Selamat berjuang bagi siapapun yang saat ini hatinya tergugah dan membuncah dengan misi mulia di bidang kemanusiaan. Misi yang tak hanya menjadikan bangsa ini punya kehormatan, namun bermartabat dalam keimanan.

Lihat lebih banyak

Artikel terkait

Check Also
Close
Back to top button